Diskusi Dr. Gamal dan Presiden RI ke-3, Pancasila Market Ekonomi

182 views

­­­KABARRAKYAT, JAKARTA – Usai memenuhi undangan dari Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas dua pekan lalu, wirausahawan sosial Indonesia Medika, Dr. Gamal Albinsaid belajar dan memahami prinsip Pancasila Market Ekonomi sesuai arahan Mantan Presiden RI ke-3, Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng saat berdiskusi bersama di Jakarta, (30/12/2017).

Sebelum diskusi berlangsung, Dr. Gamal menceritakan keinginan serta alasannya bertemu sosok tokoh penting yang ia idolakan sejak kecil yakni, BJ, Habibie. Empat belas tahun lalu, dalam kelas bahasa inggris ketika Dr. Gamal bersekolah di SMP Negeri 3 Malang, pernah guru bahasa inggrisnya menanyakan siapa tokoh yang ia kagumi. Dengan bangga ia jawab Pak Habibie. Ada 4 hal yang menjadikannya begitu mengagumi sosok B.J. Habibie yang akrab dipanggil Eyang ini antara lain, kemampuan intelektualitasnya yang memiliki daya saing global, ketulusan cintanya yang begitu mendalam kepada Indonesia, spiritualitas yang menjadi dasar berpijak dan bergerak, dan yang keempat kemampuannya membangun harmoni keluarga dan jiwa pengabdiannya.

1_Diskusi dan foto bersama dr. Gamal Albinsaid dengan BJ. Habibie copy

Momen: Dr. Gamal dan Presiden RI ke-3 BJ. Habibie usai diskusi, beserta tim (Ft. Istimewa)

Mengejar kekuasaan itu sulit, tapi lebih sulit lagi meninggalkan kekuasaan. Kebanyakan politisi berambisi mengejar kekuasaan dan begitu berat sekali melepaskan kekuasaan. Namun, kekuasaan menghampiri Pak Habibie dengan mudahnya dan beliau lepaskan dengan mudahnya. Beliau benar-benar menunjukkan sebuah prinsip yang ia dapatkan dari Profesor  yang ia tempuh tujuh tahun lalu. Ada pesan penting saat tanya jawab pada pertemuan sebelumnya yakni, “If you get scientific position, it’s easy for you to get political position”. Pak Habibie pun pada saat itu mengatakan kepada kami bahwa. “I am survive in politic, but I’m not a politician. I am a technocrat”. Hal itu sesuai dengan apa yang disampaikan Ibu Ainun jika servis terbesarnya untuk Indonesia itu memastikan Habibie menjadi teknokrat, menjadi orang yang berguna. Itu semua menjadikan Dr. Gamal mengagumi karakter, sosok, dan yang paling penting mengikuti dan meyakini gagasan-gagasan kebangsaan BJ. Habibie yang visioner.

Percakapan berlanjut pada diskusi santai tapi serius. Kepada Habibie, Dr. Gamal menanyakan soal bagaimana menyelesaikan masalah kesenjangan di Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun hingga menghantarkan kesenjangan terbesar ke 4 di dunia dengan koefisien gini 0,40. Tidak sampai disitu, Bank Dunia angkat bicara bahwa 61% masyarakat kita memilih pertumbuhan ekonomi yang melambat asalkan kesenjangan juga menurun. “Bayangkan saja tahun ini kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia sama dengan kekayaan 100 juta penduduk Indonesia,” ujar Gamal.

Dari diskusi panjang dengan Eyang Habibie, beliau menyajikan pemikiran yang mangajak rejuvenasi pemikiran ekonomi bangsa dengan menghadirkan jawaban dari berbagai kesenjangan dan permasalahan ekonomi yang ada melalui Pancasila Market Economy (PME) yaitu Ekonomi Pancasila yang berorientasi pada pasar. “Di akhir tahun 2017 ini saya sengaja menghabiskan hari demi hari untuk memahami dan menterjemahkan Prinsip Pancasila Market Economy dalam perspektif saya sesuai arahan Eyang Habibie,” ujarnya.

Diskusi makin menarik ketika beberapa rumusan diutarakan anatara lain, Pancasila Market Economy sangat penting dan diharapkan mampu membangun kesadaran baru, paradigma baru, dan sistem ekonomi baru yang hadir untuk melawan ketidakadilan ekonomi dan kesenjangan yang semakin merajalela dan menjajah keadilan sosial di Indonesia. Selama ini, banyak orang mengasingkan Pancasila dalam sistem ekonomi, terjebak menjadikan Pancasila dalam slogan politik, orasi politik, dan kepentingan politik. Sudah terlalu sering mengatakan Pancasila dalam lisan tapi tidak meneladankan dalam kerja – kerja nyata.

Melalui Pancasila Market Economy, perusahaan yang pro-rakyat akan tumbuh dan perusahaan yang tidak pro-rakyat akan jatuh. Market oriented itu akan menjadikan perusahaan-perusahaan tumbuh dan membangun keberpihakan sosial bukan karena peraturan, tapi karena kebutuhan pasar. Dengan demikian, perusahaan-perusahaan akan menyesuaikan value yang ada dengan value yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Perusahaan tidak lagi hanya berfikir soal profit, tapi juga berfikir soal peran dalam pembangunan sosial di masyarakat.

Pancasila Market Economy ini harus mampu memberikan kesejahteraan dan keadilan di masyarakat. Pancasila Market Economy akan menjadikan tumbuhnya tanggung jawab masyarakat yang beruntung dan sukses untuk membiayai masyarakat yang belum beruntung. Eyang Habibie mencontohkan dengan menanyakan kepada Dr. Gamal mengapa  mengembangkan Indonesia Medika, kemudian beliau melanjutkan “Why? Because you are not blind. You care about them is the beginning of everything,” kata Eyang Habibie saat itu.

Pancasila Market Economy dalam perpektif Ketuhanan Yang Maha Esa menghadirkan sebuah pemahaman bahwa sumber daya dipandang sebagai pemberian Tuhan yang harus dimanfaatkan untuk kehidupan orang banyak.

Pancasila Market Economy dalam konteks Kemanusiaan yang adil dan beradab dapat  diwujudkan dalam implementasi sistem perekonomian yang bukan hanya menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai orientasi pembangunan, tapi memastikan besarnya dampak ekonomi pada tumbuhnya kualitas sumber daya manusia, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pendidikan, kesehatan, pemenuhan-pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam konteks pemerataan, dan perkembangan masyarakat yang berkeadilan. Pancasila Market Economy ini harus mampu mendorong tercapainya sumber daya manusia yang berkualitas, beriman, bertakwa yang dihasilkan dari proses pembudayaan agama dan norma masyarakat. Pancasila Market Economy ini juga harus membentuk masyarakat yang punya kapasitas dan berdaya saing.

Pada implementasi pasar, Pancasila Market Economy_akan mampu berperan menampilkan wajah ekonomi Indonesia yang menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan, seperti kepedulian, mengutaman kepentingan masyarakat diatas kepentingan pribadi dan golongan. Pancasila Market Economy pada konteks ini harus mampu diterjemahkan dalam konteks etika ekonomi, etika bisnis, dan orientasi ekonomi.

Pancasila Market Economy dalam perpektif Persatuan Indonesia adalah ekonomi harus digerakkan dengan semangat kerjasama manusia yang saling menguntungkan, menjadikan kehidupan sesama lebih baik, mempererat persatuan, dan menerapkan prinsip gotong royong. Pancasila dalam konteks Persatuan Indonesia harus dilihat sebagai aktivitas yang menunjukkan tolong-monolong dan menanggung beban hidup dan tanggung jawab bersama-sama.

Pancasila Market Economy dalam konteks kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam perwusyawaratan perwakilan dapat dilihat sebagai adanya sebuah tatanan, kebijakan, dan regulasi yang memberikan dukungan kepada masyarakat ekonomi lemah. Pancasila Market Economy harus membuat peraturan yang mampu mengawal dalam pembangunan pasar berkeadilan yang memberikan peluang dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya kepada seluruh masyarakat dan pelaku usaha. Pancasila Market Economy tidak boleh membiarkan adanya perselingkuhan antara pemimpin bangsa dan perwakilan rakyat dengan pengusaha-pengusaha untuk memperkaya mereka dan melakukan transaksi politik dan kebijakan.

Pancasila Market Economy akan memudahkan masyarakat melihat dan membedakan perusahaan-perusahaan mana yang punya misi pembangunan sosial dan pancasilais. Juga akan mampu melihat perusahaan-perusahaan mana yang menjelma menjadi VOC gaya baru, mengambil sumber daya di Indonesia, menjajah hak-hak keadilan sosial masyarakat Indonesia, dan anti Pancasila. Pancasila Market Economy seyogyanya menjadi rujukan para pemimpin untuk mengambil kebijakan yang bijaksana dengan prinsip keberanian, keadilan, dan keberpihakan pada masyarakat ekonomi lemah. Konsep Pancasila Market Economy_ harus mendorong dan memberikan keberanian melawan VOC- VOC gaya baru tersebut.

Pancasila Market Economy dalam perspekif keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus dilihat pada perpektif kepemilikan aset, tanah, modal tidak boleh bertumpuk pada segelintir orang yang berakibat pada ketidakmampuan sebagian masyarakat mendapatkan hak-hak sosial dan hak-hak dasar dalam kehidupannya. Secara praktis, Pancasila Market Economy tidak boleh membiarkan ada orang atau sedikit masyarakat yang memiliki kekayaan yang sangat besar, namun disisi lain ada masyarakat yang tak mampu berobat, tak mampu menyekolahkan anak-anaknya, dan tak mampu tinggal di tempat yang layak. Pancasila Market Economy tidak akan membiarkan akumulasi kekayaan yang melampaui batas pada satu atau kelompok orang dan memberikan kesengsaraan kepada sebagian besar masyarakat lain. Tidak boleh terjadi so few have so much, so many have so little.

Pancasila Market Economy dalam perspekif keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus mampu memastikan  adanya jaminan pendidikan, kesehatan, dan terpenuhinya sandang, pangan, dan papan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pancasila Market Economy pada akhirnya mampu memastikan kepemilikan masyarakat terhadap sumber daya yang ada dan memastikan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan masyarakat banyak.

Pancasila Market Economy ini diyakini mampu melawan globalisasi yang manifestasinya adalah pengalihan kekayaan alam suatu negara ke negara lain, setelah dilakukan proses produksi, produk-produk tersebur dijual kembali ke negara asal. Dengan demikian, produk-produk yang seharusnya dapat diproduksi oleh jam kerja masyarakat Indonesia digantikan oleh jam kerja masyarakat negara lain. Hal ini mengakibatkan terbatasnya lapangan kerja dan peluang ekonomi masyarakat. Menurut Eyang Habibie, Implementasi sila ke-5 dalam Pancasila Market Economy adalah memperjuangkan jam kerja bagi rakyat Indonesia sendiri. Hal tersebut dapat dicapai melalui dukungan regulasi dan kebijakan yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Pancasila Market Economy ini dinilai mampu memberikan nafas baru, semangat baru, dan harapan baru diantara berbagai keterpurukan ekonomi bangsa yang kian memburuk dan memberikan rasa ketidakadilan di masyarakat. Lebih jauh lagi, Pancasila Market Economy akan mampu melahirkan kesadaran baru untuk mengembalikan semangat ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan dalam perekonomian Indonesia. Pada akhirnya, Pancasila Market Economy tersebut harus mampu memberikan rasa adil melalui kesejahteraan.

Lanjut Dr. Gamal, “titik utama dari nasehat Eyang Habibie yang saya tangkap adalah adanya kesungguhan untuk menjamin, memastikan, dan mendorong penerapan Pancasila secara menyeluruh. Saya secara pribadi melihat bahwa Pancasila Market Economy tidak boleh disimplifikasi dalam mengejawantahkan sila kelima pancasila saja, tapi lebih dari itu, mampu membawa nilai luhur kelima sila Pancasila secara holistik dan menyeluruh dalam penerapan ekonomi yang berfokus pada tercapainya tujuan berbangsa dan bernegara, paparnya.

Dr. Gamal berpesan, pada implementasi konsep ini, pemuda-pemudi Indonesia harus mulai menyuarakan dan mengawal Pancasila Market Economy. Konsep Pancasila Market Economy harus menerapkan pancasila secara keseluruhan sebagai sebuah kesungguhan dan harus seimbang. Tidak boleh dipreteli seenaknya. Jika pancasila dipreteli seenaknya jangan kaget kalau bangsa ini dikuasai oleh segelintir orang. Siapapun yang membiarkan ketidakadilan sosial tumbuh dimasyarakat, melakukan penguasaan akumulasi ekonomi pada pribadi secara berlebihan, dan mengakibatkan ketidakmampuan jutaan masyarakat memenuhi hak-hak dasarnya, maka ia telah mengkhianati pancasila. “Bagi saya 1 teladan pengamalan pancasila lebih baik dari 1000 pekikan pancasila,” cetus Dr. Gamal

Akhirnya, setelah diskusi rampung dan hendak berpamitan, Dr. Gamal memohon izin  memeluk Eyang Habibie. “Saat itu, saya tancapkan di dalam hati dan fikiran saya untuk menyebarkan pemikiran beliau kepada generasi muda Indonesia. Terima kasih Eyang Habibie sudah menyebut kami sebagai Intelectual Grandchild. Bagi saya, we are not only your intellectual grandchild, but we are also your ideological grandchild to ensure the Indonesian people get social justice,” pungkas Dr. Gamal.

Reporter    : Fattahur/Gen

Editor         : Suwongko

Baca juga : Kelas Inspirasi Ala Dokter Gamal Menginovasi Kesehatan

#BJ. Habibie #DiskusiBersama #Dr.Gamal

Author: 
    author

    Related Post

    banner 800x600)

    Leave a reply