Banyu Gandrung Cerita Rakyat Singojuruh

  • Whatsapp
BanyuGandrung_SendraTari
Seni budaya kretaif Banyuwangi

KABARRAKYAT.ID – Karya sendra tari Banyu Gandrung merupakan kolabarasi antara seniman muda Banyuwangi untuk menggambarkan sebuah daerah.

Karya “Banyu Gandrung” ini menggambarkan pada zaman dahulu di tengah perkampungan Dusun Kunir – Singojuruh dan pinggirannya masih berbentuk hutan belantara terdapat sungai.

Bacaan Lainnya

Sungai tersebut sangat indah sekali, suara gemericik air membuat daya tarik tersendiri bagi yang melihatnya.

Konon dahulu kala masyarakat setempat sangat susah sekali untuk mendapatkan air, jangankan mengaliri sawah petani, untuk mandi mencuci pun tidak bisa.

Hingga berbagai cara di lakukan untuk mendapatkan sumber mata air di daerah setempat.

Masyarakat juga telah melakukan banyak ritual selama berhari hari, berbulan bulan, bahkan bertahun tahun, mereka berusaha meminta pertolongan dan memohon kepada tuhan agar diberikan rezeki berupa sumber mata air.

Baca juga:

Hingga pada akhirnya, suatu hari tiba tiba mata air datang begitu banyak membuat masyarakat setempat bersyukur. Dari datangnya sumber air itu dengan rasa ucap syukur, mereka menggelar selamatan serta menyambut kegembiraanya dengan hiburan kesenian Gandrung (Meras Gandrung ).

“Hingga tiap tahun masyarakat setempat mengungkapkan rasa syukurnya dengan agenda seperti itu, saat ini sungai tersebut dinamakan Banyu (sungai) Gandrung,” Kata Adlin Mustika Alam, salah seorang seniman muda jebolan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya.

Karya Banyu Gandrung, bukan hanya membuat karya, namun juga di mengerti maknanya.

Adlin mengatakan, Gagasan atau ide dalam membuat suatu karya yang sering kali muncul dari kebiasaan atau tradisi yang dilakukan oleh masyarakat.

Hal ini yang membuat sutradara tertarik untuk mengangkat tradisi menjadi sebuah karya dalam bentuk konser musik yang peragakan oleh empat puluh lima (45) orang pemusik dan penari perempuan.

Dengan menggunakan garap musik Banyuwangi serta gerak-gerak rampak dan lincah, sutradara ingin mengungkap nilai kerukunan atau kebersamaan masyarakat sehingga membentuk kehidupan yang bahagia.

Selain mengangkat nilai tersebut, sutradara juga ingin mengungkap nilai religius melalui gerak halus dan tegas pada bagian awal dan pada adegan terakahir.

Nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam garap medium gerak wantah yang diperindah dan gerak-gerak Banyuwangi.

Harapan sutradara dengan mengangkat tradisi Banyu gandrung ini menjadi sebuah karya seni adalah untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang tradisi yang dimiliki masyarakat Dusun Kunir, Desa/Kecamatan Singojuruh khususnya, Banyuwangi pada umumnya serta etnik Jawa.

“Pesan moral mengenai pentingnya hidup rukun dalam hidup bermasyarakat yang disampaikan dalam garapan ini dapat diterima oleh penikmat seni,” ucapnya

Sementara itu tujuan dari karya Seni ini, secara konseptual karya ini bertujuan untuk menambah wawasan mengenai seni dan membuka wawasan bahwa kegiatan sosial atau tradisi masayarakat dapat dijadikan sebagai pijakan pemikiran atau konsep dalam pembuatan suatu karya.

“Karya ini juga bertujuan untuk lebih mengangkat nilai kerukunan dan nilai religius dalam tradisi meras gandrung agar dapat diketahui dan dihargai keberadaannya,” ucapnya

Menariknya dalam karya ini, masyarakat bisa memperoleh manfaat, yaitu sebagai referensi baru atau keluaran terbaru hasil karya di Banyuwangi yang dapat memberikan masukan atau implikasi secara konseptual (referensi).

“Bagi penonton atau penikmat seni dapat mendukung perkembangan kesenian masa kini khususnya di wilayah Banyuwangi,” paparnya.

Adlin Mustika Alam pemuda asli Singojuruh yang terlahir dari darah seni. Sepak terjangnya meski masih usia 22 tahun, dirinya sudah memiliki treck record yang sangat apik, padahal dirinya baru saja lulus sejak 1 bulan lalu di STKW pada bulan Agustus 2018.

Berbagai torehan yang diperoleh Pemuda kelahiran tahun 1996 ini, diantaranya; Juara umum parade musik daerah tingkat Nasional di TMII Jakarta tahun 2016, sebagai sutradara drama musikal Mapag Srengenge di RTH Singojuruh, Banyuwangi tahun 2017, sebagai penata musik dan sendra tari kolosal dalam lakon Trunojoyo di Taman Candra Wilwatikta tahun 2017, Penyaji terbaik pada parade musik di TMII tahun 2017, Penyaji terbaik pada Festival karya tari di Banyuwangi tahun 2018, dan berbgai prestasi lainnya yang ia dapatkan selama menjadi Mahasiswa di STKW Surabaya.

Reporter: Rohman

Editor: Suwongko

Pos terkait


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *