Tuesday, October 27, 2020
Home JATIM BONDOWOSO Batik Bondowoso Tetap Laris Manis di Masa Pandemi

Batik Bondowoso Tetap Laris Manis di Masa Pandemi

REPORTERIfa Bahsa
- Advertisement -

KABAR RAKYAT – Cecilia Eka Putri warga Desa Sumbersuko kecamatan Klabang, Bondowoso, membangun bisnis batik yang dinamai Batik Ki Ronggo. Saat ini, bisnis bidang busana itu cukup berkembang.

Daya tarik batik Ki Ronggo bukan hanya dari segi warna yang cerah. Cicilia berinovasi untuk membuat batik modern, di antaranya model gaun dan jas. Sebelumnya, Cecilia membuat kemeja batik saja.

“Karena saya menyasar pasar anak muda, model batik saya kembangkan dengan membuat jas dan gaun. Selain itu, adapula masker, hijab, dan syal batik. Pelanggan juga bisa pesan sesuai permintaan,” katanya, Minggu (20/12/20).

Baca : PKK Trenggalek Gandeng BUMN Melatih Batik Sibori untuk Ibu dan Santriwati

Cecilia memproduksi batik jenis cap dan tulis yang dipadu dengan teknik melukis. Batik buatannya dibanderol dengan harga beragam. Untuk batik cap dijual mulai Rp 120.000. Sedangkan batik tulis dibanderol dengan harga Rp 250.000.

Di masa pandemi, produk yang paling laris yakni masker batik. Masker batik ia jual dengan harga Rp 20.000.

“Masker batik sebulan bisa laku 10 lusin. Jas dan gaun batik juga tak kalah laris. Tiap bulan terjual 10 pcs,” sebutnya.

Baca : Serahkan Kredit Dana Bergulir, Gubernur Khofifah Optimis UMKM Jatim Segera Bangkit

Cicilia memanfaatkan media sosial (medsos) untuk memasarkan produknya. Media sosial itu yakni Facebook dan Instagram. Pemasaran lewat medsos membuat Batik Ki Ronggo makin dikenal luas.

Tak kalah hebatnya, pelanggan Batik Ki Ronggo saat ini sudah tersebar diberbagai daerah di Indonesia. “Awalnya hanya warga Bondowoso. Tetapi kini pelanggan saya sudah sampai Palembang, Pekanbaru, Banjarmasin, dan Makassar,” sebutnya.

Ia mengaku, di masa pandemi Covid-19, penjualan Batik Ki Ronggo masih stabil. Sebab, Pemkab Bondowoso mewajibkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk mengenakan batik khas Bondowoso. Sehingga banyak PNS yang memesan batik di Cecilia.

Baca : Bupati Arifin Dorong Ekonomi Mikro Terdaftar Ijin Usaha

Selain itu, rencananya Pemkab Bandowoso bakal membuat pameran UMKM mini. Itu agar pelaku UMKM bisa bertahan di masa pandemi. Gelaran pameran UMKM nantinya berbeda dengan biasanya, jumlah pengunjung dibatasi serta menerapkan protokol kesehatan.

“Penjualan terbantu dengan aturan Pemkab Bondowoso itu yang mewajibkan pegawai tiap Selasa, Kamis, dan Jumat berbatik. Itu membuat bisnis saya bisa bertahan di masa pandemi Covid-19,” ucapnya.

Di sisi lain, Bisnis Batik Kironggo dibangun oleh Cecilia dengan jerih payah. Modal awal bisnis Batik Ki Ronggo hanya Rp 500.000. Karena modal membangun bisnis tak banyak, ia terpaksa berhutang.

“Modal saya sedikit, hanya Rp 500.000. Tapi saya bertekad untuk membangun bisnis batik ini. Alhamdulillah, bisnis Batik Ki Ronggo kini sudah berkembang. Saya mendapatkan omzet Rp 50 juta tiap bulan,” pungkasnya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

POPULER

error: Selamat Membaca