Sunday, November 1, 2020
Home JATIM BONDOWOSO Bawaslu Jatim Temukan 14 Pelanggaran Netralitas ASN di Pilkada 2020

Bawaslu Jatim Temukan 14 Pelanggaran Netralitas ASN di Pilkada 2020

REPORTERIfa Bahsa
- Advertisement -

KABAR RAKYAT – Selama tahapan Pilkada 2020, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jatim telah melakukan pengawasan terhadap calon  perseorangan yang difokuskan pada netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN).

Ketua Bawaslu Jatim, Moh. Amin, menerangkan, hingga Juli 2020 pihaknya telah menangani 14 kasus netralitas ASN. Dimana mereka rata-rata adalah para pejabat di Kabupaten/Kota yang berencana mencalonkan diri. Sehingga harus melakukan pendekatan atau pendaftaran kepada partai politik.

“Padahal, terkait ini khusus ASN ada mekanisme tersendiri. Salah satu contohnya, dengan tidak mempublikasikan keberadaannya ke lembaga parpol,” jelasnya kepada awak media usai meresmikan kantor baru Bawaslu Bondowoso di Jalan Santawi, Rabu (16/8/2020).

Baca: Polres Lumajang Gelar Psikologi Test dan Konseling Personil Pemegang Senpi

Selama belum mengundurkan diri, lanjutnya, netralitas ASN harus tetap dijaga dengan tidak berafiliasi ke salah satu parpol. Namun, jika tetap berupaya untuk mendaftar, maka aturannya tidak boleh mempublikasikan.

Dari temuan Bawaslu Jatim, 14 kasus ini ditemukan membawa media dan memberitakan bahkan menempelkan poster-poster yang menyatakan bahwa yang bersangkutan merupakan calon Bupati 2020. Proses tersebut, dianggap oleh Bawaslu sebuah tindakan pelanggaran netralitas.

“Sehingga kita tindaklanjuti. Kita klarifikasi dengan bukti-bukti yang ada. Kalau memang terbukti ini pelanggaran, 14 kasus ini kita rekomendasikan  ke KASN untuk ditindaklanjuti,” jelasnya.

Baca: Telkomsel Serahkan 1,3 Juta Paket Merdeka Belajar ke Pemprov Jatim

Dikatakannya, 14 kasus tersebut ternyata memang melanggar sehingga kemudian diserahkan kepada pejabat pembina masing-masing yang bersangkutan untuk pemberian sanksi sesuai keputusan masing-masing kabupaten/kota.

“Sanksinya ada ringan, sedang, dan berat tentang netralitas. Ada yang penundaan kenaikan pangkat, penundaan kenaikan gaji dan semacamnya,” ungkapnya.

Lebih jauh, Amin menjelaskan, pengawasan Pilkada serentak menjadi tanggung jawab Bawaslu Kabupaten/Kota setempat. Pemerintah Provinsi hanya membantu mengkoordinasi dan melakukan pembinaan yang diinstruksikan Bawaslu pusat.

Baca: Arumi Bachsin Terus Ajak Masyarakat Konsumsi Ikan

“Putusan-putusan di lapangan, secara undang-undang menyatakan bahwa pengawasan berada di tangan Bawaslu Kabupaten/Kota masing-masing,” tambahnya.

Sebagai lembaga yang berhak melakukan supervisi, pengawasan Pilkada tidak hanya terdokus pada Bawaslu sekitar, namun masyarakat juga disarankan menjadi pengawas partisipatif baik secara perorangan maupun kelembagaan.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

POPULER

error: Selamat Membaca