Jumat, Januari 22, 2021
Beranda DESTINASI De Djawatan Destinasi Alami yang Menyimpan Magic 'De Meneer' Belanda

De Djawatan Destinasi Alami yang Menyimpan Magic ‘De Meneer’ Belanda

REPORTERWahyudi

KABAR RAKYAT – Hutan De Djawatan bisa dikatakan destinasi wajib bagi wisatawan yang mencari suasana alami. Hutan ini terkenal akan pohon-pohon besar berbentuk kanopi cantik dan memiliki kesan magis yang kuat para meneer (tuan) Belanda.

Bahkan banyak pengunjung yang berpendapat bahwa hutan ini mirip dengan hutan dalam film The Lord of The Ring.

Pada era penjajahan Belanda, hutan seluas enam hektar ini mulanya dimanfaatkan sebagai tempat penimbunan pohon jati.

Namun, setelah menjadi viral di sekitar tahun 2017, lokasi ini mulai dikelola secara serius oleh Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuwangi Selatan sebagai pemilik lahan, bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi.

Baca : Libur Tlah Tiba, Banyuwangi Rekomendasi Wisata Sehat

Seperti yang diungkapkan oleh bapak M. Y Bramuda (Ka disbudpar) “Daya tarik utama hutan ini adalah pemandangan melalui pepohonannya yang terkesan magis. Di dalam hutan ini terdapat berbagai macam pohon. Namun yang paling menjadi perhatian adalah ratusan pohon trembesi berukuran besar”.

Bahkan ada beberapa diantaranya yang berusia lebih dari seratus tahun. Pohon trembesi atau pohon hujan adalah pohon yang besar yang bisa tumbuh cepat.

Bentuknya menyerupai payung atau kanopi yang melebar. Uniknya, rerumputan cenderung berwarna lebih hijau dibawah pohon ini dibandingkan dengan rumput disekelilingnya.

Nah Menariknya, perlu traveller ketahui bahawa tidak hanya pohon trembesi saja yang ada disini, melainkan ada juga beragam jenis pohon yang ada disini.

Baca : Panen Lobster dan Pelepasliaran Biota Riset Budidaya Laut Gondol di GWD

Mulai dari pohon jati yang sudah berumur puluhan tahun dan sengaja dilestarikan, sehingga menjadi cikal bakal sejarah dibukanya hutan djawatan menjadi objek wisata.

Ada juga pohon kelengkeng, pohon yang lumayan tinggi dan terdapat buah kelengkeng. Selain itu, ada tumbuhan salak liar yang mana berbeda dengan buah salak pada umumnya. Salak di kawasan hutan Djawaan memiliki cita rasa sangat asam, sehingga tidak bisa dikonsumsi.

“Kawasan ini milik Perhutani dengan jenis pohon yang mendominasi adalah trembesi dengan usia hingga 100 tahun,” ungkap Puji Widodo, Polisi Hutan Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, dikutip dari website Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan jika Hutan De Djawatan Benculuk memiliki dua titik spot foto yang disediakan pengelola. Pertama ada di atas pohon, kemudian satu lagi dengan beberapa truk bekas.

Baca : Libur Long Weekend, KAI Daop 9 Tambah Perjalanan Kereta Api

“Wisatawan bisa berkeliling area hutan untuk melihat-lihat suasana asri dan indah selain itu ada jalan setapak yang bisa dilalui oleh wisatawan,” ungkapnya.

Selain itu, hutan ini juga menjadi obyek wisata yang instagrammable. Berfoto di tengah hutan akan terlihat sperti di negeri dongeng. Tidak hanya berfoto dengan latar belakang pepohonan, pihak pengelola juga menyediakan beberapa spot foto yang menarik.

Diantaranya adalah spot foto di atas truk bekas dan rumah pohon. Spot foto rumah pohon merupakan spot foto yang paling banyak diminati oleh pengunjung, sehingga sering muncul antrian di titik ini.

Hutan De Djawatan ini juga terkenal sebagai spot foto pranikah. Biasanya para pasangan memilih lokasi ini demi mendapat hasil foto dengan tema alam yang tidak biasa.

Baca : Dewan Pers Ajak Media Banyuwangi Berikan Informasi Yang Sehat di Pilkada

Untuk mendapatkan hasil foto terbaik, datang pada pagi hari pose alam golden hour atau di sore hari untuk mendapatkan sinaran warna merah yang cantik.

Fasilitas dan Kuliner yang ada di De Djawatan

Selain befoto dan menikmati suasana, wisatawan juga dapat menikmati fasilitas wisata lain yang ditawarkan. Diantaranya adalah menaiki delman wisata dengan harga Rp. 30.000 untuk mengelilingi hutan, atau menunggangi kuda.

Tersedia juga persewaan ATV dan motocross untuk anak-anak. Di waktu-waktu tertentu, sedangkan untuk hiburan pihak pengelola mengadakan konser musik kecil untuk menghibur para pengunjung.

Di dalam hutan ini pengunjung juga dapat berwisata kuliner dengan mengunjungi beberapa lapak kuliner khas Banyuwangi yang berlokasi di sebelah timur.

Baca : Kapolresta Banyuwangi Ajak PWI Aktif Perangi Hoax di Masa Pilkada

Warung-warung tersebut diantaranya dimiliki oleh warga asli Benculuk. Selain itu, terdapat juga cafe yang cukup modern, namun pengunjung dilarang untuk membawa makanan dari luar ke dalam cafe tersebut.***

EDITORSetiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

POPULER

error: Selamat Membaca