Saturday, October 24, 2020
Home DESTINASI ADVENTURE Dua Ekor Banteng Jantan ‘Tekad dan Patih’ Dilepasliarkan di Savana Bekol Baluran

Dua Ekor Banteng Jantan ‘Tekad dan Patih’ Dilepasliarkan di Savana Bekol Baluran

REPORTERYons
- Advertisement -

KABAR RAKYAT –  Dua ekor Banteng jantan hasil pengembangbiakan alami ex situ di kawasan suaka satwa Taman Nasional Baluran Situbondo, Jawa Timur akhirnya dilepasliarkan ke habitat alamnya, Rabu, sore.

Aksi ini merupakan rekor sejarah konservasi satu-satunya di Indonesia yang melepasliar Banteng hasil pengembangbiakan semi alamiah ke alamnya.

Selain untuk menjaga populasi, pelepasliaran dua Banteng ini juga sebagai upaya menjaga keragaman genetik Banteng di alam berjuluk Africa Van Java ini.

Pelepasliaran dua Banteng ke alam bebas ini dilakukan langsung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan oleh Dirjen Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno.

Pelapasan ini dilakukan sebagai upaya menjaga populasi banteng di taman nasional baluran yang setiap tahun terus meningkat dibanding lima tahun sebelumnya.

Banteng jantan di Taman Nasinal Baluran.

Hasil Banteng ex situ ini dinamakan Tekad yang lahir pada tahun 2014 dan Patih yang lahir pada tahun 2016. kedua banteng ini juga telah menyumbang anakan baru di kandang ex situ sebanyak empat ekor dengan indukan betina Banteng.

Dua Banteng berumur lebih dari empat tahun siap untuk dilepasliarkan ke alamnya di padang Savana Bekol. Sebelum dilepasliarkan banteng banteng ini lebih dulu mengikuti beragam tahap habituasi dengan pembukaan kandang yang lebih luas jangkauanya. Sehingga menjadi proses adaptasi bertahan hidup dan mencari makan di alam sekitar Savana Bekol.

Selain itu Banteng ini juga telah mendapat pemeriksaan kesehatan oleh tim dokter hewan dan dinyatakan siap untuk dilepaskan. Hasil pemantauan tim Taman Nasional menemukan fakta jumlah Banteng betina di alam lebih banyak di banding Banteng jantan. Sehingga laju perkembangbiakanya lamban.

Dijelaskan oleh Pudjiadi, Kepala Balai Taman Nasional Baluran, Situbondo, bahwa Banteng jawa atau Bos Javanicus ini merupakan spesies yang terancam punah dalam versi Iucn Red List.

Populasi di alamnya diprediksi tidak lebih dari 5000 ekor dan terpisah di kantong-kantong habitat alaminya, mulai ujung kulon Meru Betiri Jember, Alas Purwo hingga Baluran.

Terisolasinya wilayah sebaran ini, kata Pudjiadi, membuat ancaman genetik Banteng di alam menjadi keprihatinan karena bisa memicu Banteng Kerdil maupun penyakit genetik lainya.

Program ex situ suaka satwa Banteng ini merupakan upaya penyegaran genetik di alam bebas untuk menjaga populasinya.

Catatan terakir jumlah banteng di taman nasional baluran ini terpantau 140 ekor di tahun 2019 jauh meningkat dari 2015 yang terpantau hanya 44 ekor. Usai dilepasliarkan Banteng ini akan dipantau oleh tim khusus pergerakanya selama 3 bulan ke depan karena dilengkapi dengan GPS.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

POPULER