Empat Debkolektor Jalani Pemeriksaan Didampingi Pengacara

222 views
banner 468x60)

KABARRAKYAT.ID – Empat orang debkolektor yang diamankan aparat Polsek Bangorejo, menjalani pemeriksaan terkait dugaan kasus pencuria dan perampasan, Senin (22/4/2019).

Kapolsek Bangorejo AKP Bahrul Anam menceritakan, penghadangan yang dilanjutkan pengamanan para pelaku serta barang bukti mobil Honda Jazz nopol P 1838 VZ setelah petugas mendapat informasi jika mobil milik Andik Prastiyo, warga Dusun Yudomulyo, Desa Ringintelu, Kecamatan Bangorejo, dibawa kabur orang. Saat diamankan mobil keluaran tahun 2005 itu sedang diangkut mobil derek.

“Empat debkolektor itu sempat diteriaki maling oleh pemiliknya sehingga memicu aksi warga untuk melakukan pengejaran. Peristiwa itu sempat diberitahukan kepada polisi yang dilanjutkan dengan penghadangan di Perempatan Pasar Pedotan yang berjarak hanya beberapa meter dari mapolsek,” kisahnya.

Debkolektor yang diduga melakukan penarikan tak prosedural itu antara lain dilakukan oleh A.Sid (48), D.And (42), Arsi (27), dan J.Unt (48). Mereka berasal dari Kecamatan Kalipuro serta Giri yang bekerja sebagai jurutagih di bawah perusahaan PT AGMI.

Kuasa Hukum para pelaku, Sugeng Setiawan, menjelaskan bila kliennya pada Minggu (21/4/2019), sekitar pukul 21.00 WIB mendatangi kediaman Andik Prastiyo untuk menagih angsuran pinjaman di PT BFI Finance yang telah menunggak tiga bulan. Malam itu keempatnya hanya berjumpa dengan adik pemilik kendaraan.

“Katanya Pak Andik sedang ke Bali. Tak berselang lama mobil itu lewat dan dikendarai oleh pemiliknya sehingga dikejar oleh klien kami,” beber pengacara asal Songgon.

Sugeng menambahkan, atas saran PT BFI Finance mobil tersebut supaya ditarik sehingga dilakukan upaya penarikan. Saat dinaikkan mobil derek justru diteriaki maling oleh pemiliknya sehingga memicu reaksi warga yang melakukan pengajaran dan berujung pada penangkapan oleh aparat Polsek Bangorejo.

“Mobil itu dijadikan agunan kontrak kredit. Nilainya saya belum mendapat informasi. Tapi Pak Andik sudah terlambat tiga bulan dan telah diterbitkan surat peringatan atau SP 1, 2, 3. Bahkan kami telah melakukan pendekatan persuasif,” ulas Sugeng.

Menurut Sugeng, empat kliennya justru menjadi korban. Maksudnya, korban atas kebijakan PT BFI Finance yang telah memerintahkan penyitaan barang bukti sehingga berujung di kantor polisi.

“Waktu penyitaan tentu tidak disertai Surat Kuasa Penarikan (SKP). Lha ini yang kemudian memicu masalah,” katanya.

Reporter: Jaenudin

Editor: Richard

banner 468x60)

#Banyuwangi #bfi #debkolektor #kabar hukum

Author: 
    author

    Related Post

    banner 468x60)

    Leave a reply