GENERASI TUTORIAL

 

Illustrasi oleh : Ghifar Ulwan (PPMI Malang)

oleh: Ditsa Ayu Widya Mangesti

Menurut data statistik yang dihasilkan dari survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia (PuskaKom UI) tahun 2015 terkait demografi pengguna internet di Indonesia, sekitar 34,9% penambahan pengguna internet di Indonesia dari total seluruh penduduk Indonesia. Tak hanya itu, jika dilihat dari sumber data yang sama, maka dapat dilihat persebaran pengguna internet di Indonesia itu dimulai dari umur 18 hingga 65 tahun yang dikategorikan sudah melek internet (re: meskipun untuk kisaran umur 50 keatas persentasenya hanya berkisar 0,2%). Kemungkinan hal itu diakibatkan dari kian murahnya harga smartphone dan kuota internet. Pada umumnya, biaya yang dikeluarkan untuk kuota internet sekarang dapat bersaing dengan harga paket nasi dan es teh di warung, sehingga membuat aksesnya pun semakin mudah. Namun, apakah dengan kemudahan akses internet di Indonesia yang berarti pula kemajuan teknologi membuat para pengguna akan merubah tabiatnya? Nyatanya masih belum. Mungkin kalian yang sedang membaca ini menjadi bingung. Jadi begini, untuk sebagian orang beranggapan bahwa internet itu merupakan penolong bagi mereka. Sampai parahnya, tanpa internet mereka tidak bisa melakukan apapun. Kemungkinan hal itu juga disebabkan, saat ini sumber informasi sudah bisa didapat dengan menggunakan tablet, smartphone, ataupun laptop yang sudah terkoneksi dengan internet. Jika dibandingkan dengan jaman dulu, untuk mendapatkan informasi harus melalui menonton televisi ataupun membaca buku.

Sebagai contoh, dulu mahasiswa sebelum merantau ke daerah masing-masing maupun ke luar negeri, orang tuanya pasti membekalinya dengan skill-skill tertentu seperti memasak dan mencuci. Bahkan, hal yang sederhana seperti membersihkan tempat tidur pun akan diajarkan. Sekarang, hanya dengan belajar tutorial di youtube semua bisa dilakukan tanpa harus tanya sama orang tua atau bahkan kursus dulu di rumah. Selain itu untuk mencari sebuah literatur, mahasiswa harus pergi ke perpustakaan dahulu. Sekarang tinggal diakses Google Books atau Wikipedia, semua sudah bisa di dapat tanpa harus lari maupun antri buat masuk ke perpustakaan. Berbagai hal lain yang sekarang sudah dengan mudahnya dapat diakses hanya dengan bermodal smartphone dan kuota internet. Namun, hal-hal tersebut masih tetap tidak merubah tabiat orang Indonesia. Meskipun sudah disuguhi secara gamblang dan mudah, masyarakat Indonesia masih memilih untuk mencari informasi dengan bertanya hal-hal yang seharusnya tanpa ditanyakan pun mereka bisa mencarinya sendiri atau bahkan mereka dapat menemukan informasi yang lebih dari sekadar apa yang mereka tanyakan.

Muncul anggapan dalam benak kita kenapa orang Indonesia walaupun sudah upacara 17 Agustus-an berkali-kali, masih saja belum maju. Tetap jawabannya cuma satu, yaitu orang Indonesia itu pemalas dan tidak mau berinisiatif. Dalam melakukan sesuatu orang Indonesia cenderung harus dicekokin terlebih dahulu baru bisa mulai. Jika dibandingkan dengan negara lain yang masyarakatnya sama-sama sudah melek teknologi, mungkin bagi mereka internet sesuatu yang sangat membantu dalam segala aspek kehidupan. Terlebih lagi menurut data statistik dari sumber yang sama seperti sebelumnya, 49 % pengguna internet itu di dominasi oleh anak muda dengan kisaran umur 18-25 tahun. Sebagai anak muda yang notabene sudah dilabeli sebagai generasi millenial yang melek teknologi, seharusnya mereka bisa menggunakan internet sebagai alat bantu dalam kehidupan mereka. Faktanya, meskipun di internet sudah banyak bermunculan tutorial-tutorial (re: bahkan sampai ada salah satu website yang berisi segala macam tutorial dari tingkat sederhana hingga tingkat lanjut sekalipun) dari mulai tutorial make-up hingga tutorial menghidupkan lampu sekalipun. Mereka lebih memilih bertanya secara random kepada netizen di sosial media- disuapin langsung jawaban atas pertanyaan mereka. Daripada berusaha sendiri untuk membuka browser untuk mengetik apapun yang mereka tanyakan dan memilih sendiri artikel yang mau dibaca

Sebagian dari kalian mungkin sering melihat komentar-komentar netizen seperti “gimana sih cara ngilangin rasa males?” atau bahkan hal sepele seperti “gimana cara bisa memiliki pola pikir kritis seperti si A?” yang kebanyakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu bisa dicari sendiri di internet. Terbukti, internet sebagai jendela dunia tidak berlaku bagi negera Indonesia. Miris? Iya, karena internet yang harusnya bisa membantu malah membuat masyarakat Indonesia makin lumpuh, makin tidak ada rasa ingin tahu (tapi anehnya, rasa ingin tahu akan kehidupan orang lain malah makin tinggi), makin nggak bisa menjadi diri yang independen dan parahnya internet tidak bisa bikin masyarakat Indonesia menjadi pintar. Bukti lain dari internet masih belum bisa mencerdaskan masyarakat Indonesia yakni, akhir-akhir ini muncul istilah ‘berita hoax’ atau dapat diartikan sebagai berita palsu, berita yang belum jelas sumber dan kebenarannya yang nyatanya masih banyak masyarakat Indonesia yang ‘termakan’ berita itu dan berujung debat kusir dengan orang asing di sosial media. Namun, kenyataan seperti itu masih dimaklumi. Kenapa? Karena jangankan untuk memilah berita, mencari berita saja orang Indonesia malas.

Oleh karena itu, banyak orang-orang yang memanfaatkan ketidakpedulian (atau bisa dikatakan ‘kemalasan’) orang Indonesia dengan membuat suatu berita provokatif. Bahkan portal berita yang tidak jelas, nantinya berita-berita dari portal tersebut disebarluaskan di berbagai sosial media. Mirisnya, berita-berita tersebut viral dikalangan netizen Indonesia dan kolom komentarnya selalu seru dengan komentar-komentar netizen yang saling beradu argumen. Lebih menyedihkan lagi, ketika mereka tidak sadar kalau sebenarnya mereka sedang dibodohi, tapi malah merasa fully informed dan dengan agresifnya mencoba untuk ‘memberi pencerahan’ bagi orang-orang yang memiliki opini berseberangan dengan mereka karena mereka mengganggap pendapat mereka yang paling benar. Lebih lucu lagi, masyarakat Indonesia maunya hanya disuguhi tanpa mau berusaha mencari apa yang sedang disuguhkan kepada mereka (re: tabayyun atau mencari kebenaran). Oleh karena itu, tidak salah apabila generasi Indonesia sekarang bisa dikatakan sebagai generasi tutorial. Dimana hanya mau disuguhi dan dituntut tanpa berusaha untuk mencari sendiri. Atau dengan perumpamaan lain, masyarakat Indonesia itu harus dikasih ikannya langsung tanpa perlu memancing. Memang pada dasarnya mereka sebenarnya tidak tahu caranya memancing. Bukan tidak tahu, lebih tepatnya malas mencari tahu bagaimana caranya memancing.

Mungkin hal semacam ini terkesan tidak masuk akal terjadi di negara Indonesia yang begitu besar, yang tingkat kesejahteraan dan pendidikannya terlalu timpang, yang ekonominya masih terpusat di ibu kota, yang masih diribetkan sama urusan transportasi publik, harus mengadaptasi sistem yang ada sekarang.

Jika dilihat dari kenyataan bahwa rakyat Indonesia masih belum cukup pintar pada era generasi millenial ini. Sebenarnya mereka pun belum siap untuk memilih pemimpin buat mereka. Belum siap untuk jadi penonton permainan politik yang ada di negera mereka sendiri. Kenapa begitu? Karena gimana mau punya pemimpin yang capable dan pintar, sementara yang memilih masih bisa dibodohi dengan mudahnya sama berita palsu, gampang ditipu sama pencitraan klise, dan gampang diadu domba dengan isu SARA. Rakyat Indonesia akan selalu dijadikan korban yang disebabkan oleh kemalasannya dan ketidakpeduliannya sendiri. Korban dari media-media ‘busuk’ yang sudah tidak netral lagi, politisi culas yang berbalut bulu domba padahal nyatanya mereka sebuas serigala, dan para pemerintahan yang janjinya mau berbenah malah berujung menumpas negaranya sendiri secara sembunyi-sembunyi. Mereka tidak sadar bahwasanya kebodohan mereka adalah boomerang bagi bangsa mereka sendiri.

Generasi muda yang dinilai mampu dan melek akan teknologi, yang menjadi harapan untuk bangsa, nanti malah hanya mampu bermain dengan keyboard-nya dan menebar pencitraan diri lewat sosial media masing-masing tanpa mampu menginformasi untuk diri mereka sendiri. Dimana hal tersebut sangatlah fatal untuk bangsa Indonesia. Kenapa begitu? Bagaimana bisa Indonesia akan menjadi lebih baik jika generasi yang digadang-gadang merupakan generasi emas, generasi yang nantinya akan men-take over negara kedepan, hanya tahu apa yang lagi nge-trend? Generasi yang mengetahui bagaimana cara mem-posting foto di Instagram atau cara nge-ask di AskFM, namun tidak mengetahui cara searching dengan benar. Generasi yang mengetahui bedanya foto estetik atau tidak, namun tidak mengetahui mana berita asli mana berita hoax. Generasi yang bisa posting kritikan sosial tapi masih saja saling menjatuhkan hanya demi kekuasaan atau hanya demi sebuah pengakuan. Generasi yang hanya mampu bergerak berdasarkan tutorial di media sosial tanpa inisitif dalam kenyataan.

Lantas, wahai generasi muda kelak Indonesia mau kau bawa kemana?

banner 970x90









Loading...
Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 800x600)
    1. author

      Ya, kayaknya artikel ini menjelaskan dengan cara yang mudah. Saya ga tau lagi kenapa orang-orang malah makin menjadi-jadi karena paket internet yang semakin murah. Ohiya, saya sering main Youtube, bisa dilihat di “Trendingnya” yang ada di situ malah judul-judul clickbait yang mengarah ke personalan 17+.

      Malah dari cermin itu sendiri kita bisa melihat kemana arah masyarakat Indonesia memakai internetnya masing-masing. Masyarakat yang seperti itu yang ga mau mencari info untuk ilmu, tapi mau mencari yang mau meningkatkan gairah untuk hal-hal yang sebaiknya saya tidak sebut disini.

      Good job.

    2. author

      Netizen Indonesia emang masih belum bisa memilah dan memilih mana yang layak dan ga layak untuk dinikmati.
      terlihat banyaknya akun akun hoax semakin meraja lela, karna dari situ mereka dapet untung.
      makin banyak yang ngeklik makin untung.
      Makanya tiap kali ada berita aneh berseliweran di psosmed langsung aku blokir akunnya.
      Nyampah doang..
      Moga dari tulisan ini makin banyak orang selektif bermain sosmed

      • author
        REDAKSI2 tahun agoBalas

        Terimakasih bapak khairulleon atas atensinya. Kami berupaya semaksimal mungkin dicinta pembaca

    Tinggalkan pesan