Hikmah” Shut Down” Antara Ibadah Nyepi Dan Corona Di Bromo

  • Whatsapp

Begini pemandangan dampak “shut Down” pelaksanan ibadah Nyepi di perkampungam suku Tengger di Gunung Bromo, Probolinggo,Rabu (25/3/2020).

 

Read More

KabarRakyat.ID – Hari ini kawasan Taman Nasional Bromo,Tengger, Semeru (TNBTS) benar-benar tidak ada aktifitas apa pun. semua jalan yang menuju obyek wisata dan Desa di kawasan SukuTengger, Kecamatan Sukapura,kabupaten Probolingo ditutup total. Semua aktifitas warga pun terhenti, sampai jaringan listrik warga dimatikan, sejak Rabu 25 Maret 2020 pukul 00 hingga Kamis tanggal 26 dini hari.

Penutupan total (Shut Down) di Tengger menjadi bagian sakral perayaan hari Nyepi umat Hindu. Ibadah perayaan Nyepi kian kental bersamaan dengan status darurat yang ditetapkan pemerintah dalam upaya mencegah penyebaran virus corona. Bagi umat Hindu kondisi shut down atau lock down sudah bagian dari keyakinan yang direfleksikan melalui Nyepi. Dan hikmah Nyepi tahun 2020 atau Tahun baru Saka 1942 bersamaan kondisi darurat di Indonesia bahkan diberlakukan di negara-negara terdampak virus Corona.

” Perayaan Nyepi di Bromo benar-benar berjalan hikmat, penuh kesederhanaan. Boleh dibilang kawasan Bromo benar-benar shut down bukan lock down lagi. Tidak ada kunjungan wisata sama sekali, hotel pun semua tidak terima tamu.Semua aktifitas warga berhenti total termasuk jaringan listrik PLN warga dimatikan. Kondisi ini dibarengi dengan wabah penyebaran virus Corona. Hikmahnya pada hari Nyepi, tepat untuk upaya percepatan penyebaran virus Corona seperti di kawasan Tengger dan Bali hari ini”, kata ketua PHRI Digdoyo Djamaluddin akrab dipanggil Yoyok, Rabu (25/3/2020).

Saat Nyepi tidak ada warga Tengger keluar maupun masuk perkampungan. Hanya pecalang dan aparat keamanan Muspika Sukapura yang diperkenankan keluar masuk kampung adat. Pengelola hotel pun dibatasi untuk melakukan aktifitas di luar. ” Pelaksanaan Nyepi umat Hindu menginspirasi kita dalam menghadapi wabah virus Corona.Semua warga tinggal di dalam rumah tak seorang pun keluar. Mereka beribadah dan berkumpul bersama keluarga”, kata Yoyok pemilik Yochie Hotel.

Dampak penutupan kawasan TNBTS oleh pemerintah benar-benar melumpuhkan dunia parawisata. Sebab tindak satu pun hotel dan home stay menerima tamu wisatawan seperti biasanya.

” Semuanya sudah lumpuh tidak ada pemasukan dari tamu. Pengelola hotel bingung untuk membayar karyawan, listrik, pajak bahkan tangungan cicilan di bank. Kami berharap wabah ini segera lewat dan negara dalam kondisi pulih”, kata ketua PHRI Kabupaten Probolinggo Digdoyo Djamaluddin.

Penutupan kawasan destinasi wisata di seluruh kabupaten Probolinggo dilakukan sejal tamggal 17 Maret lalu oleh Bupati.Probolinggo didukung surat edaran TNBTS.

Tokoh adat Tengger Supoyo jauh hari menjelaskan, perayaan Nyepi di Tengger dilakukan pembatasan mulai upacara melasti hingga perayaan ogoh-ogoh. Hanya pemangku adat yang terlibat tidak lebih dari 20 orang. Warga Tengger diminta taati anjuran pemerintah dan para pemangku adat guna pecegahan virus Corona.

” Situasi darurat hari ini pasti ada hikmahnya. Sabar kita hadapi bersama coba ini dengan iklas. Dan itu berlaku bagi kami di Tengger suatu hari nanti pasti ada gantinya dari cobaan ini”, kata Supoyo tokoh adat Tengger yang paling berpengaruh.

Reporter : Richard
Editor : Choiri

Related posts

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *