Ini Alasan Sugito, Kades Bayu Songgon Pasang Badan Membela Warganya

  • Whatsapp
Sugito, Kepala Desa Bayu
Sugito, Kepala Desa Bayu, Songgon

KabarRakyat.ID – Masyarakat Dusun Sambungrejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, menurut Sugito, Kepala Desa setempat, sangat ingin sekali membayar pajak kepada negara. Turun temurun, sejak jaman penjajahan Jepang nenek moyang warga Sambungrejo sudah babat alas di kawasan tersebut. Mereka bermukim dan bertani.

“Benar mas, saya dan masyarakat ingin sekali bayar pajak kepada negara. Kami sangat cinta dengan tanah kelahiran ini. Nenek moyang kami dulu (jaman penjajahan Jepang, red) dari cerita  turun temurun kakek buyut, sudah babat alas. Tinggal dan menanam disini. Kalau panen, hasilnya tidak dimakan sendiri. Kalau ada gerilyawan (pejuang kemerdekaan RI, red) diberikan sebagian panen dan dimasakan makanan oleh leluhur kami. Jadi saya merasa, nenek moyang kami warga Sambungrejo adalah pejuang,” kata Sugito, saat wawancara dengan wartawn kabarrakyat.id dirumahnya, kemarin, Sabtu (1/2/2020) dirumhanya.

Bagi Sugito, memperjuangakan tanah kelahiran lebih penting dari pada jabatanan Kepala Desa. Silahkan kalau isunya, ingin jatuhkan dari jabatan kepala desa, mereka ingin berkuasa dan ingin jadi kepala desa. Asal dengan cara aturan yang benar.

“Saya, Sugito lebih baik berjuang demi tanah kelahiran,” ujar Sugito, menegaskan.

Bahkan Kepala Desa Bayu ini, tidak tahu menahu masyarakatnya menggelar aksi solidaritas datang ke Polsek Songgon, kemarin, Jum’at (31/1/2020). Setahu dirinya, warganya datang dengan baik-baik tidak orasi. Dan itu baru tahu setelah dirinya menghadap penyidik. Bahkan beberapa kepala desa di Kecamatan Songgon juga ada yang hadir. Merekapun solidaritas, tidak diundang.

Saat ini, kondisi Dusun Sambungrejo, Desa Bayu, sudah lebih makmur. Ada bangunan SDN Inpres untuk pendidikana anak-anak Bayu, infrastruktur hotmix dibangun sepanjang 3km, jalan di gang-gang sudah bagus dipavingisasi, ada satu bangunan masjid Darus Salam, 11 bangunan musholah, satu bangunan Pure Tirto Jati untuk umat Hindu, bangunan balai dusun/balai dukuh, balai Posyandu, bangan 6 TPQ, satu bangunan tempat pemakaman umum, pasar musiman, listrik PLN juga sudah menerangi rumah penduduk dan jalanan umum, 10 saluran HIPPAM.

Kondisi bangunan rumah warga sudah terbangun permanen. Dengan total jumlah penduduk 2.175 jiwa, jumlah 720 KK dengan luas area lahan 133 hektar kini sudah berbentuk dusun/desa.

Relawan Konservasi Lingkungan dari Laskar Hijau di Banyuwangi, Lukman Hakim yang ditemui terpisah, membenarkan kondisi status lahan warga Dusun Sambungrejo, Desa Bayu belum memiliki status yang jelas. Harapannya, dengan program pemerintah pusat, baik Perhutanan Sosial (PS) dengan Tanah Obyek Reforma Agraria (TORA) ini, maka ada status yang jelas terhadap tanah warga Dusun Sambungrejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon itu.

Apalagi, kata Lukman Hakim, pemerintah pusat, telah menetapkan peraturan lewat Keputusan  Menteri  Lingkungan  Hidup  dan  Kehutanan  Nomor  SK. 180/Menlhk/Setjen/kum.1/4/2017  yang memuat  sejumlah  prosedur  dan persyaratan  pelepasan kawasan  hutan.   Sedangkan  bila  terjadi  sengketa kepemilikan  di  kawasan tersebut,  maka  harus dirujuk  Peraturan  Presiden  Nomor  88  Tahun  2017  tentang  Penyelesaian  Penguasaaan  Tanah dalam Kawasan Hutan.

Seperti diberitakan, Kepala Desa Bayu, Sugito banyak mengucapkan terimakasih kepada Presiden Joko Widodo dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) di Jakarta, yang telah mewujudkan impian wong cilik. Karena lewat program TORA ini, pemerintah pusat memberikan impian wong cilik terwujud. 

“Benar kami sangat berterimakasih, dengan Pak Presiden Jokowi (Joko Widodo),” kata Sugito kepada KabarRakyat.ID.

Reporter: Eko/Jaenudin

Editor: Choiri



Related posts

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *