Rabu, Januari 20, 2021
Beranda JATIM BANYUWANGI Jadi Instrumen Pemulihan Ekonomi, Ini Strategi Banyuwangi Bangkitkan Sektor Wisata

Jadi Instrumen Pemulihan Ekonomi, Ini Strategi Banyuwangi Bangkitkan Sektor Wisata

KABAR RAKYAT – Sektor Pariwisata menjadi instrumen utama yang disiapkan Pemerintah Banyuwangi untuk pemulihan ekonomi setelah terpukul dampak pandemi COVID-19. Sejumlah strategi menyongsong tahun 2021, diiringi optimisme bahwa program vaksinasi berjalan sukses.

”Tahun 2021 harus optimistis. Kita yakin pemeritah pusat bersama para ilmuwan telah siapkan vaksinasi terbaik untuk warga masyarakat. Sehingga target pemulihan ekonomi cepat terwujud di tahun depan. Instrumen pemulihan ekonomi lainnya adalah sektor pertanian dan UMKM,” ujar Bupati Abdullah Azwar Anas, Senin (28/12/2020).

Bupati Anas menyampaikan salah satu strategi yang disiapkan Banyuwangi, yakni destinasi wisata yang dikenal Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen atau Gunung Ijen dalam menyongsong pemulihan pariwisata.

Pertama, kata Anas, terus meningkatkan kualitas layanan berbasis CHSE atau kepanjangan dari cleanliness/kebersihan, health/kesehatan, safety/keamanan, dan environment/ramah lingkungan.

”Berwisata kini bukan hanya soal urusan bersenang-senang. Tapi di era pandemi dan nantinya usai vaksinasi, berwisata harus tetap berorientasi kesehatan. Wisata juga bisa memperbaiki kesehatan fisik dan mental. Banyuwangi punya banyak keunggulan terkait itu,” ujarnya.

Bupati Anas mencontohkan, bahwa saat ini pemerintah daerah terus matangkan persiapan Geopark Ijen masuk jaringan Geopark Dunia dan siap ikut dalam penilaian UNESCO GGN (Global Geopark Network).

Perlu diketahuio bahwa Geopark Ijen adalah satu-satunya Geopark Indonesia yang diusulkan pemerintah pusat masuk dalam jaringan Geopark Dunia.

”Kami berterima kasih dukungan dari Pemprov Jatim dan pemerintah pusat yang membawa Geopark Ijen menuju jaringan Geopark Dunia,” ujar Anas.

Selain itu, imbuh Anas, Banyuwangi juga telah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Dunia, yang ditetapkan oleh UNESCO untuk Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Wisata Alam Kawah Ijen yang kemudian dinamai Cagar Alam Blambangan.

Anas menambahkan, bahwa Banyuwangi telah mengisi Laporan Perubahan Iklim yang dinilai oleh lembaga independen dunia, Carbon Disclosure Project (CDP) dari Inggris. Untuk Kabupaten Banyuwangi dapat skor C, dinilai memiliki kesadaran perubahan iklim, memahami isu perubahan iklim dan dampak yang dihasilkan.

Skor Laporan Perubahan Iklim tersebut, tambah Anas, bahwa Banyuwangi berada dalam posisi yang sama dengan kota lain di Asia Tenggara dan global dalam hal mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

”Status menuju geopark dunia, cagar biosfer dunia, dan pengisian Laporan Perubahan Iklim memperkuat posisi Banyuwangi dalam peta destinasi di Tanah Air. Sebab urusan CHSE pasca-vaksinasi bukan sekadar protokol kesehatan, tapi memberi nilai lebih dengan bersihnya udara, pesona alam dan kekayaan budaya,” ujarnya.

Strategi kedua, sambung Anas, adalah memacu outdoor tourism yang akan semakin memperkuat aspek CHSE. Outdoor tourism menjadi pilihan bagi pariwisata sehat.

”Banyuwagi punya potensi outdoor tourism yang luar biasa. Saat ini sudah ada beberapa pengelola destinasi yang menawarkan menginap di alam terbuka, berkonsep glamping. Sebagian lagi sedang menyiapkan diri, jadi akan semakin banyak bermunculan,” ujarnya.

”Operator tur bisa bikin paket outdoor tourism yang menyehatkan, seperti menggabungkan terapi tradisional, akitivitas di taman nasional atau Kawah Ijen, dan konsumsi makanan sehat. Misalnya bisa bikin aktivitas yoga, pilates, akupuntur di sekitar belantara hutan atau pantai,” imbuh Anas.

Anas menggarisbawahi, pengembangan pariwisata ke depan tetap harus berorientasi pada masyarakat lokal. ”Pelaku dan tenaga kerja harus lokal, juga berbasis atraksi seni budaya lokal. Artinya, outdoor tourism bisa dipadu dengan seni budaya lokal,” tegas Anas.***

EDITORSetiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

POPULER

error: Selamat Membaca