Jumat, November 27, 2020
Beranda EKONOMI Kades Jambu Sukses Budidaya Tanaman Buah Cara Tabulampot "Ini Rahasianya"

Kades Jambu Sukses Budidaya Tanaman Buah Cara Tabulampot “Ini Rahasianya”

REPORTERMujijin/Jin
Hobi menanam buah di lahan terbatas, Agus Joko Susilo, Kepala Desa Jambu mampu membuka lapangan kerja baru

KABAR RAKYAT – Lahan terbatas tidak menghalangi seseorang untuk bertanam buah. Tanaman buah yang biasanya berpostur tinggi, memang membutuhkan ruang tumbuh yang cukup luas.

Untuk menyiasati hal tersebut, sejak tahun 1970-an, berkembang metode menanam buah dalam lingkungan terbatas atau Tabulampot.

Hal itulah yang saat ini dipraktekkan dan dibudidayakan secara masal oleh Agus Joko Susilo, yang kebetulan adalah Kepala Desa Jambu, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri. Dengan budidaya tabulampot itu, Agus juga bisa mempekerjakan warga sekitar.

Agus Joko Susilo memulai budidaya Tabulampot sejak 7 tahun lalu, tepatnya tahun 2013. Sebelumnya kades Jambu itu, mengaku memang sudah hoby menanam tanaman buah.

Baca : DPRD Banyuwangi Gelar Paripurna Penyampaian Nota Pengantar KUA-PPAS APBD Tahun 2021

Selain punya lahan Tabulampot, Agus juga memiliki kebun bibit dan membangun wahana wisata desa serta sebuah restoran yang menyatu dengan kebun bibitnya yang terletak di jalan raya Papar, Pare.

Agus Joko Susilo menjelaskan bahwa saat ini Tabulampot yang lagi ngetren adalah tanaman buah alpukat. Ada dua jenis alpukat yang lagi dicari pembeli yaitu jenis aligator dan kelud. Selain alpukat, juga ada klengkeng, mangga, jambu, anggur pohon dan nanas.

“Untuk saat ini alpukat yang banyak dicari adalah aloukat jenis aligator. Tapi untuk ke depannya, mungkin jenis kelud yang akan banyak dicari. Jenis alpukat kelud, beratnya bisa 2 kg/buah. Kami memilih bibit yang benar-benar baik,” kata Agus Joko Susilo, Senin (2/11/2020).

Baca : MPM Gelar Webinar Digitalisasi Pandemic Honda Community Jatim

Menurut Agus, beda alpukat jenis aligator dan kelud adalah, kalau jenis aligator itu buahnya basah, sedang jenis kelud buahnya kering.Tabulampot ini diusia 2 tahun sudah berbuah.

Sistem tabulampot itu sebenarnya hanya masalah pengaturan air. “Biaya untuk setiap pohon dari pembibitan, polybag dan pupuk, sekirar 60 ribu rupiah. Nanti bisa dijual sampai 750 ribu rupiah per pohon,” tambah Agus.

Masih menurut Agus, selain dua jenis alpukat aligator dan kelud, di kebunnya, juga ada alpukat jenis miki dan alpukat red vietnam, ucikawada. Juga ada sawo jumbo, mangga, jambu, nanas.

Baca : Longsor Jalan Penghubung Lumajang – Malang Macet

Terkait dengan pengaruh adanya pandemi covid -19 dengan pernintaan tabulampotnya, Agus Joko Susilo, mengatakan bahwa pengarus pandemi ini, hampir tidak ada bahkan setiap hari ada permintaan bibit buah dari seluruh Indonesia.

Juga banyak yang berkunjung ke kebun tabulampot, baik dari lokal Kediri maupun dari luar Kota, termasuk yang terakhir adalah kunjungan kerja dari Komisi B DPRD Megetan.

“Di masa pandemi ini, permintaan tabulampot justru bertambah. Kunjungan langsung dan membeli ke kebun juga masih banyak, meski harus menerapkan protokol kesehatan”pungkas Agus Joko Susilo.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

POPULER

error: Selamat Membaca