Kebo-Keboan Alasmalang Diapresiasi Dirjenbud RI

  • Whatsapp
Kebo-keboan (5)
Kebo-keboan (5)

KABARRAKYAT.ID Banyuwangi kaya akan adanya adat, budaya dan tradisi. Berbagai seni dan budaya berpadu manjadi satu penuh cinta, seperti halnya Adat Kebo-Keboan yang ada di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.

Adat Kebo-Keboan merupakan kegiatan bersih desa ataupun sedekah bumi yang digelar oleh masyarakat setempat.

Bacaan Lainnya

Mereka menggelar ritual ini sebagai bentuk tradisi tanda rasa syukur kepada Tuhan atas apa yang telah diterimanya dengan tanah yang subur, serta wujud panen petani yang melimpah ruah.

Ritual Kebo-keboan ini diadakan setiap tanggal 10 bulan muharram (suro). Dalam penyelenggaraan upacara adat tersebut banyak sekali ritual ritual yang dilakukan, antara lain beras pitung tawar.

Beras pitung tawar ini diyakini sebagai tanda tolak balak bagi masyarakat setempat. Pitung tawar salah satu ritual yang sangat ditunggu tunggu oleh banyak masyarakat di upacara adat Kebo Keboan Alasmalang.

Konon semua itu diyakini untuk mengusir semua penyakit serta memberikan keselamatan bagi yang menyakininya.

Pitung tawar sendiri juga melalui berbagai proses pross ritual, dengan dibacakan do’a do’a oleh sesepuh desa yang kemudian airnya diambil dari berbagai penjuru desa.

Setelah proses selsai, kemudian dibagi bagikan kepada masyarakat oleh pemangku adat desa setempat.

[Best_Wordpress_Gallery id=”9″ gal_title=”Adat Tradisi Banyuwagi”]

radisi kebo-keboan AlasmalangSelain pitung tawar juga ada hasil panen padi yang sudah di simpan. Padi tersebut juga akan dibagikan kepada masyarakat, ada yang percaya bahwa siapa saja yang mendapatkan padi itu jika ditanam di sawahnya akan menjadi kayakinan sendiri. Tanahnya akan menjadi subur kembali dan paanen melimpah tanpa ada halangan.

Kemudian iring iringan kerbau jadi jadian itu melakukan proses ider bumi. Dimana proses tersebut untuk menolak balak dan menjadikan Desa Alasmalang menjadi aman. Setiap penjuru atau pojok Desa selalu diadakan ritual.

Hingga Akhirnya ritual kebo keboan tersebut kembali ke perempatan untuk ritual dan pembagian padi tadi. Sebelum di bagikan Padi yang dipercaya membawa berkah itu akan diarak keliling desa.

Menariknya, ketika akan diadakan ngurit atau pembagian padi, Penonton akan berebut mengambil padi. Namun banyak kerbau jadi jadian tersebut mengahalanginya.

Penonton tidak peduli dengan apa tantanganya. Walau mereka hitam terkanal poletan kerbau, tetapi keinginan untuk memiliki padi yang membawa berkah itu tak dihiraukan, Karena mereka yakin dalam padi itu menyimpan berkah yang sngat baik sekali.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengapresiasi upacara adat Kebo Keboan ini. “Kebudayaan akan terus tumbuh di Banyuwangi, dengan menjaga kebudayaan seperti ini menjadikan dampak langsung dari desa itu,” cetusnya

Hadir dalam acara itu, Dirjen Kebudayan Kemendikbud (Dirjen) Kebudayaan, Hilmar Farid, beliau mengucapkan terima kasih kepada tokoh adat karena sudah menjadi tamu kehormatan di acara ini.

“Saya bangga bisa ada ditengah tengah upacara adat ini, di jalan menuju lokasi adat banyak melihat UMKM yang terus tumbuh. Satu kata untuk Alasmalang, hebat. Tradisi di Banyuwangi perlu dilestarikan guna menjaga nilai nilai kebudayaan,” pungkasnya

Sementara itu Ketua Panitia Indra Gunawan menjelaskan tradisi ini merupakan selamatan desa sebagai ucapan syukur masyarakat tani atas hasil limpahan panen dan doa buat musim tanam di tahun depan.

“Beberapa tahun lalu acara ini hanya sebatas kegiatan ritual biasa di desa, namun dengan sentuhan Pemkab, acara ini dikemas kolosal yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar,” pungkasnya.

Reporter: Rohman

Editor: Coi/Choiri

Pos terkait


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *