Kopi Rakyat Situbondo Tembus Ekspor Tiga Negara

  • Whatsapp

Dua kelompo taniAgus Setiono, Ketua Kelompok Kopi Rakyat Taman Dadar di Desa Curah Tatal. Dan Hj. Siti Suhaibah Ketua Kelompok Kopi Rakyat Kayu Mas di Desa Kayu Mas. Ft. Yons

KabarRakyat.ID – Panen kopi rakyat di desa, Curahtatal dan Kayu Mas, Arjasa, Situbondo berlimpah. Dua kelompok petani kopi rakyat sukses eksport kopi ke tiga negara. Yakni Amerika Serikat (USA), Hong Kong dan Belgia. Nilai eksportnya pun, cukup besar mencapai kurang lebih Rp. 50 miliar.Dibalik sukses petani kopi rakyat dua desa tersebut. Lagi-lagi keluhan sama tentang permodalan jadi kendala utama. Alasan mereka kebutuhan pasar internasional tinggi dan masih bisa didongkrak dari hasil kopi dari Situbondo. Keluhan lain, perhatian pemerintah pada perbaikan infrastruktur jalan ekonomi pedesaan belum maksimal.

“Infrastruktur jalan rusak jadi masalah karena menurut buyer biaya transportasi semakin tinggi jika akses jalan sangat sulit,” ungkap petani rakyat.

Adalah Agus Setiono, Ketua Kelompok Petani kopi rakyat Taman Dadar di Desa Curah Tatal. Dan Hj. Siti Suhaibah Ketua Kelompok Kopi Rakyat Kayu Mas di Desa Kayu Mas.

Keluhan petani kopi rakyat ini, menurut mereka, sudah sering disampaikan. Tapi belum ada perhatian. Padahal potensi perkebunan kopi di besar untuk meningkatkan kesejahteraan warga desa setempat. Asal ditunjang infrastruktur yang baik.

 

“Bayangkan saja, kopi Situbondo saat ini jadi incaran eksportir. Permintaannya banyak, hanya permodalan petani kami terbatas. Peran pemerintah untuk perbaikan akses jalan juga lamban,” ungkapnya.

Disampaikan pula, petani kopi rakyat di Situbondo tersebut, mempu produksi kopi jenis HS, standar internasional untuk kopi ekspor.

“Buyer megaku mutu kopi Situbondo terjamin. Karena dalam proses tanam hingga panen. Petani kopi rakyat menggunakan pupuk organik dari limbah kulit kopi dan kotoran hewan,” ungkap Agus Setiono, Selasa (13/8/2019).

Pada tahun 2019 ini, panen kopi kelompok Taman Dadar, kurang lebih sebanyak 400 – 600 ton kopi gelondong yang di ekspor. Dengan nilai ekspor sebesar antara Rp. 9 – 10 miliar. Harga beli dari buyer, Rp. 25 – 27 ribu perkilogram, HS basah. Sedangkan harga jual petani sebelum di proses (basah masih ada kulit) sebesar Rp. 8 – 9,5 ribu perkilogramnya.

Ditambahkan Hj. Siti Suhaibah, bahwa pada  tahun 2019, ekspor kopi rakyat dari Kelompok Kayu Mas terus meningkat, kurang lebih sebanyak 1.500 ton senilai, senilai Rp. 40 – 50 miliar.

Reporter : Yons

Editor : Choiri



Related posts

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *