Sunday, September 27, 2020
Home JATIM JEMBER Kuliner Nostalgia Pecel Pincuk Garahan

Kuliner Nostalgia Pecel Pincuk Garahan

REPORTERYusuf
- Advertisement -

KABAR RAKYAT – Sego pecel atau Nasi pecel kulinar khas Jawa Timur ini sangat bisa disajikan makan pagi, siang dan malam. Nasi pecel familier pada masyarakat Indonesia, Jawa timur pada khususnya. Banyak warung makan ataupun restaurant yang menawarkan kuliner ini.

Bahkan di beberapa daerah di branding mengikuti nama kota nasi pecel tersebut, di jual dengan penambahan dan penyesuain kekhasan daerahnya. Sebut saja ada pecel Madiun, pecel Blitar, Pecel Banyuwangi dan pecel pincuk Garahan (perbatasan Jember) itu sendiri.

Pecel Garahan mempunyai histori sendiri hingga saat ini berkembang banyak warung di sepanjang Jalan Raya Jember arah Banyuwangi, tepatnya di Desa Garahan Kecamatan Silo Kabupaten Jember.

‘Kukusan Semanggi’ Warung Bu Sulik di Gandrungi Pemburu Kuliner

Menurut Ibu Roni 41 tahun yang pedagang pecel Garahan, telah lama berjualan sejak 12 tahun lalu. Mulai ada peraturan PJKA diterapkn tidak diperbolehkan lagi berjualan di Stasiun Kereta Api Garahan.

“Sejak ada peraturan kereta api yang baru, kami tidak diperkenankan berjualn lagi di Stasiun 12 tahun lalu. Kami di pindah relokasi ditepi jalan bersama teman-teman pedagang nasi pecel pincuk lainya,” ungkap Ibu Rony mengkisahkan pengalaman dagang nasi pecel.

Pengunjung warung pecel Garahan

Dalam keseharianya berjualan di warung, Ibu Rony mngaku pembeli yang singgah banyak dari luar kota bahkan luar pulau.

Baca: Pemerintah Banyuwangi Gandeng Traveloka Percepat Pemulihan Ekonomi Pariwisata

“Alhamdulillah meski kami sudah tidk bisa jualan di stasiun kami difasilitasi relokasi ditepi jalan melayani pembeli pengguna jalan yang lewat, pembeli banyak yang dari luar kota mas, ada dari Surabaya, Jakarta bahkan Kalimantan banyak yang singgah,” tambahnya.

Pusat kuliner pecel pincuk Garahan memang sudah familier dikalangan pengguna jalan trans nasional Jember arah Banyuwangi lintas gumitir. Pecel Pincuk Garahan dengan ke khas “Sayur Junggul” yang selalu menyertainya dan menjadi ciri khasnya.

“Dulu nasi pecel disini hanya 1500 sekarang mulai 6000 perporsi, dan sekarangpun masih sangat diminati pembeli selain enak harganya juga murah kata pelanggan,” pungkasnya.

Baca: Relokasi PKL di Alun-alun Bondowoso Harus Bermanfaat

Dari kuliner ini para pedagang mengaku mampu menjual rata rata 50 porsi sehari atau setara menghabiskan 5 kg bahan beras, dengan nilai jual berfariatif mulai Rp. 6 ribu bila memakai lauk telor, Rp. 12 ribu bila memakai lauk ikan ayam atau sejenisnya dan minuman pendamping seperti teh hanya seharga Rp. 3 ribu saja.

Harga yang sangat ekonomis bagi musafir atau tempat singgah nakan saat bepergian ke ujung timur Banyuwangi atau kota selanjutnya ke Bali.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

POPULER