Friday, October 30, 2020
Home EKONOMI Masihkah Cengkeh Indonesia Menjadi Primadona di Masa Pandemi ?

Masihkah Cengkeh Indonesia Menjadi Primadona di Masa Pandemi ?

Penulis : Jody, Mahasiswa Politeknik Statistika, STIS

- Advertisement -

Indonesia negara penghasil cengkeh terbanyak di dunia. Dari zaman dahulu sampai sekarang cengkeh, rempah-rempah Indonesia, menjadi komoditi primadona di pasar dunia. Tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, cengkeh juga menjadi komoditi yang mendominasi ekspor Indonesia, yang menduduki peringkat kedua setelah Madagaskar.

Sebagai negara tropis dan asal dari  cengkeh, Indonesia memiliki potensi tinggi produksi Cengkeh. Tanaman ini tumbuh subur di lahan perkebunan yang luas. Contohnya, Provinsi Sulawesi Utara miliki lahan tanaman cengkeh terluas di Indonesia sedangkan di Provinsi Riau, DKI Jakarta, dan Kalimantan Tengah boleh dikatakan tidak ada area perkebunan cengkeh.

Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mencatat dari tahun 2015 sampai 2019 luas area perkebunan cengkeh selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 2018 luas area perkebunan cengkeh yaitu 568.892 hektar. Dari luasan tersebut sebagian besar sekitar 66,84% diusahakan oleh petani rakyat atau perkebunan rakyat yang  dibudidayakan secara monokultur maupun  tumpang sari dengan tanaman lainnya.

Di tahun 2019 angka sementara luas area cengkeh yaitu 569.416 hektar. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan dari tahun sebelumya. Untuk tahun 2020 diprediksikan adanya peningkatan kembali luas area perkebunan cengkeh sekitar 0,17%.

Penigkatan tersebut akibat adanya pendataan ulang oleh petugas kabupaten, juga diluncurkannya program Mengembalikan Kejayaan Rempah Indonesia, dimana jaman dahulu rempah-rempah Indonesia merupakan penyuplai utama pasar di dunia.

Data cengkeh yang dihimpun oleh Direktorat Jenderal Perkebunan ialah Cengkeh dalam wujud produksi bunga kering, Provinsi Maluku, provinsi penghasil Cengkeh terbesar di Indonesia dari Tahun 2015 dengan kontribusi rata-rata sebesar 15,37%.

Meskipun luas pengembangan di provinsi ini tidak seluas di provinsi-provinsi di Pulau Sulawesi, tetapi memiliki produktivitas yang tinggi dimana berpengaruh pada jumlah produksi. Salah satu faktor penentu besarnya produksi adalah banyak varietas unggul cengkeh berasal dari wilayah Provinsi Maluku, bahkan merupakan wilayah asal mula komoditas cengkeh.

Dikenal dengan negara agraris tentunya sektor pertanian berperan penting bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kontribusi subsektor perkebunan terhadap sektor pertanian cukup besar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), selama masa pandemi ini kontribusi subsektor perkebunan dalam PDB (Produk Domestik Bruto) pada kuartil pertama tahun 2020 sekitar 3,14% yang menunjukkan berada pada posisi pertama di sektor pertanian.

Pada kuartil kedua tahun 2020 sekitar 3,9%, meningkat dari kuartil sebelumnya namun berada pada posisi kedua setelah subsektor tanaman pangan.

Kedatangan Pandemi COVID-19 membuat begitu pelik bagi Indonesia maupun dunia. Hal ini mengakibatkan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan. BPS mencatat ekonomi Indonesia triwulan II-2020 terhadap triwulan II-2019 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 5,32 persen. Walaupun laju pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun, sektor pertanian tetap mengalami kenaikan.

Pertanian juga menjadi satu-satunya sektor dari lima penyangga utama PDB yang tumbuh positif sepanjang periode ini. Laju pertumbuhan PDB Sektor pertanian mengalami kenaikan sekitar 2,19% dengan menunjukkan subsektor perkebunan meningkat sebesar 0,17%.

Pertumbuhan postif di sektor pertanian khususnya subsektor perkebunan perlu di apresiasi karena pemerintah melalui Kementrian Pertanian (Kementan) terus berupaya dan bekerja bersama petani untuk meningkatkan produksi pertanian di saat pandemi ini. Apalagi, orientasinya tidak hanya pada produksi namun juga pemerintah terus mendorong peningkatan ekspor pertanian.

Cengkeh memang telah menarik perhatian pasar dunia. Di Indonesia, sebagian besar cengkeh banyak diserap untuk memenuhi industri kretek. Tidak hanya itu, cengkeh juga digunakan sebagai bumbu masakan pedas. Di negara importir biasanya cengkeh digunakan sebagai bahan campuran kosmetik dan obat-obatan.

Melansir dari data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, tercatat total volume ekspor tanaman cengkeh Januari-Juli 2020 sekitar 17,22 ribu ton. Angka ini jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019 menunjukkan kenaikkan sekitar 32,27%.

Dilihat dari nilai ekspor komoditi cengkeh bulan Januari sampai Juni 2020 nilai ekspor cengkeh cenderung mengalami penurunan. Hal ini diperkirakan terjadi karena kualitas hasil produksi yang kurag baik serta ekonomi dunia yang sekarang sedang dalam keadaan tidak baik. Tetapi di bulan Juli terlihat nilai ekspor cengkeh meningkat.

Pemasok cengkeh terbanyak untuk negara lain berasal dari Provinsi Jawa Timur. Menariknya lagi, Provinsi DKI Jakarta yang tidak mempunyai lahan perkebunan cengkeh juga menjadi salah satu provinsi yang mengekspor komoditi ini.

Negara importir untuk tanaman cengkeh cukup banyak salah satunya India. India menjadi negara importir cengkeh terbesar. Tercatat Juli 2020, Indonesia mengekspor cengkeh ke negara tersebut sekitar 736 ribu ton dengan nilai ekspor sebesar 2,49 juta US Dollar.

BPS bersama Kementan telah memperlihatkan data bahwa di masa pandemi ini komoditi cengkeh masih terus berproduksi dengan baik serta terjadi peningkatan produksinya. Oleh karena itu, ekspor komoditi ini juga terus di genjot. Tidak dapat kita pungkiri, komoditi ini juga andalan Indonesia untuk ekspor.

Memang kondisi pandemi COVID-19 terasa sulit, tetapi pemerintah terus berupaya dengan segala kebijakannya mengembalikan ekonomi Indonesia. Khususnya bidang pertanian dalam hal ini Kementerian Pertanian akan berusaha untuk meningkatkan laju PDB sektor pertanian serta menigkatkan produksi, volume ekspor, dan mengurangi impor di setiap subsektor pertaian.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

POPULER

error: Selamat Membaca