Menengok Tradisi ‘Arebbe Lontong’ Di Surau Tertua Bondowoso

207 views
banner 468x60)

banner 468x60)
Menengok Tradisi ‘Arebbe Lontong’ Di Surau Tertua Bondowoso

Foto: TRADISI LEBARAN. Di Ponpes Nurul Islam Desa Poncogati di Kecamatan Curahdami yang berdiri sejak tahun 1768 Masehi. (Ifa)

KABARRAKYAT.ID – Berbagai tradisi turun temurun dalam memeriahkan Hari Raya Idul Fitri dilakukan masyarakat di Jawa Timur. Khususnya di pesantren tertua di Kabupaten Bondowoso, Ponpes Nurul Islam Desa Poncogati di Kecamatan Curahdami yang berdiri sejak tahun 1768 Masehi.

Tradisi tersebut rutin dilakukan saat hari ke 7 setelah Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal yakni Lebarana Ketupat. Hingga sekarang masih tetap dilestarikan, salah satunya adalah mengantarkan ketupat lontong atau lebih dikenal dengan istilah ‘Arebbe Lontong’ ke Surau Tertua di kabupaten ini.

Tradisi yang sudah turun temurun itu masih dilakukan oleh masyarakat setempat. Dimana warga tersebut setiap tanggal 7 Syawal, beramai-ramai mengantarkan makanan berupa lontong atau ketupat ke masjid maupun musholla.

Kemudian makanan tersebut disajikan pada saat selesai melaksanakan ngaji maupun dzikir dan sholawatan.

“Ini sudah menjadi tradisi masyarakat daerah sini tiap tanggal 7 Syawal, sehingga makanan lontong dan ketupat yang mereka bawa ke Masjid maupun Musholla di makan secara bersama-sama. Tetapi sebelum di makan warga yang ada surau berdoa terlebih dahulu, supaya selamat dunia akhirat dan bisa melanjutkan beribadah dengan lancar setelah menjalankan puasa selama sebulan, kemarin,” ujar Abdul Mu’is As’ad Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam Poncogati, Rabu (12/6/2019).

Disebutkan, bahwa kebiasaan mengantar makanan ke masjid maupun surau dalam bahasa Madura disebut Arebbe. Hal itu merupakan sebuah bentuk rasa syukur masyarakat dapat melaksanakan Ibadah Puasa di bulan suci Ramadhan dan meraih kemenangan saat Hari Raya Idul Fitri.

Selain itu juga bertujuan mempererat tali persaudaraan antar sesama warga dengan cara makan bersama dari makanan yang telah disuguhkan oleh warga setempat.

“Kebiasaan ini sudah menjadi sebuah tradisi turun temurun yang hingga kini tetap dilestarikan oleh masyarakat. Jadi biasanya, sejak kemarin masyarakat sibuk membuat selongsong ketupat atau lontong dan untuk dibawa ke masjid maupun surau,” jelasnya.

Dari data yang berhasil dihimpun kru kabarrakyat.id, bahwa pesantren Nurul Islam Poncogati Kabupaten Bondowoso, merupakan pesantren tertua di kabupaten ini.

Pendirinya adalah KH Hasbullah yang biasa dipanggil dengan sebutan Bujuk Ajjih yang kemudian dilanjutkan oleh KH Djakfar Shidoq dan dilanjutkan oleh KH Tuan Ikrom.

Reporter : Ifa

Editor : Choiri

banner 468x60)

#bondowoso #pesantren tertua #Ponpes Nurul Islam #tradisi merayakan lebaran

Author: 
    author

    Related Post

    banner 468x60)

    Leave a reply