Mengenal Sosok Laila, Banser Cantik Desa Sukorejo

  • Whatsapp
Banser cantik Sukorejo copy
Alful Lailatun Nikmah, Banser Sukorejo, Bangorejo, Banyuwangi. Ft. Jaenudin/ KabarRakyatID

KabarRakyat.ID – Anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama, kebanyakan pria berbadan kekar dan berwajah sangar.  Ternyata ada Banser berparas cantik, ikut ambil bagian pengamanan diacara Kirab Santri, dalam rangka HUT RI ke-74 digelar, kemarin, Jum’at (16/8/2019).

Banser cantik itu adalah,  Alful Lailatun Nikmah, usia 23 tahun, status masih singgle, tinggal di Dusun/Desa Sukorejo, RT1/RW7, Kecamatan Bangorejo. Maklum saja, dalam peristiwa menggemparkan PSHT di Desa Sukorejo, baru ini, sekilas ada perempuan ikut menjaga keamanan lingkungan bersama anggota Banser pria lainnya.

Read More

Baca juga:

Rasa penasaran penulispun, kembali bertemu dalam acara kirab santri di Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo, Alful Lailatun Nikmah ikut mengamankan acara tersebut.

“Meskipun ia jadi cewek satu-satunya anggota Banser. Saya tidak minder, malah bangga berseragam doreng khas Banser NU,” ungkap Laila atau Alful, sapaan akran Banser tersebut.

Laila atai Alful, ternyata dua tahun aktif menjadi anggota Banser NU, Sukorejo, Bangorejo. Meskipun kata orang tidak lazim, sebagai warga nahdliyin, yang mengemban amanat para ulama Laila memilih menyumbang tenaga dan fikiran untuk NU lewat berjuang di baris organisasi Banser.

Banser Cantik Laila atau Alful (1)
Banser Laila bersama rekannya saat pengamana kegiatan di Desa Sukorejo, Bangorejo. Ft. Jaenudin

“Iya ini merupakan salah satu dari cita-cita saya ingin bergabung dan mengabdi di NU,” ujarnya.

Yang patut dibanggakan, ternyata Laila aktif menjalani studi akhir, sebagai mahasiswa semester tujuh di Fakultas Ekonomi, Universitas 17 Agustus (UNTAG) 1945 Banyuwangi.

“Saya dibesarkan dari keluarga NU. Oleh sebab itu, saya merasa jika dirinya harus bermanfaat di organisasi NU,” ungkap Laila tegas.

Tidak hanya di Banser saja, Laila juga aktif di organisasi IPPNU, LazisNU dan PMII.

“Saya hanya ingin berperan aktif di organisasi NU dan itu sudah menjadi pilihan hidup saya,” ucapnya.

Menjadi anggota Banser tidak membuat dirinya merasa minder atau pun terbebani meskipun setiap kali ada kegiatan bekerja dengan para pria bertubuh kekar. Dan Ia merasa senang dapat mengamankan setiap kegiatan yang diadakan di desanya.

“Kalau bukan dari diri sendiri yang berperan aktif untuk membangun desa lalu siapa lagi,” imbuhnya.

Gadis kelahiran Banyuwangi, 20 Juni 1996 ini ingin mengeksplore diri, mampu ditempatkan dimana saja, meskpun takdir dilahirkan sebagai perempuan.

“Rekan Banser saat ini sudah banyak, saya hanya bagian kecil dari perempuan di NU,” pungkasnya.

Reporter: Jaenudin

Editor: Richard



Related posts

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *