Saturday, October 31, 2020
Home EKONOMI Meningkatkan Produktivitas Kelapa Sawit Perkebunan Rakyat Indonesia

Meningkatkan Produktivitas Kelapa Sawit Perkebunan Rakyat Indonesia

Penulis : Fani Fajriani / Mahasiswi STIS

- Advertisement -

Indonesia terkenal sebagai Negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat berlimpah. Dilihat dari sisi geografis, Indonesia berada pada daerah tropis yang memiliki curah hujan yang tinggi sehingga banyak jenis tumbuhan yang dapat hidup dan tumbuh dengan cepat.

Selain itu, Indonesia juga dikenal sebagai Negara agraris karena sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar yaitu sekitar 12,81 persen pada tahun 2018.

Perkebunan merupakan subsektor yang memiliki kontribusi dengan urutan pertama dalam PDB Indonesia dari sektor pertanian. Hasil perkebunannya antara lain karet, tembakau, kapas, kopi, tebu dan kelapa sawit. Salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peranan penting itu adalah kelapa sawit.

Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan penghasil minyak makanan, minyak industri maupun bahan bakar nabati (biodiesel). Kelapa sawit memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi maupun sosial.

Sebagai salah satu komoditas ekspor pertanian terbesar Indonesia, menjadikan kelapa sawit sebagai sumber penghasil devisa maupun pajak yang besar dan juga mampu menciptakan kesempatan dan lapangan pekerjaan, khususnya bagi masyarakat pedesaan agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurut situs indexmundi.com, Indonesia merupakan negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Indonesia mempunyai potensi yang besar untuk memasarkan minyak sawit dan inti sawit baik di dalam maupun luar negeri.

Pasar potensial yang akan menyerap pemasaran minyak sawit (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) adalah industri fraksinasi/ranifasi (terutama industri minyak goreng), lemak khusus (cocoa butter substitute), margarine/shortening, oleochemical, dan sabun mandi.

Pulau Sumatera dan Kalimantan adalah pulau yang paling banyak menghasilkan kelapa sawit. Provinsi yang paling berperan penting dalam produksi kelapa sawit ini adalah Riau, Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Jambi, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, dan juga beberapa provinsi lainnya.

Luas dan Produksi

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa luas areal perkebunan sawit Indonesia dari tahun 2014-2018 cenderung menunjukkan peningkatan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2014 lahan perkebunan kelapa sawit Indonesia sebesar 10,75 juta hektar, kemudian terjadi peningkatan di tahun 2015 menjadi 11,26 juta hektar.

Namun, pada tahun 2016 terjadi sedikit penurunan pada luas lahan sebesar 0,52%. Untung saja hal ini hanya terjadi di tahun 2016. Tahun berikutnya, 2017, luas perkebunan kelapa sawit kembali mengalami peningkatan menjadi 12,38 juta hektar atau sebesar 10,55%.

Selanjutnya tahun 2018 juga mengalami peningkatan luas perkebunan sebesar 3,11% dengan luas lahan perkebunan sawit di 2018 sekitar 12,77 juta hektar.

Peningkatan luas lahan perkebunan sawit diiringi dengan peningkatan produksi minyak sawit. Peningkatan produksi minyak sawit dari 2014-2018 berkisar sebesar 1,35% sampai 10,96%. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), peningkatan terbesar terjadi pada tahun 2017 yaitu sebesar 10,96% atau sekitar 3,45 juta ton.

Tahun 2016 produksi minyak sawit sebesar 31,49 juta ton, tahun ini merupakan peningkatan produksi terkecil selama lima tahun ke belakang yaitu sebesar 1,35%. Selanjutnya di tahun 2018 juga mengalami peningkatan produksi minyak sawit menjadi 37,89 juta ton.

Luas dan Produksi menurut Status Pengusahaannya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), menurut status pengusahaannya, untuk produksi minyak sawit pada tahun 2018, lebih dikuasai oleh perkebunan besar swasta yaitu mampu memproduksi sekitar 20,49 juta ton (54%) dengan luas yang diusahakannya sekitar 49,78% atau setara dengan 6,36 juta hektar.

Kemudian, produksi kedua terbesar diusahakan oleh perkebunan rakyat sebesar 15,30 juta ton (40,37%) dengan luas perkebunannya sekitar 45,57% atau setara dengan 5,82 juta hektar.

Terakhir, diusahakan oleh perkebunan besar Negara dengan jumlah produksi sekitar 2,1 juta ton (5,54%) dengan luas yang diusahakannya sekitar 4,65% atau setara dengan 0,59 juta hektar.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa produksi perkebunan rakyat rendah? padahal luas yang diusahakan perkebunan rakyat dapat dikatakan cukup besar.

Produktivitas menurut Status Pengusahaannya

Berdasarkan situs databoks.katadata.co.id yang bersumber dari data Kementerian Pertanian, Produktivitas kelapa sawit nasional pada tahun 2018 sekitar 3.517,33 Kg/Ha/Tahun.

Jika dilihat produktivitas dari status pengusahaannya, produktivitas perkebunan besar baik milik swasta maupun Negara berada di atas produktivitas kelapa sawit nasional yaitu masing-masing bernilai sekitar 3.851,76 Kg/Ha/Tahun dan 4.061,91 Kg/Ha/Tahun.

Namun berbeda halnya dengan produktivitas perkebunan rakyat yang masih berada di bawah produktivitas nasional yaitu sekitar 3.065,95 Kg/Ha/Tahun.

Usaha Meningkatkan Produktivitas Pekebunan Rakyat

Saat ini masih terdapat ketimpangan produktivitas kelapa sawit antara perkebunan rakyat dengan perkebunan besar, baik perusahaan negara maupun swasta.

Salah satu penyebab rendahnya produktivitas kelapa sawit rakyat tersebut adalah karena teknologi produksi yang diterapkan masih relatif sederhana, mulai dari tahap pembibitan sampai dengan tahap panennya.

Beberapa petani sawit perkebunan rakyat tidak menggunakan bibit yang berkualitas. Begitu juga dengan penggunaan pupuk dinilai kurang memadai.

Bahkan, para petani perkebunan rakyat kurang melakukan perawatan tanaman dengan baik seperti penyiangan gulma, pruning atau pemangkasan, pemberatasan hama, dan penyakit. Hal ini mengakibatkan kurangnya produktivitas kelapa sawit perkebunan rakyat di Indonesia.

Untuk dapat menyeimbangkan produktivitas perkebunan rakyat dengan perkebunan besar seperti perkebunan swasta dan Negara perlu dilakukan berbagai upaya seperti, memberikan sosialisasi kepada petani bagaimana cara pengelolaan kebun yang baik, pemilihan bibit yang unggul, dan penggunaan pupuk yang berkualitas agar dapat meningkatkan produktivitas sawit.

Selain itu, dengan memanfaatkan penggunaan teknologi seperti menggunakan GPS untuk pengumpulan data dan memonitor tanaman dan produk sawit.

Pemerintah juga menyiapkan lima strategi peningkatan produktivitas perkebunan sawit rakyat antara lain dengan melakukan peremajaan sawit, distribusi bibit unggul, pendampingan petani, peningkatan kelembagaan petani, dan percepatan sertifikasi ISPO dan RSPO.

Hal ini dilakukan agar dapat memperkuat posisi dan daya saing komoditas unggulan kelapa sawit Indonesia jika tidak ingin kalah saing dengan negara lain, apalagi tersingkir dalam persaingan di pasar minyak nabati dunia.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

POPULER

error: Selamat Membaca