Jumat, November 27, 2020
Beranda JATIM BANYUWANGI Mocoan Lontar Yusuf Terpilih Menjadi Warisan Budaya Tak Benda dari Pusat

Mocoan Lontar Yusuf Terpilih Menjadi Warisan Budaya Tak Benda dari Pusat

REPORTERChoiri/hms
Mewakili Pemerintah Pusat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, langsung Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyerahkan penghargaan berupa Sertifikat Mocoan Lontar Yusuf kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

KABAR RAKYAT – Tradisi Mocoan Lontar Yusuf dari Banyuwangi terpilih sebagai Warisan Budaya yang masih bertahan dan terus dilakukan oleh masyarakat dari pemerintaha pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Atas dipilihnya Mocoan Lontar Yusuf dari Kemendikbud RI,  mewakilkan pada Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa yang didampingi Wagub Emil Elestianto Dardak, menyerahkan Sertifikat untuk Mocoan Lontar Yusuf sebagai Warisan Budaya Tak Benda kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dalam Aktivasi Seni Budaya Daerah 2020 di Pantai Villaa Solong, Sabtu malam (14/11/2020).

Pemberian penghargaan dari pemerintah pusat ini juga diberikan kepada sejumlah kepala daerah Bupati dan Walikota sebagai bukti kepedulian pemerintah pusat terhadap semangat terus menjaga dan melestarikan warisan luhur budaya daerahnya masing-masing.

Kesempatan itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Sinarto menjelaskan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan Mocoan Lontar Yusuf sebagai tradisi budaya masyarakat Osing Banyuwangi yang harus dilestariakan.

“Hasil penilaian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah menetapkan salah satu tradisi Mocoan Lontar Yusuf sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Banyuwangi,” ujar Sinarto.

Baca : Gowes Sambang Jember, Gubernur Khofifah Taat Pakai Masker dan Dorong Beli UMKM Lokal

Dikatakan Sinarto, total ada 20 sertifikat Warisan Budaya Tak Benda yang diberikan oleh pemerintah pusat. Salah satunya Mocoan Lontar Yusuf, Banyuwangi.

Sertifikat WBTB adalah sebuah pengakuan pemerintah terhadap tradisi budaya yang masih bertahan di daerah. Pengakuan oleh pemerintah akan nilai-nilai budaya tetap lestari dan memudahkan langkah untuk memajukan kebudayaan tersebut.

Mocoan Lontar Yusuf merupakan tradisi yang masih bertahan hingga kini terus melekat di masyarakat suku Osing Banyuwangi disaat warga sedang melaksanakan hajatan pernikahan, sunatan dan lainnya.

Lontar Yusuf, diakui masyarakat kitab kuno yang tertulis dengan aksara pegon dan berisi tentang Kisah Nabi Yusuf. Bentuknya berupa puisi tradisional yang terbungkus dalam aturan yang disebut pupuh. Total dalam Lontar Yusuf terdapat 12 Pupuh, 593 bait dan 4.366 larik.

Baca : Dosen Poliwangi Dorong Optimalisasi Pemanfaatan Marketing Digital

“Alhamdulillah, budaya dan tradisi Banyuwangi kembali menjadi Warisan Budaya Tak Benda, melengkapi tradisi lain yang telah ditetapkan sebelumnya. Apresiasi ini akan menambah semangat untuk terus lebih giat menjaga dan melestarikan tradisi luhur Banyuwangi,” kata Bupati banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Sebelumnya, sejumlah budaya tradisi Banyuwangi juga telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda. Antara lain Janger, Seblang Olehsari dan Bakungan, hingga Keboan Aliyan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi MY. Bramuda menambahkan Mocoan Lontar Yusuf merupakan salah satu tradisi suku Osing Banyuwangi yang dipertahankan dari menciptakan ke generasi.

Tradisi yang erat dengan kehidupan spiritualitas warga Osing hidup dan terus dilestarikan oleh warga hingga saat ini.

Baca : Teguh Hariyanto : Tips Parkir Motor Agar Aman

Tim Kementerian telah melakukan proses validasi atas tradisi ini. Mereka datang langsung ke Desa Kemiren tempat bermukim warga Osing Banyuwangi.

“Mereka melihat bagaimana warga membacakan Lontar Yusuf dengan gaya dan kekhasannya. Tidak hanya oleh generasi tua namun menciptakan muda juga aktif melakukan pembacaan Lontar Yusuf ini. Dan akhirnya mereka memutuskan Mocoan Lontar Yusuf masuk sebagai Warisan Budaya Tak Benda,” ujar Bramuda.

Pembacaan lontar Yusuf dilakukan pada saat-saat tertentu yang penting. Misalnya mengiringi prosesi adat seperti adat Seblang di Kelurahan Bakungan, dan tradisi Tumpeng Sewu di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah.

Dapat juga di prosesi selamatan yang berkaitan dengan siklus kehidupan. Seperti proses kelahiran, khitan dan perkawinan. Pembacaan ini biasanya dimulai selepas isya dan baru berakhir menjelang subuh.

Saat ini, naskah Lontar tersimpan di sejumlah masyarakat Banyuwangi. Salah satu naskah tertua berangka tahun 1829 atau sekitar 1890-an dalam kalender masehi.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

POPULER

error: Selamat Membaca