Murid Baru SMKN 1 Kalipuro Jadi Korban Kekerasan

  • Whatsapp

Kegiatan pendidikan di SMKN 1 Kalipuro (dok/net)

KABARRAKYAT.ID – Kekerasan di dunia pendidikan terjadi di Bumi Blambangan, Banyuwangi. Empat pelajar SMK Negeri 1 Kalipuro atau Sekolah Pelayaran Niaga diduga jadi korban penganiayaan rekannya sendiri.

Ironisnya, kekerasan fisik ini terjadi atas perintah seniornya. Kasus ini telah ditangani aparat Polsek Kalipuro. Kekerasan fisik terhadap para siswa baru ini terjadi sekitar seminggu lalu.

FADZ (15), merupakan salah satu pelajar yang melaporkan kasus ini. Ketika itu, pelajar asal Jalan Agung Wilis, Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi ini tidak masuk sekolah lantaran sakit. Setelah sehat dan masuk sekolah justru mendapat hukuman fisik dari seniornya.

Akibat kekerasan itu, FADZ, mengalami luka memar dan lebam di bagian wajah. Orang tua korban kaget melihat putranya pulang sekolah mengalami perubahan fisik. Tak terima atas kejadian ini, korban mengadukannya ke polisi.

Sahrir (44), orang tua FADZ, mengaku bila Sabtu pekan lalu anaknya tidak masuk sekolah. Tapi dia sudah ijin. Senin tak masuk lagi dan tanpa surat pemberitahuan.

“Pas apel pagi dipanggil oleh seniornya agar maju. Ada anak empat yang tidak masuk dan ditampar bergantian oleh rekan sekelasnya atas perintah seniornya. Disuruh menampar yang keras, jika tidak akan dihukum oleh kakak kelasnya,” kisah Sahrir.

Imbasnya, korban mengeluh pusing dan minta ijin pulang lebih awal. Semula salah satu guru telah mengizinkan. Namun ijin itu dibatalkan oleh Kepala Sekolah SMKN 1 Kalipuro, Yuswardiman.

“Akhirnya korban tak jadi pulang. Esoknya kita lakukan visum karena untuk makan sakit,” ungkapnya kepada wartawan.

Sahrir berharap, proses hukum berlanjut. Disiplin tidak harus dijalankan dengan tindak kekerasan. Karena pascakejadian anaknya tak sekolah lagi.

“Okelah sekolah menerapkan pendidikan semi militer. Tapi kalau melakukan penamparan jelas kita tolak,” tambahnya.

Versi Yuswardiman, pihak sekolah telah menurunkan tim pencari fakta. Terkait insiden itu pihak sekolah tidak tahu.

“Pelajar yang tidak masuk memang dihukum fisik seperti gelundungan dan push up. Itu atas kesepakatan pelajar sendiri. Pendidikan memang semi militer karena dunia kerjanya di laut dan keras,” dalihnya.

Reporter: */din

Editoe: Coi/Choiri

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *