Nasi Tiwul Organik ‘Gunung Wilis’ Kediri Jadi Kuliner Favorit

  • Whatsapp

usaha tiwul
Poniem, si perempuan Desa Pagung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri dikenal aktif dalam organisasi pertanian organik ini berhasil menciptakan tiwul organik dalam kemasan.

KABAR RAKYAT – Masyarakat di lereng Gunung Wilis Kabupaten Kediri, tetap mempertahankan dan mengkonsumsi Nasi Tiwul, yakni kuliner tradisional sudah ada sejak jaman moyang mereka dahulu hingga sekarang.

Bahkan Nasi Tiwul yang dibuat dari gaplek (ketela yang dijemur) itu kini jadi menu makanan favorit, warga Dusun Sekar Putih Desa Pagung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri.

Salah satu warga Dusun Sekar Putih yang melestarikannya hingga kini adalah Poniem. Bahkan, perempuan desa yang aktif dalam organisasi pertanian organik ini berhasil menciptakan tiwul organik dalam kemasan.

“Bagi masyarakat disini tiwul menjadi menu istimewa. Kami lebih sering memasak tiwul daripada nasi putih (beras). Terlebih apabila ada saudara yang datang, kami pasti memasaknya karena memang dicari,” ujar Poniem.

Di Dusun Sekar Putih yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan telah mempertahankan menu tiwul sejak nenek moyang. Poninem dan sesama petani wanita berusaha memasarkan menu khas tersebut agar bisa diterima oleh khalayak umum. Itu sebabnya, mereka melahirkan kemasan tiwul organik 1 kilogram (kg) yang dibandrol Rp 10 ribu.

Dijelaskan Poniem, selain bebas bahan kimia, tiwul buatan masyarakat Dusun Sekar Putih memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Tiwul cocok untuk mencegah kolesterol dan penyakit diabetes, karena rendah kandungan kadar gulanya.

“Bahan tiwul dari ketela ditanam di hutan tanpa pupuk kimia. Berbeda dengan padi yang banyak memakai pupuk kimia. Sangat cocok untuk mencegah diabetes dan kolesterol,” imbuhnya.

Poniem mengaku, proses pembuatan tiwul cukup panjang. Mulai dari pengupasan ketela. Kemudian dibersihkan menggunakan air. Selanjutnya, ketela dijemur di bawah terik matahari untuk mendapatkan gaplek.

Berikutnya digiling sehingga menjadi tepung tapioka. Setelah menjadi tepung, kemudian ditanak menjadi butiran tiwul lalu dikemas.

“Bila sudah menjadi butiran tiwul, dijemur kembali sebelum akhirnya dikemas. Jika ingin memasaknya cukup ditanak seperti beras,” imbuh Poniem.

Dari bahan gaplek tersebut, masyarakat setempat dapat menciptakan beberapa menu olahan. Utamanya untuk nasi tiwul, gatot (rendaman gaplek ditanak dan dicampur parutan kelapa dan garam), gunung rembes (nasi tiwul dicampur parutan kelapa dan gula merah).

Diakui Poniem, masyarakat setempat mengalami persoalan pemasaran produk tiwul organik tersebut. Selain lokasi produksi masuk daerah nan jauh dari keramaian.

Kebanyakan dari mereka masih belum familiar dengan teknologi informasi (TI) untuk pasarkan produk Nasi Tiwul organi. Terlebih di era pandemi ini, permintaan produk mereka menurun drastis.

“Selama ini baru terjual untuk seputaran wilayah Kecamatan Semen saja dan sebagian daerah di Kabupaten Kediri,” pungkas Poniem.***

Pos terkait


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *