Selasa, November 24, 2020
Beranda JATIM BONDOWOSO Pendampingan Intensif Petani Kopi Bondowoso Di Tengah Pandemi

Pendampingan Intensif Petani Kopi Bondowoso Di Tengah Pandemi

REPORTERIfa Bahsa

KABAR RAKYAT– Kabupaten Bondowoso dikenal sebagai Republik Kopi. Namun setahun terakhir pengembangan kopi di Bondowoso kurang maksimal. Kopi Bondowoso yang dikenal hingga kancah Internasional adalah kopi arabika Java Ijen. Kopi tersebut memang dikembangkan dan dibudidayakan di lereng gunung Ijen.

Ketua tim pendamping, Ir Bambang Kusmanadhi, M.Sc, mengatakan, kopi yang dibudidayakan di lereng Pegunungan Argopuro belum banyak mendapatkan pendampingan. Sehingga kopi lereng pegunungan Argopuro kualitasnya kurang baik. Petani kopi Desa Curahpoh yang tergabung dalam LMDH Argo Santoso, belum melakukan penanganan pascapanen kopi dengan baik.

” Sehingga kami bersama Tim Dosen PS Ilmu Pertanian, Faperta, Unej Kampus Bondowoso ingin membina petani Kopi Curahpoh supaya dapat melakukan penanganan pascapanen kopi dengan baik,” katanya  saat dikonfirmasi, Sabtu (21/11/2020).

Menurutnya, panen buah kopi yang baik adalah panen buah kopi yang sehat, bernas dan petik merah kopi merah. Kopi merah memiliki mutu fisik biji dan citarasa paling baik. Bahan baku yang baik dengan pengolahan kopi yang baik maka akan memunculkan citarasa kopi.

” Pada tahap awal, tanggal 14 Oktober 2020 kami memberikan sosialisasi penen kopi yang baik. Tentunya sosialisasi tetap menerapkan protokol keamanan Covid 19. Hasil sampling kami dalam melihat kualitas panen di beberapa petani kopi Curahpoh. Yaitu buah merah hanya 41,7% dan 58,3% buah hijau dan jelek atau busuk. Jelas hal ini yang menyebabkan kualitas kopi Curahpoh tidak baik,” jelasnya.

Penting diketahui bahwa terdapat dua cara pengolahan buah kopi, yakni pengolahan cara kering dan pengolahan cara basah. Pengolahan basah akan menghasilkan kualitas kopi yang lebih baik. Petani kopi Curahpoh saat ini semuanya melakukan pengolahan kopi kering.

Selain itu, petani juga memanfaatkan mesin penggilingan padi, dalam proses pemisahan kuliat buah dan kulit tanduk kopi untuk menghasilkan biji Oce Kopi. Mesin yang tidak sesuai spesifikasi menyebabkan banyaknya biji Oce Kopi yang pecah.

” Tanggal 18 Nopember 2020, kami mengajak petani kopi Curahpoh untuk mengenalkan beberapa peralatan mesin olah kopi di Laboratorium Teknologi Panen dan Pasca Panen Kopi, PS Ilmu Pertanian, Faperta, Unej Kampus Bondowoso. Kegiatan ini juga tetap menerapkan protokol keamanan Covid 19,” terangnya.

Beberapa peralatan yang dikenalkan yaitu mesin Pulper, Washer, Huller, Roasting dan Grinder Kopi. Pada kesempatan tersebut pihaknya juga memberikan contoh tentang pemisahan kulit buah dan kulit tanduk kopi dengan menggunakan Huller. Hasilnya, Biji Oce Kopi lebih baik dan tidak banyak yang pecah.

” Itu juga dibenarkan oleh petani kopi yang mengikuti kegiatan. Sedikit sekali yang pecah bijinya. Kalau pakai mesin penggilingan padi banyak sekali yang pecah,” pungkasnya.

EDITORSetiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

POPULER

error: Selamat Membaca