Rabu, Januari 20, 2021
Beranda EKONOMI Perajin Tenun Ikat Kediri Banjir Pesanan di Tengah Pendemi

Perajin Tenun Ikat Kediri Banjir Pesanan di Tengah Pendemi

REPORTERMuajijin/Jin

KABAR RAKYAT – Meski di masa pandemi namun para perajin tenun ikat di Kelurahan Bandarkidul Kota Kediri justru banjir pesanan. Tenun ikat yang dibuat secara manual tersebut, juga menarik minat konsumen dari luar negeri. Bahkan, para perajin tenun ikat kewalahan memenuhi permintaan dari para konsumen.

Dalam sehari, seorang perajin tenun ikat hanya mampu menghasilkan 1,5 lembar kain ukuran 250×90 cm. Sehingga untuk memenuhi permintaan pasar para perajin kewalahan.

“Ada pesanan dari luar negeri, terpaksa kami tolak karena kami tak bisa mencukupi kuantitasnya,” kata Eko Hariyanto, salah-satu pengusaha tenun ikat , Senin (30/11/2020).

Eko mengaku, untuk mencukupi pesanan dari dinas dan perusahaan di lingkup Kota Kediri saja masih kurang.

Ia juga mencoba skema dengan KUB (Kelompok Usaha Bersama) Tenun Ikat Kediri yang sudah ada di Bandar Kidul dengan Eko pernah menjadi ketuanya. Skemanya misalnya satu pengusaha kebanjiran order, mengambil barang milik pengusaha lain untuk memenuhi.

Ternyata ini pun tak bisa sebab masing-masing pengusaha juga berusaha memenuhi pesanan. “Promosi dari Pemkot mulai dengan DSF (Dhoho Fashion Street), dengan pameran, juga anjuran untuk pakai tenun bagi staf dinas memang menaikkan pesanan hingga semua produk terserap,” tambah Eko.

Namun sebagaimana karakter produk buatan tangan, skala produksi memang kecil. Bila ingin menambah volume produksi, maka harus menambah tenaga kerja. Ini tidak mudah. Selain perlu menambah ATBM, juga penenunnya. Eko mulai membina generasi muda, usia 20 tahunan yang minat dengan tenun.

Butuh waktu 2-3 bulan untuk menjadi penenun yang bisa diandalkan. “Tapi kami tetap ingin mempertahankan ATBM, sebab ini “jualan” kita. Ini uniknya yang diakui orang luar sana.”tambah Eko.

Tenun ikat kediri kini semakin banyak dikenal di luar kota. Beda sekali dengan 5 tahunan silam ketika ia ikut pameran di Jakarta. Orang tidak tahu bahwa di Kota Kediri ada tenun ikat.

Jadi, promosi yang telah dilakukan Pemkot membuahkan hasil. Selain juga kualitas tenun ikat kediri diakui oleh para pemakainya, termasuk desainer.

“Saya suka pakai tenun ikat kediri ini, sebab kainnya padat. Kalau digunting tidak “krepes” bubar. Tapi tetap solid walau ini dibikin dengan tangan,” kata Priyo Oktaviano, desainer yang sudah 2 kali membuat koleksi tenun ikat kediri, di DSF ke-5 tahun 2018 dan DSF ke-6 tahun 2019.

Selain itu, soal pewarnaan yang kuat dan tidak luntur bahkan pada cucian pertama di konsumen, warna tidak pudar.

“Kami akan terus mempromosikan tenun ikat kediri. Harapannya tidak hanya terkenal, tapi juga memberi kesejahteraan pada para penenun,” kata Ferry Silviana Feronica, Ketua Dekranasda Kota Kediri.

Berbagai tema dan teroboson terus dilakukan untuk membangkitkan tenun ikat kediri yang sempat menurun karena Covid-19 kini sudah bangkit kembali.***

EDITORSetiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

POPULER

error: Selamat Membaca