Petani Tengger Panen Kentang di Tengah Erupsi Bromo

135 views
banner 468x60)
Panen Kentang

Foto: Aktifitas Petani di Bromo panen kentang meski terjadi Erupsi, Rabu (20/3/2019).

KABARRAKYAT.ID – Aktifitas erupsi gunung Bromo nampaknya belum berpengaruh terhadap lahan pertanian mikik warga Tengger yang mendiami kawasan puncak. Kondisi ini kian menarik dicermati lantaran disaat gunung Bromo erupsi justru petani – petani sibuk memanen kentang dan kubis. Pemandangan di Bromo justru menawarkan pemandangan yang eksotik diantara kepulan abu vulkanik.

Kondisi karakteristik gunung Bromo memang berbeda dengan kondisi gunung berapi yang lain di Indonesia. Selain memiliki kaldera yang luas untuk menampung material magma jika benar erupsi. Gunung Bromo juga dihuni oleh warga adat yang tinggal nyaris mendekati setupa (Jerobong magma).

Berbeda dengan gunung Sinabung, Semeru, Merapi bahkan gunung Agung yang kondisinya sama siaga level II. Kondisi puncak gunung relatif lebih aman gunung Bromo. Mungkin karena gunung Bromo lebih ramah masyarakat suku Tengger pun tidak pernah risau ketika terjadi erupsi. Bahkan, warga Tengger pantangan jika mengatakan Bromo tengah erupsi atau meletus. Mereka lebih sreg mengatakan erupsi itu berkah.

Ada benarnya, ketika ketika Bromo tengah erupsi seperti saat ini di bawah lereng, para petani tengah sibuk menikmati panen kentang dan kubis.

Petani kentang

Foto: Camat Sukapura Yulius Cristian,  yang aktif mencermati aktifitas erupsi gunung Bromo menyempatkan melihat kegiatan petani

Camat Sukapura Yulius Cristian,  yang aktif mencermati aktifitas erupsi gunung Bromo sebagai wilayah kerjanya,  mengaku warga di lima Desa kawasan terdekat puncak Bromo tidak merisaukan.

“Hari ini petani Bromo tengah panen kentang dan kubis. Situasinya normal seakan tidak terjadi apa-apa meski sejak beberapa hari ini hujan abu. Warga pun menganggap aktifitas gunung Bromo sebagai ” berkah” sebagaimana keyakinan adat Tengger”, ungkap Yulius Cristia, Rabu (20/3/2019).

Masih kata Yulius, dampak abu Bromo tanpaknya tidak mempengaruhi lahan pertanian. Kondisi ini berbeda dengan erupsi Bromo 2010 lalu yang menyebabkan ratusan hektar pertanian gagal panen.

“Seperti yang saya lihat kondisi pertanian milik warga masih normal. Hujan yang terus mengguyur kawasan Bromo menolong petani dari dampak abu vulkanik sehingga tanaman tumbuh normal. Malah hari ini panen kentang dan kubis. Hanya saja harga kentang dan kubis belum membaik kisaran Rp. 3.500 per kilo. Sementara harga Kubis dibeli pedagang Rp. 300 per kilo gramnya, “terangnya.

Aktifitas masyarakat yang masih berjalan nornal di tengah hujan abu di Bromo membuat semua pihak lega. Peristiwa erupsi kali ini menjadikan gunung Bromo kawasan gunung yang unik dan pantas dijadikan arena edukasi, mitigasi kebencanaan.

” Meski demikian kami tetap menyarankan masyarakat untuk waspada dan tetap mengedepankan keselamatan termasuk memahami jalur evakuasi yang telah di rekomendasikan BPBD. Peristiwa di Bromo hari ini cocok untuk arena edukasi, peneletian ilmiah tentunya masih aman untuk parawisata”, tutup Yulius kepada Kabarrakyat.id.

 

Reporter : Yulius Cristian
Editor : Choiri

banner 468x60)

#Panen kentang di Bromo #Erupsi bagian dari berkah bagi suku Tengger #Bromo hujan abu #Gunung Bromo - Sukapura #Probolinggo

Author: 
    author

    Related Post

    banner 468x60)

    Leave a reply