PKL Pasar Induk Banyuwangi Sakit Hati Dilarang Berdagang 

  • Whatsapp
PKL buah di Pasar Induk Banyuwangi
Usnama, PKL di Pasar Induk Banyuwangi.

KabarRakyat.ID – Munculnya surat pemberitahuan tentang larangan berdagang di sepanjang Jalan Susuit Tubun, Pedagang Kaki Lima (PKL) Pasar Induk Banyuwangi resah.

Seperti yang diutarakan Usnama (51) salah satu penjual pisang ini mengaku sakit hati jika harus digusur dari tempat dia biasa berjualan. Ia khawatir sepi pembeli dan takut kehilangan pelanggan jika berjulan di dalam pasar. Disamping itu,  bedak di dalam pasar sudah penuh.

Read More

“Saya berjualan disini sudah lama sekali, bahkan sebelum eranya Bupati Anas. Tentu saya sakit hati jika harus digusur,” lontar ibu satu anak asal Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro ini.

Menurutnya, selama ia berjualan di luar ramai pembeli. Dia berharap pemerintah punya hati memikirkan nasib rakyat cilik. “Toh saya berjualan disini mulai jam 6 pagi sampai jam 3 sore selalu rutin membayar retribusi sebesar Rp. 2 ribu setiap harinya. Sebelum dan setelah berjualan, selalu saya bersihkan,” ujarnya.

Senada juga disampaikan pedagang lainnya yakni Muslimah, dia lebih memilih menetap berjualan di sepanjang Jalan Susuit Tubun, dan enggan berjualan di dalam pasar. Karena dia sudah pernah merasakan berjualan di dalam dan hasilnya tidak seramai seperti berjualan di dalam.

“Di dalam sepi pembeli mas, enak disini,” singkat Muslimah saat ditemui di lapaknya.

Matasan, Ketua Paguyuban Kelompok Pedagang Kaki Lima (PAKOMPAK) Banyuwangi menyampaikan, sejumlah pedagang didata dan dimintai KTP sebelum adanya surat pemberitahuan larangan berdagang di jalan dari Satpol PP Banyuwangi. Selanjutnya, para pedagang diajak berdialog di kantor Satpol PP, namun ditolak oleh pedagang.

Sekretaris Rejowangi
Mujiono, Sekretaris Relawan Jokowi Banyuwangi (Rejowangi).

“Kami dikirimi surat itu di pasar, kami tidak mau datang ke kantor Satpol PP. Karena disini kami punya lahan dan punya kantor disini,” jelasnya.

Pihaknya berharap, jika pemerintah menginginkan Banyuwangi kondusif, pedagang Pasar Tradisional Banyuwangi bersedia diajak musyawarah secara baik-baik.

“Kalau pemerintah sekarang itu baik, ajaklah kami bermusyawarah. Kalau mau relokasi, silahkan relokasi dan tunjukkan dimana tempatnya. Asalkan sesuai,” ujarnya.

Pasca munculnya Surat Satpol PP, No. 300/130/429.119/2020 ditandatangani Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Banyuwangi, Anacleto Da Silva, tanggal 21 Januari 2020 tersebut,  para pedagang kompak memasang banner di sekitaran Pasar Induk Banyuwangi.

Isi tulisan pada banner tersebut diantaranya “Bupati AAA Delengen Isun Iki Golek Picis Gawe Mangan Byaen Wes Digusur Bongsone Dewek (Bupati AAA lihat saya ini cari uang untuk makan saja sudah digusur bangsa sendiri), Bupati AAA sesungguhnya Banyuwangi ini untuk siapa? investor atau kami wong cilik?”.

Aksi pedagang pasar ini mendapat komentar dari Mujiono Sekretaris LSM Rejowangi. Menurutnya, gerakan para pedagang pasar tersebut masih dalam batas kewajaran. Sebab mereka kebingungan dengan adanya penggusuran sepihak tanpa adanya musyawarah atapun sosialisasi yang berujung tidak memenuhi rasa keadilan bagi rakyat kecil

“Menurut kami, munculnya surat itu sangat tidak pro rakyat kecil dan menyalahi cit-cita semangat bergotong royong menuju kerakyatan yang adil dan makmur,” kata Mujiono.

Reporter : Fattahur

Editor : Richard

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *