Poles Hitam Kebo-keboan Alasmalang Bawa Berkah

  • Whatsapp
Poles Hitam Kebo-keboan alasmalang
Poles Hitam Kebo-keboan alasmalang

KABARRAKYAT.ID – Tradisi Kebo-Keboan di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi memiliki ciri khas tersendiri.

Kerbau adalah mitra bagi petani, mulai dari nafas, penopong ekonomi bagi petani. Manusia kerbau yang disimboliskan dengan berubah wujud layaknya seperti hewan kerbau sebenarnya.

Bacaan Lainnya

Seluruh badannya manusia jadi-jadian ini dilumuri dengan cairan warna hitam yang dibuat dari serbuk arang dan dicampur dengan minyak kelapa asli.

Tak luput properti yang digunakan juga terdapat tanduk, serta lonceng kalung kerbau.

Dari ujung barat Dusun Krajan, Desa Alasmalang puluhan manusia kerbau terlihat mulai baris berjejer untuk melakukan proses pawai ider bumi keliling ke penjuru Dusun Krajan.

Sebelumnya para kerbau kerbau ini juga melakukan proses ritual pitung tawar, yang dimaksudkan agar semua para kerbau kerbau ini tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Setelah itu proses pawai ider bumi bergerak dan para kerbau ini melindungi gadis cantik berdandan layaknya Dewi Sri (Dewi Padi).

Baca juga:

Ribuan pengunjung yang menghalangi  jalannya pawai ider bumi tersebut tak jarang para kerbau jadi jadian itu menabrak, menyeluduk, memoles wajah pengunjung dengan cairan warna hitam di wajah ribuan warga.

Kerbau jadi jadian ini secara tiba tiba mulai tidak sadarkan diri. Konon yang terkena polesan kerbau sebagai tanda akan mendapatkan rizki bagi yang percaya.

Terkena polesan kerbau merupakan kejadian yang sangat baik bagi yang menyakininya. Namun beberapa orang belum mengetahui tentang adanya polesan kerbau banyak juga penonton yang tidak suka karena polesan kerbau itu.

“Polesan kerbau membuat dampak tersendiri. Bukan secara fisik tapi secara magis bisa memberikan rizki atau mendapatkan berkah secara tak langsung,” ucap Adlin Mustika Alam, salah satu warga asli Singojuruh.

Usai ider bumi ke berbagai penjuru Kampung, proses selanjutnya yaitu proses siklus bercocok tanam mulai membajak sawah, mengairi padi, menanam padi, hingga menabur benih padi.

“Benih benih tersebut diperebutkan oleh warga yang dipercaya jika beberapa benih yang didapatnya itu akan menghasilkan panenan yang lebih melimpah,” tuturnya

Tradisi ini hanya untuk meminta keberkahan sebelum memulai musim tanam padi yang berada di Desanya.

Hadir dalam acara tersebut, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, Dirjen Kebudayan Kemendikbud (Dirjen) Kebudayaan, Hilmar Farid, dan beberapa tamu penting lainnya.

Puncak acara di Rumah Budaya Kebo-Keboan, para kerbau kerbau ini berkumpul di area sawah yang berlumpur yang dijadikannya untuk spot “Goyang”.

Goyang merupakan ajang para kerbau untuk melakukan aksinya, tak jarang kerbau jadi jadian itu muncul untuk megejar, menyeret, membanting penonton ke tengah sawah serta dilumuri dengan lumpur.

Reporter: Rohman

Editor: Coi/Choiri

Pos terkait


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *