PSHT Dan Warga Sukorejo Bangorejo Damai

  • Whatsapp
PSHT Dan Warga Sukorejo Bangorejo Damai
Di Mapolres Banyuwangi, PSHT Dan Warga Sukorejo Bangorejo sepakat damai.

KabarRakyat.ID – Konflik melibatkan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dengan warga Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo, akhirnya berakhir. Kedua belah pihak sepakat damai.

Jalur damai ini dipilih setelah dua kelompok yang bersitegang sama-sama melapor ke polisi. PSHT menjadi pelapor adanya dugaan tindak pidana penganiayaan yang menimpa anggotanya sepulang dari latihan bersama di Desa Sragi, Kecamatan Songgon. Sementara warga menjadi pelapor atas dugaan pengerusakan rumah hunian yang ditengarai dilakukan oleh massa PSHT. Adanya tindak pidana yang diduga melibatkan dua kubu.

Read More

Penuntasan masalah ini dilangsungkan di Mapolres Banyuwangi, Kamis (15/8/2019), meski rekonsiliasi damai antara para pihak yang dimediatori PCNU Banyuwangi telah berlangsung pada Rabu (14/8/2019) malam. Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi SIK menyambut baik perdamaian antara PSHT dan warga.

“Demi asas kemanfaatan dan demi kepentingan yang lebih besar, kami mendukung upaya-upaya perdamaian itu. Kemudian nanti kita tindaklanjuti dengan kesepakatan yang sudah dibuat,” terang Kapolres usai pertemuan.

Perdamaian itu, lanjut Kapolres, dapat menggugurkan tindak pidana yang melibatkan dua belah kubu. Melalui Restorative justice. Karena dalam perkembangan dunia hukum ada istilah penyelesaian hukum diluar pengadilan.

Restorative Justice atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut keadilan restoratif merupakan suatu jalan untuk menyelesaikan kasus pidana yang melibatkan masyarakat, korban, dan pelaku kejahatan dengan tujuan agar tercapai keadilan bagi seluruh pihak sehingga diharapkan terciptanya keadaan yang sama seperti sebelum terjadinya kejahatan dan mencegah terjadinya kejahatan lebih lanjut.

“Tapi ada syarat formil dan materiil yang harus dipenuhi. Seperti permohonan pencabutan laporan yang dilampiri dengan bukti perdamaian. Ada berita acara tambahan dari saksi korban maupun pelapor bahwa kasus ini tidak ditindaklanjuti karena sudah ada upaya perdamaian,” jelasnya.

“Dan besok rencananya akan digelar deklarasi damai sekaligus kerja bakti,” imbuhnya.

Sementara itu, mediator dari PCNU Banyuwangi, Achamd Rifai mengatakan, pertemuan dengan PSHT, perangkat Desa Sukorejo, PCNU dan Polri ini adalah untuk menindak lanjuti penandatanganan perjanjian damai yang dilakukan PSHT dengan warga Desa Sukorejo, kemarin.

Lanjut Rifai, ada tujuh poin perdamaian. Salah satu poin itu bersinggungan dengan kewenangan kepolisian. Terkait dengaj kewenangan kepolisian adalah, kedua belah pihak sepakat untuk tidak saling melapor dan menuntut baik pidana dan perdata. Sementara laporan yang sudah masuk akan dicabut oleh kedua belah pihak.

“Pihak kepolisian merespon positif, bahwa perkara ini bisa diselesaikan berdasarkan perjanjian perdamaian itu. Dan prosesnya masih menunggu dari internal kepolisian,” ujarnya.

Mengenai kerusakan akibat peristiwa itu, Rifai mengatakan, akan ada ganti rugi. Namun untuk ganti rugi tidak ada nominal yang disepakati. “Karena kami tidak melihat nominalnya. Kami melihat niat baik dari kedua belah pihak,” tuturnya.

Sedangkan untuk korban luka, masih Rifai, masing – masing pihak merawat sendiri. Dan untuk kerusakan fisik seperti bangunan dan kendaraan, PSHT akan membantu sesuai dengan kemampuan. “Rencananya besok akan diserahkan,” cetusnya.

Dalam pertemuan yang digelar Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi tersebut dihadiri mediator PCNU Ahmad Rifai Ketua PSHT Cabang Banyuwangi Sudarko, Perangkat Desa Sukorejo.

Reporter : Fattahur

Editor : Choiri



Related posts

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *