PWI Bondowoso Kutuk Kekerasan terhadap Wartawan Tempo

  • Whatsapp

KABAR RAKYAT – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bondowoso turut buka suara terhadap kekerasan yang dialami Nurhadi dalam menjalankan tugas jurnalistik pada Sabtu malam (27/3/2021) di Surabaya sebagaimana disampaikan Pimred TEMPO.

Haryono, Ketua PWI Kabupaten Bondowoso, dalam siaran persnya menyesalkan dan sangat mengutuk kejadian kekerasan yang dialami Nurhadi dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Jurnalis dalam menjalankan tugasnya dilindungi oleh Undang-undang, Kode Etik Jurnalistik, dan regulasi lain yang sah di mata hukum dan negara.
“Makanya kami meminta dan mendorong kepada aparat penegak hukum untuk mengusut kasus ini secara tuntas dan membawa pelakunya ke peradilan untuk mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya,” kata wartawan Harian Duta itu, Minggu (28/3/2021).

Ia pun meminta kepada rekan-rekan wartawan dan pengelola media massa tetap   mengedepankan langkah dan proses hukum serta mengawal kasus ini hingga tuntas.
“ Ini menyadarkan kita semua bahwa masih ada banyak hambatan di tengah menjalankan dan menegakkan kebebasan pers,” tuturnya.
Sementara itu mengutip dari lbhpers.org bahwa sepanjang tahun 2020 kasus kekerasan terhadap jurnalis mengalami peningkatan. Pada tahun 2020 terjadi 117 kasus kekerasan terhadap jurnalis.
 Jumlah ini meningkat drastis dibandingkan dengan tahun 2019 yang tercatat sebanyak 79 kasus.
Di samping itu, pengaduan yang masuk ke LBH Pers melonjak tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Terperinci yakni 215 orang pengadu. Kemudian 14 pengadu dari organisasi pers, dan masyarakat sipil dengan total menjadi 69 kasus.
Dalam Annual Report LBH Pers 2020 itu, disebutkan juga bahwa pola kekerasan jurnalis juga meluas, dan bertambah variannya. Misalnya peretasan, dan serangan buzzer. Dari segi actor, aparat penegak hokum merupakan yang paling banyak melakukan kekerasan.
Untuk informasi, hari ini Senin (29/3/2021) puluhan jurnalis lakukan aksi solidaritas, mereka tergabung dalam Aliansi Pewarta Bondowoso Bersatu (APBB). Aksi turun jalan itu sebagai bentuk solidaritas atas kasus kekerasan pada pers yang digelar di seputaran Paseban Alun-alun Ki Ronggo.
Tampak di lokasi, mereka melakukan orasi dan menyerahkan bucket bunga pada TNI dan Polri yang turut mengamankan jalannya kegiatan tersebut.*

Pos terkait


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *