Selasa, November 24, 2020
Beranda POLITIK PILKADA 2020 Spanduk Kampanye Hitam Mulai Mewarnai Pilkada Banyuwangi

Spanduk Kampanye Hitam Mulai Mewarnai Pilkada Banyuwangi

REPORTERHariyadi

Spanduk Kampanye hitam terpasang di depan rumah warga di Banyuwangi, Senin (9/11/2020).

KABAR RAKYAT – Pilkada Banyuwangi mulai diwarnai kampanye hitam dengan menggunakan jargon -jargon negatif melemahkan pasangan calon nomor urut 02 Ipuk -Sugirah. Sejumlah spanduk di jalanan Kota Banyuwangi misalnya, cukup menohok yang menempatkan isu perempuan tidak layak jadi pemimpin.

Isu gender menjadi bahan kampanye untuk melemahkan posisi perempuan mulai membayangi Pilkada Banyuwangi. Jargon-jargon bernuasa anti calon bupati perempuan mewarnai di sejumlah jalan di Banyuwangi. Setidaknya spanduk ini muncul di antaranya di Jalan Kepiting, Jalan Teratai, dan Jalan Adi Sucipto.

Spanduk tersebut bertuliskan: “Wong Wedok Iku Nggone Nang Sumur, Dapur, Kasur, Gak Dadi Bupati” (Perempuan Itu Tempatnya di Sumur, Dapur, Kasur, Bukan Jadi Bupati-red). Ada spanduk spanduk bertuliskan “Bupati Kok Wedok” yang menyasar pasangan nompr urut 02 Ipuk – Sugirah dimana calonya Bupati adalah perrmpuan.

’’Saya melihat spanduk itu pagi ini. Tidak tahu siapa yang memasang,’’ ujar Abda Alif, warga yang sempat melintas dan melihat spanduk dengan latar warna merah dan putih tersebut.

Alif menilai cara-cara penyebaran spanduk mendiskritkan pasangan calon dengan cara tidak sehat merupakan bentuk pembodohan masyarakat.

” Mestinya pamer program ditulis besar-besar apa target jika terpilih sebagai Bupati Banyuwangi. Menjadi bodoh pemilih diajak menolak calon dengan argurmentasi yang asal bunyi itu tidak memberikan harapan baru kepada pemilih,” ujar Alif, Senin (9/11/2020).

Spanduk -spanduk bernuasa black Campaign dikuatir akan merusak kondusifitas Banyuwangi jika dibiarkan oleh Banwaslu dan partai pengusung pasangan calon.

“Kampanye seperti itu sudah tidak etis. Zaman sekarang masih pakai cara-cara kuno seperti itu. Alangkah eloknya jika kampanyenya tidak menyerang privasi. Namun lebih ke program inovasi yang membuat masyarakat Banyuwangi memilihnya,” tandas Alif.
Eko Sukartono mantan politisi menyesalkan, masih ada niat orang sengaja menebarkan isu gender sebagai alat untuk meruntuhkan demokrasi. padahal siapa pun memiliki hak yang sama dalam pilkada memilih dan dipilih.
“Lantaran paslon di pilkada Banyuwangi kan hanya ada 2, dan yang dari kaum hawa hanya paslon nomor urut 02. Spanduk black Campaign itu sengaja dibuat untuk melemahkan paslon nomor 02, Spanduk itu tidak elok ditengah masyarakat Banyuwangi yang sudah cerdas memilih Bupatinya,” ungkap Eko Sukartono.

Masih kata Eko merujuk amanat UU (Undang-Undang) dan aturan Pilkada meminta dengan tegas agar kasus spanduk kampanye hitam itu diambil tindakan oleh pelaksana Pilkada.

Eko pun menyampaikan jika para kaum perempuan agar tidak kecil hati saat ada pihak-pihak yang mencoba mendiskreditkan haknya dalam kontesasi Pemilu.

“Bagi kaum perempuan jangan kecil hati saat ada yang mencoba mengecilkan ataupun menghina hak -haknya,” tutupnya.

 

 

EDITORRichard

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

POPULER

error: Selamat Membaca