Staf Khusus Wapres : Layanan Publik Banyuwangi Harus Lebih Inovatif

  • Whatsapp
Staf Khusus Wapres : Banyuwangi Harus Makin Inovatif
Staf Khusus Wapres : Banyuwangi Harus Makin Inovatif

 

BANYUWANGI – Prof. Azyumardi Azra Staf Khusus Wakil Presiden RI  Yusuf Kala, pemerintah kabupaten Banyuwangi semakin inovatif dalam ide-ide layanan publik yang berkualitas.

Pesan itu disampaikan dalam Focuss Group Discussion (FGD) tentang reformasi birokrasi yang digelar Sekretariat Kabinet di Banyuwangi, Senin (27/11/2017).

“Pelaksanaan otonomi daerah penuh dinamika. Ada daerah yang kurang berhasil, tapi ada juga yang membuatnya menjadi peluang berinovasi seperti Banyuwangi. Inovasi-inovasi Banyuwangi menumbuhkan optimisme,” kata Azyumardi

Selain Azra, FGD diikuti Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, pakar otonomi daerah, Djohermansyah Johan, peneliti senior CSIS, J. Kristiadi, staf ahli Menteri PAN-RB, Teguh Wijanarko dan perwakilan berbagai daerah.

“Satu contoh soal transformasi Banyuwangi, hanya beberapa tahun sudah banyak penerbangan. Itu bukti ekonomi tumbuh dan kami ingin itu kisah-kisah sukses ini tidak berhenti,” imbuh Azra.

Prof. Djohermansyah Johan mengatakan, transformasi Banyuwangi bisa dijadikan contoh daerah lain. Namun Johan mengingatkan agar Banyuwangi giat menumbuhkan budaya inovasi. “Harus dibuat sistemnya. Agar tidak ada fenomena ganti pemimpin ganti kebijakan,” jelas Johan.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, birokrasi tidak butuh superman, tapi super team. “Jika one man show, pasti dehidrasi di tengah jalan, karena membenahi daerah bukan lari sprint, tapi lari marathon yang butuh ketahanan. Sehingga perlu kerja sama banyak pihak,” kata Anas.

Menurut Anas, inovasi harus terlembagakan agar siapa pun pimpinannya, inovasi terus berlangsung. Salah satu strategi yang ditempuh Anas adalah melibatkan seluruh jajaran untuk membahas program dan target secara bersama-sama. Pelibatan semua jajaran hingga level staf dilakukan sebagai bagian pembudayaan inovasi. “Dan terbukti ini efektif. Sekarang semua dinas/badan, puskesmas, hingga desa/kelurahan berlomba-lomba berinovasi,” terang Anas.

Dia mencontohkan, Puskesmas-puskesmas kini bersaing. “Satu Puskesmas bikin hingga dua inovasi, bahkan di antaranya masuk Top 40 pelayanan publik terbaik nasional. Itu karena mereka diberi wadah berinovasi. Silakan berkreasi melayani rakyat. Bebas mau bikin apa saja asal terukur,” ujar Anas.

Anas menyebut sejumlah inovasi antara lain Mal Pelayanan Publik, program akte kelahiran super-cepat, jemput bola rawat warga miskin, layanan tanpa antre bagi lansia di rumah sakit dan layanan antar obat ke rumah warga miskin.

Selain itu, Banyuwangi mulai menggeber program Rantang Kasih yang mengirimkan makanan bergizi ke lansia miskin, uang pengganti penunggu keluarga sakit di rumah sakit, hingga inovasi yang sukses menekan angka kematian ibu/bayi di sejumlah puskesmas. “Dan banyak inovasi lain lahir dari kreasi teman-teman karena mereka terpacu, jadi bukan karena kepala dinas atau kepala daerahnya,” pungkas Anas.

Reporter : Hermawan

Related posts

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *