Tuesday, August 11, 2020
Home BANYUWANGI Tiga Pelukis Banyuwangi Sepakat Dunia Perupa Tidak Berhenti di Masa Pandemi Covid-19

Tiga Pelukis Banyuwangi Sepakat Dunia Perupa Tidak Berhenti di Masa Pandemi Covid-19

KABAR RAKYAT – Misteri jiwa pelukis masuk ke dalam obyek lukisannya pasti akan menghasilkan coretan yang memunculkan karakter karya lukisan.

Tiga pelukis senior S. Sugiono, N. Kojin, WP (Windu Pamor) tidak pernah diam untuk mengasah insting coretan tangannya dalam mengambil obyek lukisan menantang.

Tak terasa, si obyek diajak ngobrol ditempat redup (lampu mirip oblik) malam hari, bertempat di Langgar ART, Perumahan Griya Wiyata, Sobo, Banyuwangi.

Selembar kertas linen dan pensil khusus sudah ditangan N. Kojin. Pelukis asli Banyuwangi, yang sudah malang melintas di kancah lukis nasional dan internasional, dari Bali, Jawa hingga Singapura.

[the_ad id=”29596″]

N. Kojin, adalah Pelukis dari sebuah karya judul Eksotisme Penari, terbuat Oil and Kanvas, 90 x 120 yang di koleksi Maya Art Singapore. Tidak suka diam, selalu aktif dan ingin berkarya meski diam dan ngobrol santai.

Pelukis Windu Pamor bersama Pak Sigit dan Andi F. Noya di Jiwa Jawa Probolinggo, foto Istimewa/Dok Pribadi

“Saya seniman (perupa), tidak ada maksud apa-apa. Kebetulan ngobrol, kok ada sisi yang menarik. Hingga saya krentek ingin menggambar mas Choi (obyek),” kata N. Kojin.

N. Kojin, mengaku senang ada Langgar ART ini, artinya di masa pandemi Covid-19 ada tantangan terus berkarya. Baginya, Pelukis harus berkarya jangan diam.

Lukisan N. Kojin, kelahiran, 9 September 1967, sudah pernah keliling nusantara hingga luar negeri. Catatan N. Kojin, pernah pameran di Maya Art Galery Singapore, Galery Nasional Jakarta, Bali, Bandung, 1999 Cuncurrent Art Exhibition Campuhan, Ubud and Three Artist Joint Exhibition at Sahid Jaya, Jakarta, 2007 Multi Cultural Painting Exhibition at Orasis Gallery Surabaya.

Pelukis N. Kojin di Langgar ART

Berberda dengan Windu Pamor atau WP pelukis asli Genteng, Banyuwangi yang tak kalah seru memiliki pengalaman nasional. Dia-pun ikut mengambil kertas linen dan mencorat coret obyek yang sama.

Pria yang betah lama tinggal di Bali dan Pernah pameran tunggal di Hotel Jiwa Jawa, Probolonggo inipun memiliki kebiasaan tekun ibadah dan puasa Nabi Daud yang dilakoni 5 tahun berjalan.

Windu Pamor juga sepakat pelukis tidak bisa diam menunggu insting baru melukis, harus kratif mengasah kemampuan jiwa Art-nya di tengah pandemi Covid-19.

“Jiwa pelukis harus masuk ke dalam si obyek lukis. Pamor lukisan harus keluar dan mampu siapa saja yang melihat lukisan kita,” ungkapnya.

Windu Pamor atau WP, bukan pelukis kaleng-kaleng, prestasi lukisan sudah menasional.

S. Sugiono, pematung. Dok/Pribadi

Berikut jejak Windu Pamor atau WP, Pameran Tunggal di Universitas UKRIDA (Universitas Kristen Mandala) Jakarta, Balai Budaya Jakarta, Pameran Tunggal di Jiwa Jawa Hotel Bromo, Pameran di Bali, Yogjakarta, Semarang.

[the_ad id=”29596″]

Pelukis ketiga, S. Sugiono juga pelukis dan pematung asli Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Banyuwangi yang pernah memerkan karyanya di Surabaya dan Bali.

Ketiganya adalah pelukis ekspresionisme. Secara khusus, lukisan Choi diberi judul oleh N. Kojin, “Hai Hai Siapa Dia Sang Misteri”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

POPULER