Jumat, November 27, 2020
Beranda EKONOMI Wajah Petani Tomat Ceria Sejak Harga Naik Rp. 5000

Wajah Petani Tomat Ceria Sejak Harga Naik Rp. 5000

REPORTERMuajijin

KABAR RAKYAT – Para petani tomat di Kabupaten Kediri senyum ceria semenjak harga tomat naik Rp. 5000 perkilogram pada pekan ini. Sebelumnya komoditi tomat di pasar oleh pedagang di jual seharga Rp. 500 – 1000 perkilogram.

Terlebih tengah pandemi, harga tomat di pasar kisaran Rp. 500 – Rp. 1000 per-kg. Penyebabnya beragam, antara lain adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang menyebabkan produksi tomat petani tak bisa dikirim dan faktor cuaca yang sangat panas.

Salah satu petani tomat asal Desa Paron Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri Witoyo mengatakan, sejak 10 hari terakhir ini harga tomat mulai naik sangat menguntungkan. Peningkatan harga mulai dari Rp 4.500 hingga Rp 5.000 per kilogramnya.

“Dari lahan seluas 1.400 meter persegi selama lima kali panen ini saya sudah mendapatkan 2 ton lebih tomat. Jika cuaca bersahabat seperti hari-hari ini, saya memperkirakan bisa panen total sekitar 10 sampai 12 kali,” ucap Witoyo sambil Tersenyum,Rabu (18/11/2020)

Witoyo menambahkan, awal tanam dulu menghabiskan biaya sekitar Rp 6 Juta, mulai untuk pembibitan hingga perawatan seperti pengairan serta perawatan dari serangan hama dan jamur.

“Panen kali ini laba cukup tinggi. Awalnya, tekat menanam tomat meskipun harga jualnya masih anjlok. Namun berkat keyakinan ternyata prediksi saya cocok, saat ini harga di pasaran terus merangkak naik meskipun tidak terlalu banyak selisihnya,” kata Witoyo.

Sementara itu Yayuk Anisha, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dipertabun Kabupaten Kediri memberikan apresiasi kepada petani yang berhasil panen saat ini, karena tidak mudah untuk panen di cuaca sekarang.

“Setelah berhasil melewati beberapa fase, mulai dari serangan hama dan penyakit tanaman yang menyebabkan jamur dan bakteri, serta cuaca yang ekstrim, kini para petani dapat menikmati hasilnya karena memang stok tomat di pasaran sangat berkurang sehingga berakibat harga jualnya tinggi. Namun banyak juga petani yang gagal panen karena pengaruh cuaca dan bakteri,” kata Yayuk.

Ia juga mengungkapkan, petani yang berhasil panen sekarang adalah orang-orang yang melek informasi pasar. Artinya mereka berani mengambil resiko besar, di saat para petani lain menanam cabai, ia justru berbeda dengan menanam tomat.

“Survei pasar untuk mengetahui bibit tanaman yang paling banyak dibeli itu sangat perlu. Sehingga untuk tanam tidak harus sama dengan petani yang lain. Dan terbukti seperti saat ini, di saat stok tomat di pasaran mulai menipis, kini petani di Desa Paron justru baru mulai panen,” tutup Yayuk.***

EDITORSetiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

POPULER

error: Selamat Membaca