Bupati Fawait Buka Partisipasi  Penamaan Street Food Jember, Warga Diajak Ikut Menentukan Identitas Kawasan

May 21, 2026 - 10:46
May 21, 2026 - 20:57
 0
Bupati Fawait Buka Partisipasi  Penamaan Street Food Jember, Warga Diajak Ikut Menentukan Identitas Kawasan
Foto Street Food Jember dari Udara

JEMBER — Proyek kawasan street food di jantung Kota Jember memang belum rampung, masih mencapai 25-30 persen pengerjaan. Namun, alih-alih sekadar fokus pada pembangunan fisik, Bupati Jember Muhammad Fawait justru mulai mengajak publik terlibat lebih jauh bahkan sejak tahap penentuan nama kawasan.

Di sela peninjauan usai menghadiri pesta rakyat Karnaval SCTV akhir pekan lalu, Fawait menyempatkan diri menyusuri koridor Jalan Kartini hingga Jalan Gatot Subroto. Kawasan itu diproyeksikan menjadi pusat kuliner malam sekaligus sentra baru bagi pedagang kaki lima (PKL).

Didampingi Penjabat Sekretaris Daerah Achmad Imam Fauzi dan sejumlah kepala OPD, Fawait menegaskan progres pembangunan masih berada di tahap awal. Ia memperkirakan capaian baru berkisar 25 hingga 30 persen.

 “Kalau dibilang selesai, jelas belum. Lampu belum terpasang semua, gerobak dengan konsep tematik juga masih proses,” ujarnya.

 Namun, yang menarik, di tengah progres yang belum separuh jalan itu, Fawait justru membuka ruang partisipasi publik. Ia mempersilakan masyarakat ikut mengusulkan nama untuk kawasan street food tersebut. Sebuah langkah yang jarang dilakukan dalam proyek penataan kota.

 “Silakan siapa saja kasih usulan nama. Mau yang serius atau yang unik sekalian juga boleh. Nanti kita pilih yang paling pas,” katanya sambil tersenyum.

 Langkah ini, menurut Fawait, bukan sekadar gimmick. Ia ingin kawasan tersebut memiliki identitas yang benar-benar lahir dari keterlibatan warga, bukan semata hasil keputusan pemerintah.

 Di sisi lain, konsep yang diusung untuk kawasan ini juga cukup ambisius. Pemerintah daerah menyiapkan tema visual berbeda di tiap koridor. Salah satunya, nuansa Eropa klasik di sekitar kawasan gereja Jalan Kartini, yang akan diselaraskan dengan desain gerobak hingga elemen dekoratif.

 Area depan gereja, lanjutnya, tidak akan diisi PKL. Lokasi itu akan difungsikan sebagai ruang terbuka dengan ornamen estetis dan tempat duduk bagi pengunjung, tanpa mengganggu arus lalu lintas.

 “Trotoar kita optimalkan untuk ruang duduk. Jalannya tetap steril untuk kendaraan,” tegasnya.

Lebih dari sekadar destinasi kuliner, proyek ini diarahkan sebagai solusi penataan PKL yang selama ini tersebar di berbagai titik pusat kota, termasuk kawasan alun-alun. Pemerintah berharap, dengan adanya sentra baru yang lebih tertata, aktivitas ekonomi informal bisa tetap tumbuh tanpa mengganggu estetika kota.

Fawait menegaskan, keberadaan street food ini merupakan bagian dari strategi penguatan ekonomi kerakyatan berbasis UMKM.

 “Ini bukan hanya soal kuliner. Ini tentang bagaimana kita memberi ruang yang layak bagi pelaku usaha kecil sekaligus menata wajah kota,” pungkasnya.

 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow