SPPG Bondowoso Pujer Mangli Jadi Mesin Ekonomi Baru, Pedagang Sayur dan Buah Lokal Untung Besar
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui SPPG Bondowoso Pujer Mangli mulai menggerakkan ekonomi desa. Petani sayur hingga distributor buah kini menikmati kenaikan pendapatan, harga hasil panen stabil, dan pasar semakin pasti.
BONDOWOSO — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bondowoso wilayah Pujer-Mangli mulai menunjukkan dampak nyata. Bukan hanya menyasar pemenuhan gizi ribuan siswa, program ini perlahan berubah menjadi mesin penggerak ekonomi baru bagi warga desa.
Perubahan itu paling terasa di sektor pertanian dan distribusi pangan lokal. Sayur mayur hingga buah-buahan kini memiliki pasar tetap sejak dapur MBG rutin beroperasi setiap hari.
Di balik dapur MBG yang memasok ribuan porsi makanan, ada perputaran uang yang terus bergerak di tingkat bawah. Pedagang kecil, distributor lokal hingga petani kini ikut menikmati efek ekonomi dari program tersebut.
Salah satu yang merasakan langsung dampaknya adalah Aprilia Ningsih, distributor sayur asal Desa Randu Cangkring, Kecamatan Pujer. Kini ia rutin memasok kebutuhan sayur untuk dapur MBG di SPPG Mangli.
Jenis sayur yang dipasok cukup beragam. Mulai sawi mie, pakcoy, buncis hingga edamame menjadi kebutuhan harian untuk menu MBG yang dikonsumsi ribuan penerima manfaat.
“Setelah ada MBG, penjualan meningkat dan sayur tidak sampai menumpuk seperti dulu,” ujar Aprilia, Rabu (29/4/2026).
Sebelum program MBG berjalan, kondisi pasar disebut sangat tidak menentu. Banyak hasil panen petani terlambat terserap bahkan berujung busuk karena tidak laku dijual.
Namun situasi berubah drastis setelah dapur MBG mulai beroperasi. Permintaan sayur kini berlangsung rutin setiap hari dan menciptakan kepastian pasar bagi petani lokal.
Dampaknya tak main-main. Harga buncis yang sebelumnya sempat anjlok hingga Rp1.500 per kilogram kini melonjak menjadi sekitar Rp10 ribu per kilogram. Sementara harga sawi pakcoy naik dari Rp450 ribu menjadi Rp900 ribu per kuintal.
“Kalau dihitung, peningkatan nilai ekonominya bisa sampai dua kali lipat. Dulu satu keresek hanya sekitar Rp20 ribu, sekarang bisa sampai Rp100 ribu,” katanya.
Aprilia mengaku pola kemitraan yang dibangun bersama petani lokal ikut membantu menjaga stabilitas pasokan. Ia bahkan menyediakan bibit kepada petani agar hasil panen tetap sesuai kebutuhan pasar MBG.
“Saya kasih bibit ke petani, nanti hasil panennya dijual ke saya. Jadi sama-sama saling membantu,” ungkapnya.
Tak hanya distributor sayur, dampak ekonomi juga dirasakan pedagang buah. Ahmad Rizal Fauzi, distributor pisang asal Desa Mangli, mengaku pendapatannya meningkat sejak menjadi pemasok SPPG selama enam hingga tujuh bulan terakhir.
Menurut Rizal, permintaan pisang kini jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya. Dalam sekali pengiriman, ia mampu memasok sekitar 2.750 buah pisang sesuai kebutuhan menu dapur MBG.
“Setelah ada SPPG ini permintaan pisang lebih meningkat, jadi saya fokus ke pisang saja,” kata Rizal saat diwawancarai melalui sambungan telepon, Selasa (12/5/2026).
Rizal menyebut keberadaan SPPG membuat jalur distribusi buah menjadi lebih jelas dan terarah. Sebelum ada MBG, ia harus menjual berbagai jenis buah ke banyak tempat dengan permintaan yang tidak pasti.
Kini, dengan pasar yang lebih stabil, penghasilannya ikut terdongkrak. Jika sebelumnya pendapatan dari usaha buah berkisar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan, kini bisa mencapai Rp3 juta per bulan apabila tingkat sortiran buah tidak terlalu tinggi.
Koordinator Lapangan atau Asisten Lapangan (Aslap) SPPG Bondowoso wilayah Pujer-Mangli, Raditya, mengatakan pihaknya memang sengaja melibatkan pedagang dan petani lokal dalam rantai pasok program MBG.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen pemberdayaan masyarakat sekitar agar manfaat program tidak hanya dirasakan penerima makanan, tetapi juga menggerakkan ekonomi desa.
“Kami mendapatkan bahan pangan yang lebih segar dan berkualitas dari petani lokal. Di sisi lain, petani dan pedagang memperoleh kepastian pasar sehingga hasil panen mereka terserap optimal,” ujar Raditya.
SPPG Bondowoso Pujer-Mangli sendiri saat ini melayani ribuan penerima manfaat. Total penerima MBG terdiri dari 560 siswa PAUD/TK, 812 siswa SD/MI, 394 siswa SMP/MTS, 207 siswa SMA/MA serta 506 porsi untuk kelompok balita, ibu hamil dan ibu menyusui.
Besarnya jumlah penerima manfaat itu membuat kebutuhan bahan pangan terus bergerak setiap hari. Di tengah kondisi pasar pertanian yang sering tidak stabil, kehadiran MBG kini menjadi harapan baru bagi petani dan pedagang kecil di Bondowoso.
What's Your Reaction?