SPPG Tumpeng Bondowoso Putar Otak Sajikan Menu MBG Anti Monoton Setiap Hari
SPPG Tumpeng Bondowoso terus memutar otak menghadirkan menu MBG yang variatif dan bergizi agar siswa tidak bosan. Program yang melayani ribuan pelajar dan kelompok rentan itu mulai menunjukkan dampak positif terhadap kesehatan dan semangat belajar anak.
BONDOWOSO - Pemerintah terus mendorong pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar benar-benar berdampak terhadap kesehatan dan kualitas belajar siswa. Di Bondowoso, Jawa Timur, pelaksanaan program itu mulai menunjukkan efek positif di lingkungan sekolah.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tumpeng, Kecamatan Wonosari, menjadi salah satu dapur MBG yang aktif melakukan inovasi menu demi menjaga selera makan siswa. Variasi menu sengaja dibuat agar anak-anak tidak bosan menerima makanan setiap hari.
Person in Charge SPPG Tumpeng, Agus Masruli, mengatakan pihaknya membuka ruang masukan dari sekolah maupun siswa terkait menu makanan yang disajikan. Menurutnya, evaluasi menu menjadi bagian penting dalam menjaga keberhasilan program MBG.
“Kami selalu menerima masukan atau request terkait menu. Dari situ kami mencoba mengembangkan variasi hidangan supaya tidak monoton dan tetap disukai anak-anak,” kata Agus, Rabu (20/5/2026).
Agus menegaskan, inovasi menu bukan sekadar mengejar rasa. Seluruh makanan yang disiapkan tetap mengacu pada standar gizi yang telah ditetapkan pemerintah agar kebutuhan nutrisi siswa tetap terpenuhi secara seimbang.
Menurutnya, kombinasi antara rasa yang disukai siswa dan kandungan gizi yang tepat menjadi kunci utama keberhasilan program MBG. Sebab, makanan bergizi yang tidak diminati anak-anak berpotensi tidak dikonsumsi secara maksimal.
Program MBG di SPPG Tumpeng saat ini melayani 1.747 paket makanan setiap hari. Sasaran penerima manfaat mencakup 30 sekolah dan lima posyandu di wilayah Kecamatan Wonosari, Bondowoso.
Ribuan penerima manfaat itu terdiri dari siswa PAUD dan TK sebanyak 400 anak, siswa SD 246 anak, siswa SMP dan MTs 555 anak, hingga siswa SMA dan SMK sebanyak 285 anak. Selain itu, program juga menyasar kelompok 3B yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui dengan total 210 penerima manfaat.
Pada pelaksanaan Rabu (20/5), menu yang disajikan terdiri dari nasi putih, ayam kecap, tumis tahu, tumis pakcoy dan wortel, serta buah pisang. Menu tersebut disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan protein, vitamin, dan serat bagi anak usia sekolah.
Kepala SPPG Tumpeng, Amelia Putri Aditiya, menambahkan proses pengolahan makanan dilakukan dengan pengawasan ketat. Seluruh tahapan, mulai pemilihan bahan baku hingga distribusi makanan, diklaim mengikuti standar operasional prosedur (SOP).
“Tim dapur kami melakukan pengecekan rutin setiap hari untuk memastikan kualitas bahan dan kebersihan tetap terjaga. Kami juga terus berkoordinasi dengan pihak terkait agar standar layanan gizi ini tetap konsisten,” ujar Amelia.
Pelaksanaan program MBG disebut tidak hanya berdampak pada pemenuhan nutrisi siswa. Di sejumlah sekolah, mulai terlihat perubahan perilaku anak-anak, mulai dari disiplin saat menerima makanan hingga kebiasaan makan yang lebih teratur.
Pihak sekolah juga mengaku melihat perubahan semangat belajar siswa sejak program berjalan. Anak-anak dinilai lebih fokus mengikuti pelajaran karena kebutuhan makan siang mereka lebih terjamin.
Meski demikian, pelaksanaan program masih menghadapi sejumlah dinamika di lapangan. Beberapa sekolah tercatat mengalami pengurangan penerima manfaat sementara karena siswa kelas akhir libur sekolah.
Data SPPG Tumpeng mencatat SDN Lombok Wetan kelas 6 sebanyak 23 siswa dan TK Nurul Makrifah sebanyak 51 siswa tidak mengikuti kegiatan belajar karena libur. Kondisi itu membuat jumlah distribusi makanan ikut menyesuaikan.
Ke depan, SPPG Tumpeng memastikan akan terus melakukan evaluasi menu dan pola distribusi agar program MBG semakin tepat sasaran. Mereka berharap program ini tidak hanya menjaga kesehatan siswa, tetapi juga menjadi fondasi pembentukan kebiasaan hidup sehat sejak dini.
What's Your Reaction?