Muktamar NU ke-35 Diusulkan Digelar di Situbondo, Pesantren Siap Tampung Peserta
Bupati Situbondo berharap Muktamar NU ke-35 dapat digelar di Situbondo. Alasan historis kuat, kesiapan pesantren menampung peserta, serta dukungan para kiai menjadi modal utama Situbondo sebagai calon tuan rumah.
KABAR RAKYAT,SITUBONDO- Kabupaten Situbondo berharap dapat menjadi tuan rumah pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 mendatang. Harapan itu disampaikan langsung oleh Bupati Situbondo seiring momentum Napak Tilas Sejarah NU.
Napak tilas tersebut dimulai dari Pondok Pesantren Syaikhona Kholil di Bangkalan, Madura, dilanjutkan ziarah ke Makam Sunan Ampel di Surabaya, dan berakhir di Makam KH Hasyim Asy’ari di Jombang.
Bupati Situbondo turut mengikuti rangkaian kegiatan bersejarah itu sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan panjang lahirnya Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Menurutnya, Situbondo memiliki keterikatan historis yang kuat dengan NU dan tidak dapat dipisahkan dari perjalanan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.
“Kabupaten Situbondo memiliki peran penting dalam sejarah NU, salah satunya melalui sosok ulama besar KHR As’ad Syamsul Arifin,” ujar Bupati Situbondo.
Ia menegaskan, KHR As’ad Syamsul Arifin merupakan ulama asal Situbondo yang jasanya sangat besar hingga kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Bupati menjelaskan, napak tilas dari Ponpes Syaikhona Kholil Bangkalan hingga Makam KH Hasyim Asy’ari merupakan rangkaian sejarah penting berdirinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Dalam perjalanan sejarah itu, KHR As’ad Syamsul Arifin mendapat amanah langsung dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan.
Amanah tersebut berupa penyampaian tongkat dan tasbih kepada KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang.
“Amanah itu kemudian dimaknai sebagai isyarat lahirnya jam’iyah Nahdlatul Ulama,” kata Bupati mengutip sejarah NU.
Berangkat dari nilai historis tersebut, Bupati berharap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mempertimbangkan Situbondo sebagai lokasi Muktamar NU ke-35.
Ia menilai, Situbondo bukan daerah baru dalam sejarah pelaksanaan muktamar NU.
“Situbondo pernah menjadi tuan rumah Muktamar NU pada masa lalu, bahkan di tengah dinamika internal organisasi,” ungkapnya.
Menurut Bupati, justru dalam situasi seperti itulah Situbondo mampu menghadirkan suasana yang tenang, aman, dan kondusif.
“Kami sangat siap. Situbondo bisa menjadi tempat yang nyaman untuk pelaksanaan muktamar,” ujarnya.
Bupati juga mengaku optimistis pelaksanaan Muktamar NU di Situbondo akan mendapat dukungan penuh dari para kiai dan pesantren.
Dukungan tersebut terutama datang dari pesantren besar yang memiliki keterkaitan sejarah dengan NU dan KHR As’ad Syamsul Arifin.
Dua pesantren yang disebutkan secara khusus adalah Pondok Pesantren Walisongo Mimbaan Panji dan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Kedua pesantren tersebut masih diasuh oleh keluarga besar KHR As’ad Syamsul Arifin.
Dari sisi keamanan dan logistik, Bupati menegaskan Situbondo telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif.
“Soal keamanan, insyaallah sangat siap,” katanya.
Bahkan, lanjut Bupati, sejumlah pondok pesantren telah berinisiatif untuk menanggung penampungan peserta muktamar.
“Ada kesiapan pondok pesantren untuk menampung peserta. Ini bentuk khidmat Situbondo kepada NU,” tegasnya.
Ia berharap kesiapan tersebut dapat menjadi pertimbangan PBNU dalam menentukan lokasi Muktamar NU ke-35.
“Situbondo siap lahir dan batin menjadi tuan rumah muktamar sebagai wujud penghormatan terhadap sejarah dan khidmat kepada NU,” pungkasnya.
Penulis: Khairul
What's Your Reaction?