Pemkab Situbondo Siapkan Wisata Negeri di Atas Awan Kayumas Berbasis Kopi

Pemerintah Kabupaten Situbondo memproyeksikan Puncak Kayumas sebagai wisata Negeri di Atas Awan berbasis agrowisata kopi peninggalan kolonial Belanda, dengan panorama alam mirip B29 Lumajang dan potensi investasi berkelanjutan.

Jan 9, 2026 - 17:45
 0
Pemkab Situbondo Siapkan Wisata Negeri di Atas Awan Kayumas Berbasis Kopi

KABAR RAKYAT,SITUBONDO — Pemerintah Kabupaten Situbondo mulai mematangkan rencana pengembangan kawasan Puncak Kayumas di Desa Kayumas, Kecamatan Arjasa, sebagai destinasi wisata unggulan berbasis alam dan agrowisata.

Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi wisata “Negeri di Atas Awan” yang menawarkan panorama alam pegunungan, hamparan awan, serta lanskap perkampungan warga dari ketinggian.

Dari puncak Pegunungan Kayumas, wisatawan dapat menyaksikan pemandangan menyerupai lautan awan yang membentang luas, mirip dengan sensasi wisata B29 di Kabupaten Lumajang.

Keindahan alam tersebut menjadi daya tarik utama yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata baru di Situbondo.

Wakil Bupati Situbondo, Ulfiyah, mengatakan kawasan Kayumas memiliki keunggulan alam yang tidak dimiliki daerah lain di wilayah tapal kuda.

“Hari ini kami bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Situbondo serasa berada di Negeri di Atas Awan Kayumas, seperti di B29 Lumajang. Sungguh sangat indah,” ujar Ulfiyah saat meninjau lokasi, Jumat (9/1/2026).

Menurutnya, potensi tersebut tidak hanya menyuguhkan wisata alam semata, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak perekonomian masyarakat setempat.

Ulfiyah menyebut kawasan Kayumas sangat ideal dikembangkan sebagai destinasi wisata terpadu berbasis alam, agrowisata, dan petualangan.

“Ini bisa kita poles menjadi potensi wisata Pintu Langit Kayumas yang membanggakan Situbondo,” katanya.

Selain panorama alam, kawasan ini juga dikelilingi hamparan hutan dan kebun kopi yang telah ada sejak era kolonial Belanda.

Di kawasan tersebut juga terdapat bangunan pabrik pengolahan kopi peninggalan masa penjajahan yang masih berdiri hingga kini.

Menurut Ulfiyah, kekayaan sejarah dan komoditas lokal menjadi nilai tambah yang memperkuat daya tarik wisata Kayumas.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan kawasan tersebut, mulai dari pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten.

“Pengembangan ini membutuhkan kerja bersama, termasuk peran BUMDes, pihak ketiga, dan investor,” ujar alumni Pondok Pesantren Sukorejo itu.

Ulfiyah menilai Kayumas memiliki peluang besar dikembangkan sebagai kawasan agrowisata terpadu, mulai dari wisata kebun kopi hingga edukasi sejarah perkebunan.

Selain itu, kawasan tersebut juga dinilai cocok untuk pengembangan glamping, homestay, hingga villa berkonsep alam.

“Potensi ini tidak hanya wisata alam, tetapi juga glamping, homestay, villa, dan wisata petualangan lainnya,” tuturnya.

Letak Kayumas yang strategis juga menjadi nilai lebih karena memiliki akses langsung menuju kawasan Gunung Ijen.

Akses tersebut menjadikan Kayumas berpotensi menjadi jalur alternatif wisatawan yang hendak menuju destinasi unggulan Gunung Ijen.

“Karena aksesnya langsung ke Gunung Ijen, ini sangat strategis untuk dikembangkan,” imbuh perempuan yang akrab disapa Mbak Ulfi itu.

Selain itu, kawasan Kayumas juga dinilai berpotensi dikembangkan sebagai lokasi olahraga dirgantara, seperti paralayang.

Menurut Ulfiyah, kontur wilayah dan ketinggian Kayumas sangat mendukung pengembangan wisata olahraga ekstrem.

Tak kalah penting, Kayumas juga memiliki komoditas unggulan berupa kopi khas yang telah menembus pasar ekspor.

“Siapa pun yang datang ke sini tidak hanya menikmati keindahan alam, tapi juga bisa melihat potensi kopi Kayumas yang sudah dikenal hingga mancanegara,” katanya.

Untuk mempercepat realisasi pengembangan kawasan tersebut, Pemkab Situbondo membuka peluang seluas-luasnya bagi investor.

Ulfiyah menegaskan investasi yang masuk tetap harus memperhatikan kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal.

“Kami mengundang investor untuk berinvestasi di Kayumas, dengan tetap menjaga kelestarian alam dan melibatkan masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, perkebunan Kopi Kayumas berada di ketinggian 1.300 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut.

Perkebunan tersebut merupakan salah satu kebun kopi Nusantara yang dikelola oleh PTPN XII.

Salah satu kopi andalan Kayumas adalah kopi luwak dan kopi arabika jenis maragogype yang banyak diminati pasar Eropa.

Dalam catatan sejarah, kopi luwak pertama kali dikonsumsi oleh pekerja rodi pada masa kolonial Belanda.

Saat itu, kopi Kayumas merupakan komoditas eksklusif yang hanya disajikan untuk kalangan bangsawan Eropa.

Dengan kekayaan alam, sejarah, dan komoditas unggulan tersebut, Pemkab Situbondo optimistis Kayumas mampu menjadi ikon wisata baru daerah.

Penulis : Khairul

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow