Masjid Ditutup Akibat Konflik Oknum KUA, Ketua MWCNU Tegalampel Desak Pemdes dan Kemenag Bondowoso Turun Tangan

Konflik oknum pegawai KUA dan pengurus masjid di Bondowoso berujung penyegelan akses rumah ibadah. Ketua MWCNU Tegalampel mendesak pemerintah segera turun tangan sebelum Ramadan.

Feb 19, 2026 - 20:31
Feb 19, 2026 - 20:42
 0
Masjid Ditutup Akibat Konflik Oknum KUA, Ketua MWCNU Tegalampel Desak Pemdes dan Kemenag Bondowoso Turun Tangan
Ustad Haryono Ketua MWCNU Tegalampel memberikan keterangan terkait konflik penutupan akses Masjid Nurul Iman di Dusun Song Tengah, Bondowoso, yang menuai sorotan di Ramadan.

KABAR RAKYAT, BONDOWOSO – Ustad Haryono, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Tegalampel, mendesak pemerintah desa (Pemdes) Karanganyar dan Kemenag Bondowoso segera turun tangan menyelesaikan konflik oknum pegawai KUA dengan pengurus Masjid Nurul Iman di Dusun Song Tengah. 

Perselisihan itu berujung penutupan rumah ibadah Masjid Nurul Imam dan dinilai mengganggu ketenangan warga dalam beribadah.

Perselisihan disebut bermula dari konflik antara salah satu pengurus masjid dan ahli waris tanah lokasi bangunan yang juga merupakan pegawai KUA Tegalampel di Desa Karanganyar, Kecamatan Tegalampel, Kabupaten Bondowoso.

Persoalan pribadi tersebut kemudian melebar hingga berdampak pada penutupan masjid yang selama ini menjadi pusat kegiatan ibadah masyarakat setempat.

Ustad Haryono menegaskan pemerintah desa tidak boleh bersikap pasif menghadapi situasi tersebut karena dampaknya sudah dirasakan langsung oleh warga.

Dia mengimbau aparat desa bersama Kementerian Agama harus hadir sebagai penengah agar konflik tidak meluas dan memicu keresahan sosial, karena salah satu pihak dari oknum pegawai KAU Tegalampel.

" Konflik semacam ini seharusnya tidak terjadi, terlebih saat ini masuk bulan Ramadan," Kata Ustad Haryono pada media, Kamis (18/2/2026).

Menurutnya, langkah cepat mutlak diperlukan agar warga tetap dapat menjalankan ibadah wajib maupun sunah dengan tenang, mengingat akses menuju masjid kini ditutup total.

Dia bahkan meminta pemerintah desa segera menyiapkan lokasi ibadah alternatif sementara jika masjid belum dapat dibuka kembali.

“Ramadan seharusnya diisi kedamaian, bukan konflik. Penyelesaian konflik ini harus jadi prioritas bersama,” tegasnya.

Ustad Haryono juga berharap masalah tersebut dapat diselesaikan secara bijak dan bermartabat melalui dialog terbuka antar pihak yang berkonflik.

Dia menilai rumah ibadah memiliki peran vital dalam kehidupan sosial masyarakat sehingga penutupan masjid bukan sekadar persoalan fisik bangunan.

Karena itu, ia mengimbau semua pihak menahan diri dan mengedepankan musyawarah dibanding mengambil langkah sepihak yang berpotensi memperkeruh suasana.

Situasi ini menjadi sorotan publik karena terjadi di saat Ramadan, sementara warga dilaporkan resah menunggu kepastian pembukaan kembali masjid.

Desakan MWCNU Tegalampel kini menjadi tekanan moral bagi pemerintah desa dan pihak terkait agar segera mengambil keputusan demi memulihkan suasana religius masyarakat.

Orang nomor satu di MWCNU Tegalampel tersebut mengajak semua pihak yang terlibat konflik segera berdamai agar masjid dapat kembali difungsikan sebagaimana mestinya sebagai pusat ibadah dan kegiatan sosial warga.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow