Eks Lokalisasi Burnik City Kini Dongkrak UMKM Hingga Rp2,4 Miliar
Perputaran ekonomi UMKM di Burnik City Situbondo mencapai Rp2,4 miliar dalam setahun. Meski sempat mengalami penurunan jumlah pedagang, kawasan ini tetap menjadi pusat ekonomi baru masyarakat.
SITUBONDO - Aktivitas ekonomi pelaku UMKM di kawasan Burnik City, Situbondo, menunjukkan geliat signifikan menjelang satu tahun operasionalnya.
Tak tanggung tanggung, saat ini perputaran uang di kawasan tersebut diperkirakan mencapai Rp2,4 miliar.
Ketua Paguyuban UMKM Burnik City, Kadari, menyebut angka tersebut dihitung berdasarkan rata-rata omzet pedagang per hari. Ia menilai Burnik City menjadi salah satu pusat ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
Seperti diketahui, kawasan Burnik City yang berada di Kelurahan Dawuhan sebelumnya dikenal sebagai area lokalisasi prostitusi. Kini, kawasan tersebut bertransformasi menjadi sentra UMKM berbasis kuliner.
Pada awal pembukaan, jumlah pedagang yang berjualan mencapai 120 lapak. Kondisi ini bertahan selama tiga bulan pertama sejak peresmian.
“Di awal bulan semenjak diresmikan, pedagang yang berjualan ada 120 lapak dan itu terbanyak bertahan selama tiga bulan,” ujar Kadari.
Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah pedagang mengalami penurunan cukup drastis. Pada bulan ketiga, jumlah lapak mulai berkurang hingga separuhnya.
“Di dua bulan awal tembus 120, kemudian enam bulan tersisa delapan lapak, di bulan kedelapan sekitar 30 lapak, dan saat ini bertahan 20 lapak,” jelasnya.
Kadari mengungkapkan fluktuasi daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor utama penurunan tersebut. Hal ini berdampak langsung pada keuntungan para pelaku usaha.
Menurutnya, lonjakan pembeli biasanya terjadi saat hari libur atau ketika ada kunjungan rombongan pejabat ke Burnik City.
“Tingginya nilai beli masyarakat biasanya saat hari libur kerja atau ada kunjungan pejabat, itu pasti meningkat,” katanya.
Meski demikian, Kadari tetap optimistis kawasan ini akan kembali ramai. Ia berharap perbaikan fasilitas dapat menarik lebih banyak pengunjung.
“Saat ini yang bertahan ada 20 penjual, semoga ke depan bisa kembali seperti awal launching,” ujarnya penuh harap.
Berdasarkan data paguyuban, perputaran uang per bulan di Burnik City cukup bervariasi. Angka tertinggi mencapai Rp900 juta, sementara terendah sekitar Rp36 juta per bulan.
Kadari menyebut rata-rata pedagang bisa meraup keuntungan harian di atas Rp1 juta, bahkan ada yang mencapai Rp4 juta.
Salah satu pedagang, Ahmad Razeki, mengaku tetap bertahan karena omzet yang diperoleh masih lebih baik dibanding lokasi sebelumnya.
“Meski pembeli menurun, omzetnya masih lebih besar dari tempat saya berjualan dulu,” ungkapnya.
Ia juga menyebut mayoritas pembeli berasal dari masyarakat umum. Sementara pegawai negeri biasanya datang saat ada kegiatan tertentu.
“Kebanyakan pembeli dari masyarakat, kalau PNS biasanya saat ada acara,” tambahnya.
Para pedagang berharap pengelola dan pemerintah daerah dapat meningkatkan fasilitas pendukung. Di antaranya penerangan, dekorasi, serta wahana bermain anak.
Perbaikan sarana prasarana dinilai penting untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM di Burnik City.
Penulis : Khairul
What's Your Reaction?