Pembinaan DPMD Bangkalan, Ki Klungsu Soroti Pentingnya Kemandirian Ekonomi Desa
Tokoh budaya sekaligus Kepala Desa Tulungrejo, Ki Klungsu, menegaskan pentingnya desa mandiri melalui penguatan SDM, transparansi anggaran, serta pengelolaan BUMDes profesional dalam pembinaan aparatur desa di Bangkalan.
BANGKALAN – Tokoh budaya masyarakat sekaligus Kepala Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, Suliono atau yang akrab disapa Ki Klungsu menegaskan pentingnya kemandirian desa agar tidak terus bergantung pada bantuan pihak luar. Menurutnya, desa memiliki kekuatan besar untuk berkembang apabila seluruh potensi lokal dikelola secara serius dan melibatkan masyarakat secara aktif.
Pernyataan tersebut disampaikan Ki Klungsu saat menjadi pemateri dalam kegiatan pembinaan kapasitas aparatur pemerintah desa yang digelar Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Bangkalan di Pendopo Pratanu, Rabu (12/05/2026).
Dalam kesempatan itu, Ki Klungsu menilai desa sebenarnya memiliki sumber daya yang sangat melimpah. Potensi tersebut mulai dari sektor pertanian, peternakan, perikanan, wisata desa hingga usaha mikro masyarakat yang dinilai mampu menjadi penggerak ekonomi lokal.
Namun demikian, menurutnya masih banyak desa yang belum mampu memaksimalkan potensi tersebut. Hal itu disebabkan lemahnya perencanaan pembangunan serta kurangnya inovasi dalam pengelolaan potensi desa.
“Desa jangan hanya menjadi objek pembangunan, tetapi harus menjadi pelaku utama pembangunan itu sendiri. Jika potensi desa dikelola dengan baik, maka desa akan mampu berdikari dan mandiri,” ujar Ki Klungsu.
Ia menjelaskan bahwa langkah utama dalam membangun desa mandiri adalah memperkuat kualitas sumber daya manusia. Pendidikan, pelatihan keterampilan hingga budaya literasi disebut harus menjadi prioritas pemerintah desa agar masyarakat mampu bersaing dan menciptakan peluang usaha.
“Ada dua hal penting dalam membangun desa, yakni peningkatan kapasitas dan penguatan SDM. Percuma sumber daya alam melimpah kalau SDM belum mampu mengelola dengan baik,” katanya.
Selain penguatan SDM, Ki Klungsu juga menyoroti pentingnya optimalisasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Ia menilai masih banyak BUMDes yang berjalan sebatas formalitas tanpa memiliki program usaha produktif yang benar-benar berdampak bagi masyarakat.
Menurutnya, BUMDes harus dikelola secara profesional dengan memanfaatkan potensi unggulan masing-masing desa. Dengan pengelolaan yang tepat, BUMDes diyakini mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat desa.
“BUMDes harus dikelola secara profesional, bukan sekadar papan nama. Desa harus berani menciptakan usaha yang sesuai dengan potensi wilayahnya,” tegasnya.
Tidak hanya itu, Ki Klungsu juga menekankan pentingnya transparansi penggunaan anggaran desa. Ia meminta pemerintah desa membuka ruang partisipasi publik agar masyarakat dapat ikut mengawasi proses pembangunan yang berjalan.
Ia menilai keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan pemerintahan desa yang sehat, jujur, dan dipercaya publik.
Ki Klungsu turut mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali budaya gotong royong yang mulai memudar di tengah masyarakat. Menurutnya, semangat kebersamaan merupakan kekuatan utama desa sejak zaman dahulu.
“Kalau masyarakat kompak, pemerintah desa jujur, dan potensi desa dimanfaatkan dengan baik, maka desa tidak akan tertinggal. Desa bisa maju dengan kekuatannya sendiri,” tandasnya.
Di akhir pemaparannya, Ki Klungsu berharap pemerintah daerah dapat lebih serius memberikan pendampingan kepada desa, khususnya dalam pengembangan ekonomi kreatif, digitalisasi pemasaran produk lokal, hingga peningkatan kapasitas aparatur desa agar mampu menghadapi tantangan perkembangan zaman.
Penulis : Luhur Utomo
What's Your Reaction?