Tangis Perantau Bali Gagal Hadiri Haul Masyayikh Situbondo Demi Menafkahi Keluarga Tercinta

Kerinduan mendalam dirasakan Ghozali, perantau asal Situbondo yang bekerja di Bali. Tak bisa menghadiri Haul Masyayikh Jamiyah Sholawat Nariyah, ia hanya mampu mengikuti seluruh rangkaian acara melalui siaran langsung YouTube sambil menahan tangis.

Jul 19, 2026 - 09:13
Jul 19, 2026 - 15:29
 0
Tangis Perantau Bali Gagal Hadiri Haul Masyayikh Situbondo Demi Menafkahi Keluarga Tercinta
Ghozali, warga Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo, yang kini merantau dan bekerja di Provinsi Bali

SITUBONDO – Ribuan jamaah memadati Alun-alun Situbondo untuk menghadiri Haul Masyayikh Jamiyah Sholawat Nariyah. Namun, di balik lautan manusia itu, ada kisah haru seorang perantau yang hanya bisa menyaksikan acara dari kejauhan.

Adalah Ghozali, warga Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo, yang kini merantau dan bekerja di Provinsi Bali. Tahun ini ia harus mengubur keinginannya untuk pulang menghadiri Haul Masyayikh secara langsung.

Sebagai pelipur rindu, Ghozali mengikuti seluruh rangkaian pembacaan Sholawat Nariyah melalui siaran langsung di kanal YouTube resmi Organisasi Ittisholana.

Perasaan sedih tak mampu disembunyikannya ketika melihat ribuan jamaah dari berbagai daerah memadati lokasi haul melalui tayangan media sosial.

"Saya sangat sedih, sebagai warga kelahiran Situbondo tidak bisa hadir. Saya sampai menangis melihat orang-orang dari luar daerah berbondong-bondong datang, bahkan sejak sebelum hari pelaksanaan," ujar Ghozali saat dikonfirmasi, Sabtu malam (18/7/2026).

Ia mengungkapkan, ketidakhadirannya bukan karena tidak memiliki keinginan untuk pulang, melainkan karena baru diterima bekerja di Bali sehingga belum memungkinkan meninggalkan pekerjaannya.

Menurut Ghozali, keputusan tetap bekerja merupakan bentuk tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya.

"Pekerjaan ini menjadi alasan utama saya untuk menunaikan kewajiban sebagai suami dalam menafkahi anak dan istri saya," katanya dengan suara terbata-bata.

Meski hanya mengikuti acara secara virtual, Ghozali mengaku tetap merasakan kedekatan batin dengan para jamaah yang hadir langsung di Alun-alun Situbondo.

Ia bahkan bertekad tidak ingin mengulangi ketidakhadiran tersebut pada pelaksanaan Haul Masyayikh berikutnya.

"Dalam hati saya, cukup sekali ini saja tidak ikut Haul Masyayikh. Acara ini adalah warisan para guru dan ulama yang mengajarkan bagaimana memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat," ucapnya lirih.

Bagi Ghozali, Haul Masyayikh bukan sekadar kegiatan keagamaan, melainkan momentum spiritual yang mempererat kecintaan kepada ulama sekaligus menguatkan nilai-nilai keislaman yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Seperti diketahui, Haul Masyayikh Jamiyah Sholawat Nariyah tahun ini dihadiri jamaah dari berbagai kabupaten, provinsi, hingga mancanegara. Panitia menyebutkan peserta datang dari Malaysia, Thailand, bahkan terdapat rombongan dari Arab Saudi yang ikut menghadiri agenda religius yang digelar satu dekade sekali tersebut.

Penulis: Khairul

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow