Haul Masyayikh Situbondo, Jamaah Seberang Pulau Rela Menginap Demi Barisan Terdepan
Antusiasme jamaah menghadiri Haul Masyayikh Ittisholana di Situbondo begitu tinggi. Warga dari berbagai daerah, bahkan seberang Pulau Madura, rela datang lebih awal hingga bermalam demi mendapatkan tempat utama di Alun-alun Situbondo.
SITUBONDO – Gelombang jamaah dari berbagai daerah mulai memadati Kabupaten Situbondo menjelang pelaksanaan Haul Masyayikh Ittisholana.
Tak sedikit yang rela datang sehari lebih awal, bahkan memilih bermalam demi mendapatkan tempat terbaik di lokasi acara.
Salah satunya Syamsiadi, warga Kepulauan Talango, Kabupaten Sumenep. Bersama sekitar 130 orang rombongannya, ia menyeberang dari Pulau Madura menuju Situbondo demi mengikuti Haul Masyayikh yang dinilai sebagai momen istimewa.
Menurut Syamsiadi, Haul Masyayikh Ittisholana merupakan agenda langka yang hanya digelar satu dekade sekali sehingga sayang jika dilewatkan.
"Alhamdulillah saya bersama keluarga memang ingin hadir di Haul Masyayikh Ittisholana. Selain momen langka, di sini kami bisa melihat dan meneladani banyak ulama," ujarnya saat baru turun dari bus rombongan, Minggu (19/7/2026).
Meski harus kembali ke kampung halaman keesokan harinya karena menghadiri walimah keluarga, hal itu tidak mengurangi semangatnya untuk hadir di Situbondo.
Ia mengaku sengaja datang lebih awal karena khawatir tidak memperoleh tempat di area utama Alun-alun Situbondo yang diperkirakan dipenuhi jamaah dari berbagai daerah.
Syamsiadi juga membawa kedua anaknya sebagai bagian dari pendidikan religi dalam keluarga.
"Saya ingin mengajarkan kepada dua anak saya bahwa Situbondo memiliki tradisi keagamaan yang sangat kuat. Bahkan saya sampai lupa membawa baju ganti. Saya juga tidak menyangka panitia menyediakan banyak makanan gratis dan kopi untuk jamaah," katanya.
Antusiasme serupa ditunjukkan Ibrahim, warga Kabupaten Bondowoso. Meski jarak Bondowoso-Situbondo relatif dekat, ia memilih menginap di rumah temannya agar tidak terlambat menuju lokasi acara.
"Saya rencana menginap di rumah teman. Dari sana hanya sekitar lima menit ke Alun-alun Situbondo. Semoga bisa mendapatkan tempat utama sehingga dapat mengikuti acara dengan khusyuk," ucapnya.
Sementara itu, Rahman, warga Desa Kayumas, Kecamatan Arjasa, memilih cara yang lebih ekstrem. Ia memutuskan bermalam langsung di kawasan Alun-alun Situbondo.
Menurut Rahman, keputusan tersebut diambil karena memperkirakan ribuan jamaah dari berbagai penjuru Indonesia akan mulai berdatangan sejak dini hari.
"Saya yakin menjelang pukul 01.00 WIB jamaah dari seluruh Nusantara sudah mulai berdatangan. Kalau berangkat setelah Subuh, sepertinya sudah tidak kebagian tempat di Alun-alun," tuturnya.
Antusiasme para jamaah dari berbagai daerah itu menunjukkan besarnya daya tarik Haul Masyayikh Ittisholana.
Bagi mereka, perjalanan jauh, menyeberangi pulau, hingga bermalam bukanlah pengorbanan, melainkan bentuk kecintaan kepada para masyayikh dan keinginan meraih keberkahan dalam salah satu agenda keagamaan terbesar di Situbondo.
Penulis: Khairul
What's Your Reaction?