Angkutan Pelajar Trenggalek Belum Beroperasi, Dishub Fokus Survei Peminatan
Dishub Trenggalek menunda operasional angkutan pelajar hingga hasil survei peminatan siswa rampung. Sebanyak 40 armada disiapkan dengan anggaran Rp1,3 miliar untuk melayani hingga 800 pelajar per hari.
TRENGGALEK – Layanan angkutan antar jemput pelajar di Kabupaten Trenggalek hingga pertengahan April 2026 belum beroperasi. Dinas Perhubungan (Dishub) setempat menunda pelaksanaan sambil menunggu hasil survei peminatan siswa sebagai dasar penentuan layanan.
Penundaan ini dilakukan untuk memastikan jumlah armada dan rute yang disiapkan benar-benar sesuai kebutuhan pelajar di lapangan. Dengan begitu, layanan diharapkan lebih efektif dan tepat sasaran.
Kepala Bidang Angkutan Dishub Trenggalek, Budi Supriyanto, mengatakan hingga kini operasional belum dijalankan, baik menggunakan kendaraan dinas maupun armada sewa.
“Seperti kami ketahui sampai hari ini, kami belum melaksanakan angkutan pelayanan pelajar, baik menggunakan kendaraan dinas maupun angkutan sewa,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan, pola pelaksanaan tahun ini berbeda dibandingkan sebelumnya. Jika biasanya layanan sudah berjalan sejak Maret, kini Dishub memilih memulai dengan survei peminatan siswa.
“Insya Allah minggu depan kami melaksanakan survei peminatan sebagai dasar untuk memplot jumlah armada dan jurusan layanan, tidak seperti tahun lalu,” katanya.
Menurut Budi, perubahan ini dilakukan agar layanan lebih tepat guna dan tidak terjadi ketidaksesuaian antara kebutuhan dan penyediaan armada.
“Biasanya mulai beroperasi bulan Maret, tetapi tahun ini kami ubah dengan survei terlebih dahulu supaya tepat sasaran,” imbuhnya.
Meski mengalami penundaan, Dishub memastikan layanan angkutan pelajar tetap menjangkau seluruh wilayah Kabupaten Trenggalek, baik kawasan perkotaan maupun daerah pinggiran.
“Seluruh wilayah di Trenggalek akan kami layani, baik kecamatan jauh dari kota maupun wilayah perkotaan,” tegasnya.
Dari sisi kesiapan, Dishub telah menyiapkan total 40 unit armada, terdiri dari 4 kendaraan dinas dan 36 unit angkutan sewa. Anggaran yang dialokasikan untuk program ini mencapai sekitar Rp1,3 miliar.
“Untuk armada dari dinas sebanyak 4 unit dan angkutan sewa 36 unit, dengan anggaran kisaran Rp1,3 miliar,” jelasnya.
Dalam kondisi normal, layanan ini mampu melayani sekitar 750 hingga 800 pelajar setiap hari. Namun, jumlah tersebut bersifat fluktuatif karena tidak semua siswa menggunakan layanan yang sama saat berangkat dan pulang.
“Per hari sekitar 750 sampai 800 siswa, tetapi bisa berubah karena ada yang tidak pulang bersama angkutan pelajar,” ujarnya.
Ia menambahkan, rute dengan tingkat keterisian tertinggi selama ini berada di wilayah Kecamatan Trenggalek, Munjungan, dan Panggul.
“Relatif sama untuk jurusan, dan yang tertinggi di wilayah Kecamatan Trenggalek, Munjungan, dan Panggul,” pungkasnya.
Penulis : Witono Hadi
What's Your Reaction?