Dinkes Lamongan Catat Penurunan DBD 2026, Ancaman Penyakit Tikus

Dinkes Lamongan mencatat kasus DBD turun drastis pada awal 2026 dari 400 menjadi 96 kasus. Meski begitu, warga diminta tetap waspada terhadap ancaman Leptospirosis saat musim pancaroba.

Apr 8, 2026 - 16:54
 0
Dinkes Lamongan Catat Penurunan DBD 2026, Ancaman Penyakit Tikus
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Lamongan, Yany Khoirurakhmawati saat dikonfirmasi penyebaran penyakit di musim Pancaroba.

LAMONGAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lamongan mencatat penurunan signifikan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada awal tahun 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, masyarakat diminta tidak lengah karena cuaca pancaroba berpotensi memicu penyebaran berbagai penyakit menular lainnya.

Berdasarkan data terbaru, jumlah kasus DBD pada bulan ini tercatat sebanyak 96 kasus, turun drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 400 kasus. Dari jumlah tersebut, hanya 48 kasus yang dipastikan sebagai DBD setelah melalui pemeriksaan spesifik. Penurunan ini dinilai menjadi dampak positif dari masifnya upaya pencegahan di tengah masyarakat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Lamongan, Yany Khoirurakhmawati, mengatakan penurunan kasus tersebut merupakan hasil intervensi yang dilakukan secara konsisten di lapangan. Namun, ia menegaskan fogging saja belum cukup efektif apabila tidak dibarengi dengan pemutusan siklus hidup nyamuk secara menyeluruh.

“2026 ini alhamdulillah jika dibandingkan dengan tahun yang lalu kita menurun tajam. Kalau tahun yang lalu di bulan ini ada 400 kasus, tapi catatan saya bulan ini hanya 96 kasus,” ujar Yany, Selasa (7/4/2026).

Ia menekankan, pencegahan DBD harus menyasar hingga telur, larva, dan pupa nyamuk yang kerap tidak mati hanya dengan pengasapan fogging.

“Begitu setelah fogging, ternyata masih ada demam berdarah di sana. Kenapa? Karena telur, larva, sama pupanya tidak mati. Jadi kita harus mematikan semuanya,” tambahnya.

Masyarakat diimbau untuk terus menjalankan gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, menimbun atau mendaur ulang barang bekas, serta menggunakan perlindungan tambahan seperti kelambu, losion anti-nyamuk, dan menjaga kebersihan lingkungan. Untuk penanganan jentik, Dinkes menyarankan penggunaan serbuk abate pada penampungan air bersih, sementara genangan air kotor dapat diatasi dengan bahan alami.

“Kalau pupa atau telurnya ada di air bersih, kita menggunakan abate. Tapi kalau di air kotor, kita pakai air sirih atau pakai minyak,” imbau Yany.

Selain DBD, lanjut Yany, ancaman penyakit lain yang kini mulai terdeteksi adalah Leptospirosis. Penyakit akibat bakteri dari urine tikus tersebut mulai ditemukan di sejumlah wilayah, terutama kawasan dengan banyak genangan air atau pasca-banjir seperti Kecamatan Glagah.

Terkait bahaya Leptospirosis, Dinkes memberikan peringatan keras karena penyakit tersebut dapat berdampak fatal hingga menyebabkan kematian.

“Leptospirosis ini adalah bakteri yang dari tikus ke manusia. Ini penyakit hati (liver), ada yang sampai meninggal karena hatinya menjadi memburuk karena bakteri tersebut,” jelasnya.

Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu, warga diimbau memastikan saluran air tidak tersumbat serta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tidak menjadi sarang nyamuk maupun tikus.


Penulis : Yoga

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow