Dolar Tembus Rp18 Ribu, Harga Besi di Pasar Meroket

Lonjakan nilai tukar dolar AS hingga menyentuh level Rp18.000 mulai mengguncang industri besi dan baja nasional. Ketergantungan tinggi terhadap impor membuat harga baja meroket, bahkan beberapa produk menembus Rp20.000 per kilogram. Pelaku usaha berharap permintaan pasar tetap terjaga di tengah tekanan ekonomi global.

Jun 4, 2026 - 14:21
 0
Dolar Tembus Rp18 Ribu, Harga Besi di Pasar Meroket
Aktivitas bongkar muat besi dan baja di kawasan industri Lamongan. Kenaikan nilai tukar dolar AS berdampak langsung terhadap harga komoditas baja impor yang menjadi salah satu bahan baku utama sektor konstruksi dan manufaktur.

LAMONGAN – Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus level Rp18.000 mulai menimbulkan efek berantai terhadap berbagai sektor industri nasional. Salah satu yang paling merasakan tekanan adalah industri besi dan baja yang masih bergantung pada pasokan bahan baku impor.

Kondisi tersebut memicu kenaikan harga komoditas besi di pasar domestik. Pelaku usaha mengaku lonjakan kurs dolar secara langsung berdampak terhadap biaya pengadaan barang dan harga jual di tingkat konsumen.

CEO Duta Merpati, perusahaan pemasok besi dan baja asal Lamongan, Pradita Aditya, mengatakan bahwa industri baja nasional masih memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap impor sehingga sangat rentan terhadap gejolak nilai tukar mata uang asing.
Menurutnya, kebutuhan baja nasional hingga saat ini belum sepenuhnya mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Akibatnya, impor menjadi pilihan yang tidak dapat dihindari untuk memenuhi permintaan pasar.

"Kenaikan dolar ini memang berdampak sistemik. Kebutuhan baja nasional kita ini angka impornya cukup lumayan besar karena produksi dalam negeri belum mampu menampung seluruh kebutuhan domestik," ujar Pradita, Kamis (4/6/2026).

Ia menjelaskan, kebijakan pemerintah melalui Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan yang membuka keran impor bertujuan menjaga ketersediaan pasokan di dalam negeri. Namun di sisi lain, kebijakan tersebut membuat industri nasional ikut terdampak ketika nilai tukar dolar mengalami penguatan.

Pradita mengungkapkan bahwa sebagian besar pasokan baja impor Indonesia masih berasal dari Tiongkok. Dalam praktik perdagangan internasional, transaksi pembelian baja dari negara tersebut masih menggunakan dolar AS sebagai acuan utama.

"Impor rata-rata 90 persen berasal dari China, dan di sana masih menggunakan dolar sebagai benchmark atau patokan transaksi. Begitu dolar tembus Rp18.000 hari ini, harga besi otomatis langsung melonjak," jelasnya.

Dampak kenaikan kurs tersebut kini mulai terlihat pada berbagai produk turunan baja. Harga komoditas mengalami penyesuaian secara bertahap mengikuti kenaikan biaya impor yang harus ditanggung pelaku usaha.

Salah satu yang mengalami lonjakan signifikan adalah produk koil (coil). Sebelum terjadi penguatan dolar, harga koil berada di kisaran Rp14.500 hingga Rp15.500 per kilogram.

Kini harga produk yang sama melonjak ke level Rp18.000 hingga Rp19.000 per kilogram. Bahkan untuk beberapa jenis tertentu, harga telah menembus angka Rp20.000 per kilogram.

Kenaikan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha, terutama sektor konstruksi dan manufaktur yang menggunakan baja sebagai bahan baku utama produksi.
Meski demikian, para pelaku industri berharap kondisi pasar tetap stabil dan tidak diikuti penurunan daya beli maupun permintaan secara drastis. Stabilitas permintaan dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga roda perekonomian tetap bergerak.

"Kenaikannya cukup lumayan besar dan berdampak langsung pada harga besi. Namun, kami berharap demand dari market tetap tidak berubah, permintaan tetap bagus, dan pastinya perekonomian kita bisa tetap berjalan dengan baik," tutup Pradita.

Di tengah tekanan nilai tukar dan kenaikan harga bahan baku impor, pelaku industri kini berharap adanya stabilitas ekonomi nasional agar sektor konstruksi, manufaktur, dan perdagangan tetap tumbuh serta mampu menjaga momentum pemulihan ekonomi.

Penulis : Yoga

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow