Jembatan Koncer Bondowoso Jadi Pengalihan Arus, Warga Khawatir Ambruk Susul Sentong

Kondisi Jembatan Koncer di Bondowoso dikeluhkan warga setelah volume kendaraan meningkat pasca ambruknya Jembatan Sentong. Pemerintah diminta segera bertindak sebelum terjadi kerusakan serius.

Feb 28, 2026 - 15:54
 0
Jembatan Koncer Bondowoso Jadi Pengalihan Arus, Warga Khawatir Ambruk Susul Sentong
Arus kendaraan roda dua dan roda empat melintas di Jembatan Koncer, Bondowoso, yang kini menjadi jalur alternatif pasca ambruknya Jembatan Sentong, sementara kondisi permukaan jalan terlihat retak dan berlubang sehingga memicu kekhawatiran pengguna jalan

KABAR RAKYAT,BONDOWOSO — Kekhawatiran warga terhadap kondisi Jembatan Koncer di Bondowoso kembali mencuat setelah arus lalu lintas dialihkan akibat ambruknya Jembatan Sentong.

Jalur tersebut kini menjadi akses alternatif penghubung menuju Jember yang nanti melewati grujugam.

Sejak pengalihan arus, volume kendaraan meningkat drastis, termasuk truk bermuatan berat yang setiap hari melintas.

Kondisi itu memicu kekhawatiran warga yang menilai fisik Jembatan Koncer  sudah lama menunjukkan tanda kerusakan.

Dhebo, warga Grujugan yang rutin melintas, mengaku waswas setiap melewati jembatan tersebut. Ia mengatakan retakan dan lubang sudah lama terlihat, bahkan getaran terasa kuat saat kendaraan besar berpapasan. Ia khawatir jika jembatan mengalami kerusakan serius, akses menuju Pasar Induk Bondowoso akan semakin jauh dan berdampak pada mata pencaharian warga.

Keluhan warga ini menyoroti persoalan klasik infrastruktur daerah, yakni minimnya perawatan, lambatnya respons, serta perencanaan yang dinilai reaktif karena perbaikan baru dilakukan setelah kerusakan memburuk.

Kepala BSBK Bondowoso, Ansori, mengakui Jembatan Koncer memang menjadi perhatian serius dan telah lama masuk daftar prioritas usulan perbaikan. Ia menyebut ada tiga jembatan yang rutin diajukan setiap tahun, yakni jembatan Ring Road, Jembatan Koncer, dan jembatan menuju arah Tegalampel.

Namun, pengakuan bahwa usulan disampaikan setiap tahun justru memunculkan pertanyaan publik karena hingga kini belum ada kepastian realisasi. Ansori menyebut pihaknya belum menerima jawaban resmi dari instansi terkait dan baru akan kembali melakukan koordinasi pada 2026.

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan adanya stagnasi birokrasi dalam penanganan infrastruktur vital. Di sisi lain, lalu lintas harian rata-rata di jembatan terus meningkat sejak menjadi jalur alternatif utama.

BSBK menyatakan telah melakukan perbaikan ringan seperti menambal lubang di akses jembatan. Meski begitu, langkah tersebut belum menyentuh persoalan struktural utama yang dikeluhkan warga. Bahkan, sejumlah pekerjaan perbaikan jalan di kawasan kota sempat terhenti karena bahan habis dan baru akan dianggarkan kembali tahun depan.

Ironisnya, berdasarkan hasil rapat koordinasi, kendaraan berat sebenarnya dilarang melintas di Jembatan Koncer. Namun aturan itu belum berjalan efektif karena masih banyak truk bermuatan yang tetap melintas.

Ansori menegaskan pihaknya telah menyampaikan larangan tersebut, tetapi di lapangan pengawasan masih lemah. Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko kerusakan jembatan jika tidak segera ditangani secara serius.

Sebagai solusi sementara, kendaraan dari arah Jember diarahkan melalui Desa Taman menuju kawasan Bataan sebelum diputar kembali ke arah timur. Namun tanpa rambu jelas dan pengawasan ketat, jalur alternatif itu kerap diabaikan pengendara.

Belajar dari kasus ambruknya Jembatan Sentong, masyarakat kini menunggu langkah preventif, bukan sekadar respons setelah kejadian. Sebab jika Jembatan Koncer mengalami kerusakan serius, dampaknya bukan hanya jarak tempuh lebih jauh, tetapi juga terganggunya aktivitas ekonomi warga yang bergantung pada akses tersebut.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow