SPPG Mangli Bondowoso Jadi Miniatur Sukses Program MBG, Dongkrak Ekonomi Petani

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Mangli Bondowoso menjadi contoh keberhasilan pemberdayaan petani lokal. Harga sayur naik, hasil panen terserap, dan ekonomi masyarakat sekitar ikut bergerak.

Apr 29, 2026 - 17:27
Apr 29, 2026 - 18:11
 0
SPPG Mangli Bondowoso Jadi Miniatur Sukses Program MBG, Dongkrak Ekonomi Petani
Aprilia Ningsih, distributor sayur asal Desa Randu Cangkring, Kecamatan Pujer, Bondowoso, menunjukkan hasil panen sayuran lokal yang dipasok untuk kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Mangli. Program tersebut dinilai membantu meningkatkan penjualan petani dan menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

BONDOWOSO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, mulai menunjukkan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat sekitar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Salah satu contoh keberhasilan terlihat di SPPG Bondowoso Pujer Mangli yang dinilai mampu memberdayakan petani lokal sekaligus meningkatkan pendapatan warga sekitar.

Program tersebut mendorong perputaran ekonomi baru, terutama bagi petani sayur dan distributor hasil pertanian di wilayah Kecamatan Pujer.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan manfaat langsung adalah Aprilia Ningsih, warga Desa Randu Cangkring, Kecamatan Pujer. Ia menjadi distributor sayur yang rutin memasok kebutuhan dapur MBG di SPPG Mangli.

Aprilia mengaku menyuplai berbagai jenis sayuran seperti sawi mie, sawi pakcoy, buncis hingga edamame. Komoditas tersebut menjadi kebutuhan rutin untuk memenuhi menu dapur MBG setiap hari.

“Setelah ada MBG, penjualan meningkat dan sayur tidak sampai menumpuk seperti dulu,” ujar Aprilia pada Kabarrakyat.id, Rabu (29/04/2026). 

Menurut dia, sebelum program ini MBG ini ada, permintaan pasar cenderung tidak stabil sehingga banyak hasil panen terlambat terjual. Kini kondisi itu berubah semenjak program MBG ada, karena kebutuhan pasokan berlangsung rutin.

Tak hanya volume penjualan yang meningkat, harga komoditas juga ikut terdongkrak. Aprilia mencontohkan harga buncis yang sebelumnya sempat jatuh di angka Rp1.500 per kilogram, kini naik hingga sekitar Rp10 ribu per kilogram.

Kenaikan serupa terjadi pada sawi pakcoy. Jika sebelumnya hanya berkisar Rp450 ribu per kuintal, kini menembus Rp900 ribu per kuintal.

“Kalau dihitung, peningkatan nilai ekonominya bisa sampai dua kali lipat. Dulu satu keresek hanya sekitar Rp20 ribu, sekarang bisa mencapai Rp100 ribu,” jelasnya.

Aprilia mengatakan, dirinya mengambil pasokan langsung dari petani lokal di sekitar wilayah Cangkring. Bahkan, ia ikut membantu penyediaan bibit tanaman kepada petani.

“Saya kasih bibit ke petani, nanti saat panen hasilnya dijual ke saya. Jadi sama-sama saling membantu,” katanya.

Skema tersebut membuat petani memiliki kepastian pasar, sementara distributor memperoleh pasokan yang terjamin.

Selain memenuhi kebutuhan MBG, Aprilia juga tetap menyalurkan sayur ke pasar induk Bondowoso guna menjaga kelancaran distribusi dan memperluas pasar.

Ia menilai dampak terbesar program MBG adalah meningkatnya semangat petani untuk kembali menanam.

“Dulu sering sekali sayur tidak laku sampai dibuang. Sekarang hampir semua hasil panen bisa terserap. Harga juga lebih stabil dan cenderung naik,” ungkapnya.

Sebagai distributor, Aprilia juga membina petani agar kualitas hasil panen sesuai standar kebutuhan dapur MBG.

Salah satunya pada budidaya sawi mie, di mana ia menyarankan pola tanam lebih rapi agar ukuran tanaman lebih besar dan masuk kategori kualitas super.

Dari sisi volume distribusi, Aprilia mampu mengirim hingga dua kuintal sayur per hari. Rinciannya antara lain buncis satu kuintal dan labu siam hingga 90 kilogram.

Dalam kondisi sepi, pasokan tetap berada di kisaran 60 kilogram per hari.

Dengan margin keuntungan sekitar Rp500 per kilogram, ia memperkirakan pendapatan kotor mencapai Rp100 ribu per hari.

Dalam satu minggu, pendapatannya bisa mencapai Rp500 ribu atau sekitar Rp2 juta per bulan sebelum dipotong biaya operasional.

Saat ini terdapat sekitar enam petani yang menjadi mitra tetap untuk memenuhi kebutuhan MBG. Mereka menanam edamame, sawi daging, sawi mie hingga timun sesuai permintaan pasar.

Aprilia menegaskan, kehadiran MBG telah memberikan kepastian pasar bagi petani dan distributor.

“Sekarang petani lebih semangat karena hasil panennya jelas ada yang menampung. Jadi semua sama-sama diuntungkan,” pungkasnya.

Secara keseluruhan, pelaksanaan MBG di SPPG Mangli berjalan aman, tertib, lancar, dan tepat sasaran.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow