Dialog Lintas Iman di Jember Teguhkan Pancasila sebagai Rumah Bersama

Jun 11, 2026 - 20:48
Jun 11, 2026 - 23:18
 0
Dialog Lintas Iman di Jember Teguhkan Pancasila sebagai Rumah Bersama
Tokoh agama Buddha, YM Bhante Tejapunno Mahathera, saat memberikan penjelasan dalam acara Dialog Lintas Iman dan Budaya 2026, Kamis 11/6/2026.

JEMBER – Jaringan GUSDURian Jember menggandeng tokoh agama, akademisi, pemerintah, legislatif, mahasiswa, dan komunitas lintas iman dalam Dialog Lintas Iman dan Budaya 2026 yang digelar di Vihara Dhamma Metta Jember, Kamis (11/6/2026).

Mengusung tema "Pancasila sebagai Rumah Bersama: Merawat Kehidupan Beragama dan Berkepercayaan di Tengah Keberagaman Indonesia", kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi untuk memperkuat toleransi, merawat kerukunan, serta meneguhkan komitmen kebangsaan di tengah masyarakat yang majemuk.

Kepala Bidang Ketahanan Ekonomi, Sosial, Budaya, Agama, dan Organisasi Kemasyarakatan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jember, Mega Wulandari, menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan sosial yang harus dijaga bersama.

"Bagi kami, kemajemukan yang dimiliki Jember bukanlah sebuah masalah, melainkan modal sosial terbesar yang harus terus kita rawat bersama," ujarnya.

Mewakili Pemerintah Kabupaten Jember, Mega menegaskan komitmen pemerintah dalam menjamin kehidupan beragama dan berkepercayaan yang harmonis melalui berbagai regulasi yang melindungi hak-hak warga negara secara setara. Menurutnya, negara harus hadir untuk mengayomi seluruh kelompok masyarakat tanpa diskriminasi demi memperkuat integrasi dan menjaga keseimbangan sosial.

Ia juga menyoroti peran strategis Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) sebagai mitra pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial. Kedua forum tersebut dinilai penting sebagai ruang komunikasi, mediasi, sekaligus sarana pencegahan konflik berbasis identitas.

"Sinergi antara FKUB, FPK, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil menjadi kunci utama dalam membangun sistem deteksi dini serta mitigasi konflik berbasis identitas di Kabupaten Jember," katanya.

Selain perwakilan pemerintah, dialog tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, di antaranya tokoh agama Buddha YM Bhante Tejapunno Mahathera, akademisi Universitas Jember Al Khanif, perwakilan komunitas Baha'i Agnes Nora Zahire, serta Sekretaris Komisi D DPRD Jember Indi Naidha. Kegiatan ini dimoderatori oleh Fatia Inast Tsuroya dari GUSDURian Jember.

Dalam forum tersebut, YM Bhante Tejapunno Mahathera mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap perbedaan.

"Dialog ini menjadi sarana penting untuk membangun saling pengertian sekaligus memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman," ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi D DPRD Jember, Indi Naidha, menegaskan bahwa toleransi tidak cukup hanya menjadi wacana, melainkan harus diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.

"Kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan masyarakat sipil menjadi faktor penting dalam menjaga kerukunan serta mencegah munculnya polarisasi di tengah masyarakat," jelas legislator perempuan dari PDI Perjuangan tersebut.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pembahasan, mulai dari hak asasi manusia, kebebasan beragama dan berkepercayaan, perlindungan kelompok minoritas, hingga peran generasi muda dalam memperkuat moderasi beragama.

Antusiasme peserta tampak dalam sesi tanya jawab yang mengangkat berbagai tantangan menjaga kerukunan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang. Forum ini sekaligus menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan rumah bersama yang menaungi seluruh perbedaan dan menjadi fondasi bagi terwujudnya kehidupan yang damai, inklusif, dan saling menghormati di Kabupaten Jember maupun Indonesia. (zan)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow