JMSI Bondowoso Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Peringati HAN 2026, Ajak Anak Bermain Tanpa Gadget

JMSI Bondowoso bersama Dinas Pendidikan, Dinas Sosial P3AKB dan Komisi IV DPRD memperingati Hari Anak Nasional 2026 dengan menghidupkan kembali permainan tradisional. Kegiatan ini menjadi edukasi bagi orang tua untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget sekaligus memperkuat karakter, kreativitas, dan tumbuh kembang anak.

Jul 23, 2026 - 16:47
Jul 23, 2026 - 17:03
 0
JMSI Bondowoso Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Peringati HAN 2026, Ajak Anak Bermain Tanpa Gadget
Perwakilan Bunda PAUD Kabupaten Bondowoso Zakiyatul Fakhiroh As'ad yang juga istri Wakil Bupati Bondowoso saat mencoba permainan anak tradisional engklek sembari memberi contoh anak TK

BONDOWOSO – Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Cabang Bondowoso berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan, Dinas Sosial P3AKB, serta Komisi IV DPRD menggelar peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di TK Negeri Pembina Bondowoso, Kamis (23/7/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Perwakilan Bunda PAUD Kabupaten Bondowoso Zakiyatul Fakhiroh As'ad yang juga istri Wakil Bupati Bondowoso. Turut hadir Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso Kristianto Putro Prasojo bersama sejumlah pemangku kepentingan yang memberikan dukungan terhadap pemenuhan hak anak.

Peringatan HAN 2026 mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan" dengan subtema "Ayo Bermain Tanpa Gadget". Tema ini menjadi ajakan bersama untuk mengembalikan ruang bermain anak melalui aktivitas yang lebih sehat, edukatif, dan sarat nilai kebersamaan.

Suasana halaman TK Negeri Pembina Bondowoso pun berubah menjadi arena permainan tradisional. Gelak tawa anak-anak terdengar saat mereka bergantian memainkan lompat tali, engklek, hingga dakon. Permainan yang sempat tergeser era digital itu kembali menghadirkan kegembiraan sekaligus pembelajaran yang alami.

Ketua JMSI Bondowoso, Bahrullah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap tumbuh kembang anak di tengah derasnya perkembangan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

"Perkembangan teknologi memang tidak bisa kita nafikan. Namun, banyak cara mengasuh anak yang tidak bergantung pada gadget. Sekarang anak menangis sedikit langsung diberikan HP. Padahal, kita bisa mengajak mereka bermain permainan tradisional seperti lompat tali, engklek maupun dakon," ujarnya.

Menurut Bahrullah, media massa juga memiliki tanggung jawab sosial untuk menghadirkan informasi yang tidak hanya faktual, tetapi mampu memberikan edukasi sekaligus membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan anak.

"Kami selaku insan pers berkewajiban menyajikan pemberitaan yang positif, edukatif, dan ramah anak. Kami berharap Hari Anak Nasional menjadi refleksi bagi kita semua sebagai orang tua untuk terus memperbaiki pola pengasuhan anak," katanya.

Keceriaan tampak dari wajah Tiara, siswi TK Alifiyah, yang mengaku sangat menikmati berbagai permainan tradisional bersama teman-temannya. Keseruan itu semakin lengkap setelah dirinya berhasil membawa pulang hadiah.

"Tadi main lompat tali dan dapat hadiah. Senang main sama teman-teman dan dapat hadiah," ucap Tiara penuh semangat.

Hal serupa dirasakan Kamalia, salah seorang wali murid. Menurutnya, kegiatan tersebut membuka wawasan para orang tua mengenai pentingnya membangun kedekatan emosional dengan anak melalui aktivitas sederhana tanpa bergantung pada gawai.

"Banyak sekali ilmu yang didapat. Kita harus lebih dekat dengan anak karena keberadaan orang tua itu sangat dibutuhkan. Daripada anak-anak dibiarkan main gadget, lebih baik kita ajak bermain permainan jadul dan tradisional," tuturnya.

Koordinator Komisi IV DPRD Bondowoso, Sinung Sudrajad, mengapresiasi langkah JMSI Bondowoso yang mengangkat permainan tradisional sebagai ruh utama peringatan Hari Anak Nasional tahun ini.

Menurutnya, permainan tradisional bukan sekadar hiburan, melainkan warisan budaya yang menyimpan filosofi kehidupan dan nilai karakter yang perlu diwariskan kepada generasi muda di tengah derasnya arus digitalisasi.

"Permainan anak-anak tradisional memiliki filosofi yang sangat luar biasa dan sekarang mulai ditinggalkan karena kemajuan teknologi. Kita akui anak-anak sudah bergantung pada HP. Ketika menjadi kebiasaan, itu tidak baik bagi masa depan mereka," ujarnya.

Ia menegaskan, menjaga permainan tradisional sama artinya dengan menjaga sejarah, identitas, sekaligus karakter bangsa yang menjadi fondasi masa depan.

"Selalu ingat sejarah. Kita tidak bisa meninggalkan sejarah karena sejarah adalah akar terbentuknya masa depan yang lebih baik," tegasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso, Taufan Restuanto, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu ikhtiar bersama untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap penggunaan gawai sejak usia dini.

Menurut Taufan, anak-anak membutuhkan ruang bermain yang sehat, menyenangkan, sekaligus mampu merangsang perkembangan fisik, sosial, emosional, dan kemampuan berpikir mereka secara alami.

"Kami ingin anak-anak merasa senang. Sesuai nama kelompok bermainnya, I Am Happy. Anak-anak harus bahagia saat belajar dan bermain," ujarnya.

Ia menjelaskan, berbagai permainan tradisional memiliki nilai edukatif tinggi karena mampu melatih motorik kasar, motorik halus, kemampuan kinestetik, konsentrasi, hingga keterampilan bersosialisasi anak.

Salah satu permainan yang dikenalkan adalah dakon. Menurut Taufan, permainan tersebut menjadi media belajar berhitung yang menyenangkan tanpa membuat anak merasa sedang mengikuti proses pembelajaran formal.

"Ketika anak bermain dakon, mereka sebenarnya belajar menghitung satu, dua, tiga dan seterusnya tanpa mereka sadari. Inilah bentuk pembelajaran yang menyenangkan," katanya.

Permainan engklek juga dinilai efektif melatih keseimbangan tubuh, koordinasi gerak, keberanian, sekaligus membangun rasa percaya diri anak melalui aktivitas fisik yang menyenangkan.

"Kalau kita hanya menyuruh anak berdiri dengan satu kaki, mungkin mereka cepat bosan. Tetapi ketika mereka bermain engklek, mereka belajar menjaga keseimbangan secara alami sambil menikmati permainan," jelasnya.

Menurut Taufan, metode pembelajaran melalui permainan tradisional jauh lebih mudah dipahami dan diingat anak karena mereka memperoleh pengalaman belajar secara langsung tanpa tekanan.

Ia menilai masih banyak permainan tradisional Indonesia yang layak dikembangkan sebagai media pembelajaran baik di lingkungan sekolah maupun keluarga sehingga pelestariannya perlu terus didorong bersama.

Dalam kesempatan tersebut, Taufan juga menyampaikan apresiasi kepada JMSI Bondowoso yang telah menggagas kegiatan edukatif dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada JMSI yang telah menginisiasi kegiatan ini. Mari kita terus mengajak anak-anak memainkan permainan tradisional karena manfaatnya sangat besar bagi tumbuh kembang mereka," ungkapnya.

Selain mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget, Taufan mengingatkan pentingnya peran media dalam memberikan perlindungan kepada anak melalui pemberitaan yang ramah dan berpihak pada kepentingan terbaik anak.

Menurutnya, media memiliki tanggung jawab moral untuk mematuhi kaidah pemberitaan anak dengan menjaga identitas serta kondisi psikologis mereka agar proses tumbuh kembang tidak terganggu.

"Mari kita ikuti aturan tentang pemberitaan anak-anak. Identitas mereka harus dilindungi dan psikologisnya harus kita jaga agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik," pungkasnya.

Sementara itu, Perwakilan Bunda PAUD Kabupaten Bondowoso, Zakiyatul Fakhiroh As'ad, berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai upaya menghadirkan ruang bermain yang sehat sekaligus mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

"Alhamdulillah kegiatan hari ini berjalan dengan lancar. Harapan ke depan semoga anak didik kita dapat tumbuh sesuai dengan cita-cita yang mereka impikan," katanya.

Di tengah semakin tingginya intensitas penggunaan gadget pada anak, peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Bondowoso menjadi pengingat bahwa permainan tradisional bukan sekadar nostalgia. Di dalamnya tersimpan nilai kebersamaan, sportivitas, kreativitas, hingga pendidikan karakter yang tetap relevan untuk membentuk generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berakhlak.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow